Semeru Erupsi: Muncul Korban Jiwa karena Tidak Ada Sistem Peringatan Dini

Siswanto, BBC

Selasa, 07 Desember 2021 | 11:03 WIB
Semeru Erupsi: Muncul Korban Jiwa karena Tidak Ada Sistem Peringatan Dini
BBC

Suara.com - Sistem peringatan dini yang tidak sampai ke masyarakat dan tata ruang pemukiman yang berada di wilayah rawan bencana disebut pakar vulkanologi menjadi beberapa faktor yang menyebabkan munculnya korban jiwa dalam erupsi Gunung Semeru, Sabtu (04/12) lalu.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (06/12) pukul 20.15 WIB, setidaknya 22 orang tewas, sementara 22 orang dinyatakan hilang dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Erupsi juga berdampak terhadap 5.205 jiwa.

Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa tak ada peringatan dini.

Di lapangan, sejumlah warga mengaku tidak mendapatkan peringatan dini terkait prediksi munculnya erupsi.

Namun, Kepala PVMBG Andiani menyebut telah memberikan peringatan dini ke pemerintah daerah, tokoh masyarakat setempat, dan pihak terkait lainnya untuk mengantisipasi awan panas guguran.

Baca juga:

Indonesia memiliki 127 gunung aktif, terbanyak di dunia dan menduduki peringkat pertama dengan jumlah korban jiwa.

Dari jumlah tersebut, 69 gunung api aktif dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menurut situs Kementerian Energi dan Sumber daya mineral, ESDM.

'Tidak ada peringatan dini'

Siang itu, Sabtu (06/12), Ponidi tengan beristirahat di rumahnya. Tiba-tiba, ia mendengar suara teriakan dari luar.

baca juga

Saat melihat ke luar rumah, kepulan asap hitam dan pekat menutupi jalan depan rumahnya.

"Saya lalu ambil barang, pegang istri dan senter ke luar rumah, jalan pelan menuju masjid yang lampunya masih menyala. Di sini, orang-orang histeris, ada yang berdoa," kata Ponidi menceritakan kepada wartawan Efendi Murdiono yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, di Dusun Kajar Kuning, Lumajang, Senin (06/12).

Ponidi melanjutkan, di saat kondisi sedikit terang, ia dan warga lain memutuskan berjalan pelan hingga akhirnya bertemu dengan mobil evakuasi.

Ia mengungkapkan rasa kecewanya karena tidak mendapatkan informasi peringatan dini terkait dengan potensi munculnya awan panas guguran.

"Tidak ada pemberitahuan akan seperti ini. Kalau diberi tahu sebelumnya, mungkin tidak sampai ada korban [meninggal], kami pasti antisipasi, sudah mengungsi duluan," ujar Ponidi.

Ponidi menambahkan, sistem evakuasi jika terjadi bencana juga tidak berfungsi dengan baik.

Ia mencontohkan, titik kumpul evakuasi di Kajar Kuning berada di depan SDN 2 Sumber Wuluh, dan di sebuah lapangan di Dusun Curah Kobokan. "Di atas tempat itu malahan awan tebal melewati," katanya.

Warganet juga mempertanyakan apakah sistem peringatan dini berfungsi sebelum kejadian.

Akun Twitter, @farhandalimunte menulis, "Turut berduka cita atas bencana erupsi gunung semeru. Semoga tidak ada korban jiwa & negara bertanggungjawab atas warga yg menjadi korban luka. Mereka menjadi korban karena tak adanya peringatan dini."

Sementara akun lain juga mengungkapkan kekecewaannya.

https://twitter.com/bachrum_achmadi/status/1467501376523542530

Vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan terdapat dua jenis sistem peringatan dini, yaitu cara modern melalui instrumen yang dilakukan PVMGB seperti mengamati kegempaan, perubahan temperatur, deformasi, volume gas dan lainnya.

Kemudian, cara konvensional dengan merasakan kegempaan, perilaku hewan, mata air kering dan lainnya.

"Sistem peringatan dini sekarang, meskipun dengan segala kekurangan yang perlu diperbaiki, harus memastikan tiga poin," katanya.

Pertama, informasi sampai ke masyarakat Semeru yang tidak semuanya memiliki jaringan internet dalam mendapatkan informasi.

Kedua, mengedukasi masyarakat tentang arti peringatan dini dan proses dalam melakukan evakuasi.

Terakhir, berkaca dari letusan Merapi 2010, yaitu merangkul kepala desa atau juru kunci yang memiliki kekuatan untuk memobilisiasi warga untuk mengungsi.

Aktivitas Semeru selalu diinformasikan

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan, peringatan dini sudah dilakukan sebelumnya.

"Kemudian pertanyannya kenapa masih ada korban? Ini yang juga menjadi PR teman-teman Pemda, karena sebetulnya sudah ada WA [Whatsapp] grup antara para pengamat kami [PVMBG] dengan teman-teman di daerah terkait masalah aktivitas Semeru ini," kata Andiani.

Melalui akun Twitternya, PVMBG menjelaskan, pada 2 Desember lalu, Pengamat Gunung Api (PGA) Semeru sudah mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar Besuk Kobokan, Besuk Kembar, Besuk Bang, dan Besuk Sarat untuk mengantisipasi kejadian awan panas guguran.

https://twitter.com/PVMBG_/status/1467360710870986755

Sekretaris Badan Geologi Ediar Usman menambahkan, seluruh informasi telah disampaikan ke masyarakat.

"Memang kejadiannya begitu cepat dari hal-hal yang kita duga sebelumnya. Saya kira ini juga akan menjadi antisipasi ke depan," ujarnya.

"Tadi Ibu Wakil Bupati [Lumajang] menyampaikan akan melakukan pengosongan sama sekali, bahkan mau buat papan nama bahwa ini wilayah kawasan bahaya yang tidak boleh sama sekali menetap untuk jangka waktu lama.

"Kemudian juga mungkin digunakan alat-alat lain untuk mengingatkan, tadi Ibu Kepala BMKG mengusulkan kalau bisa ada sirene. Ini usulan-usulan yang bisa dipertimbangkan oleh pemda," kata Ediar Usman.

Bencana diawali oleh kesalahan tata ruang

Vulkanolog Surono mengatakan, bencana alam yang menimbulkan korban jiwa dan berulang kali terjadi di Semeru dan wilayah rawan lainnya di Indonesia dipicu oleh pengelolaan tata ruang yang salah.

Ia mengatakan, saat ini banyak pembangunan tata ruang tidak berbasis dengan peta rawan bencana.

"Ilustrasinya, Anda berdiri di tengah jalan tol, tempat mobil kecepatan tinggi, lalu Anda minta peringatan dari pengelola tol, ada mobil tidak di belakang saya. Kan bukan salah mobilnya, tapi Anda berdiri di mana," kata Surono.

Merujuk yang terjadi di Semeru, Surono mengatakan, pemukiman yang terdampak berada di jalur awan panas guguran.

"Daerah-daerah terdampak sekarang akan terkena lagi di kemudian hari? Sudah pasti, tapi tidak bisa dipastikan kapan dan seberapa besar kenanya. Karena wilayah itu ada di perlintasan awan panas guguran."

"Jadi prosesnya, diawali dari peta potensi bencana, diatur tata ruangnya, lalu dipantau aktivitasnya, bukan semata sistem peringatan dini," katanya.

Indonesia memiliki jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia sebanyak 127 gunung, dan menduduki peringkat pertama dengan jumlah korban jiwa.

Dari total gunung api tersebut, 76 gunung bertipe A, termasuk Semeru, yaitu gunung yang memiliki catatan sejarah letusan sejak tahun 1600.

Kemudian terdapat 30 gunung bertipe B dan 20 gunung bertipe C. Dari total tersebut, hanya 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG.

Berdasarkan data MAGMA Indonesia, aplikasi PVMBG, Indonesia memiliki setidaknya 66 peta kawasan rawan bencana (KRB) gunung api, seperti Gunung Agung (Bali), Anak Krakatau (Banten), Awu (Sulawesi Utara) hingga Ebulobo (NTT).

Awan panas guguran, mengapa kejadian 2021 berbeda?

Bagaimana awan panas guguran Semeru muncul? Surono menjelaskan, magma keluar dari puncak gunung membentuk tumpukan lava yang mendingin, dan mengeras.

Kemudian, tumpukan itu membesar dan membuatnya semakin labil, ditambah curah hujan yang tinggi, sehingga menyebabkan longsoran.

"Kejadian ini melahirkan awan panas guguran, yang kemudian mengalir melalui kawah Semeru seperti mengarah ke Besuk Kobokan. Kalau jumlahnya kecil akan tertampung, tapi kalau besar maka akan ke mana-mana," ujarnya.

Vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman mengatakan erupsi tahun ini berbeda dari sebelumnya karena di puncak Semeru masih ada sisa abu vulkanik tahun 2020.

"Maka letusannya bisa tertahan karena ada tekanan yang ditutup ketika hujan di puncak. Masyarakat di bawah tidak tahu dan terus beraktivitas, padahal di atas sedang dibuka tutupnya. Kemudian letusan terjadi," kata Mirzam.

Pola ini menyebabkan sistem peringatan dini tidak cukup mendeteksi potensi datangnya bencana.

"Contoh, katanya tidak merasakan gempa, jadi terekam sedikit di sesmograf, masyarakat lagi aktivitas tidak bisa merasakan. Beda dengan 2020 yang cukup besar," katanya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (06/12) pukul 20.15 WIB, setidaknya 22 orang tewas, 22 orang masih dinyatakan hilang dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Erupsi juga berdampak terhadap 5.205 jiwa.

BNPB mencatat sebanyak 2.004 warga berada di 19 titik pengungsian yang tersebar di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Pronojiwo, Candipuro dan Pasirian.

""Posko masih terus melakukan pemutakhiran terhadap dampak kerugian material, dengan data sementara rumah terdampak 2.970 unit, fasilitas pendidikan 38 unit dan jembatan (Jembatan Gladak Perak) putus 1 unit," tulis keterangan BNPB.

Selain itu, prakiraan cuaca untuk tujuh hari ke depan di kawasan Gunung Semeru berada dalam intensitas ringan hingga sedang.

"Kami imbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan," kata Kepala Balai BMKG Wilayah lll Bali NTT Jawa Timur dan sebagian Kalimantan Agus Wahyu di Posko BMKG di lapangan Desa Sumberwuluh, Lumajang.

Agus menambahkan, hujan dapat memicu terjadinya endapan lumpur yang membahayakan keselamatan masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru

Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru

Foto | Senin, 20 April 2026 | 19:19 WIB

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 600 Meter

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 600 Meter

Foto | Rabu, 25 Februari 2026 | 20:07 WIB

Semeru Erupsi Dini Hari, Kolom Abu Capai 700 Meter di Atas Puncak

Semeru Erupsi Dini Hari, Kolom Abu Capai 700 Meter di Atas Puncak

News | Selasa, 03 Februari 2026 | 08:24 WIB

Gunung Semeru Masih Keluarkan Lava Pijar, Aktivitas Vulkanik Meningkat

Gunung Semeru Masih Keluarkan Lava Pijar, Aktivitas Vulkanik Meningkat

Foto | Selasa, 25 November 2025 | 19:00 WIB

Lumajang Tetapkan Status Darurat Bencana Usai Erupsi Gunung Semeru

Lumajang Tetapkan Status Darurat Bencana Usai Erupsi Gunung Semeru

Foto | Jum'at, 21 November 2025 | 08:58 WIB

Gunung Semeru Erupsi, Gimana Nasib Jadwal Penerbangan?

Gunung Semeru Erupsi, Gimana Nasib Jadwal Penerbangan?

Bisnis | Kamis, 20 November 2025 | 16:48 WIB

Video Letusan Dahsyat Gunung Semeru, Erupsi dan Muntahkan Awan Panas

Video Letusan Dahsyat Gunung Semeru, Erupsi dan Muntahkan Awan Panas

Video | Kamis, 20 November 2025 | 14:33 WIB

Semeru 'Batuk' Keras, Detik-detik Basarnas Kawal 187 Pendaki Turun dari Zona Bahaya

Semeru 'Batuk' Keras, Detik-detik Basarnas Kawal 187 Pendaki Turun dari Zona Bahaya

News | Kamis, 20 November 2025 | 14:01 WIB

Erupsi, Gunung Semeru Ditetapkan Berstatus Awas

Erupsi, Gunung Semeru Ditetapkan Berstatus Awas

Foto | Kamis, 20 November 2025 | 06:30 WIB

Bencana Lahar Hujan Semeru, 300 KK Terisolasi dan Akses Jalan Terputus

Bencana Lahar Hujan Semeru, 300 KK Terisolasi dan Akses Jalan Terputus

Foto | Kamis, 06 November 2025 | 08:00 WIB

Terkini

Diduga Intimidasi Dokter hingga Meninggal, Legislator PKB Terancam Sanksi Berat

Diduga Intimidasi Dokter hingga Meninggal, Legislator PKB Terancam Sanksi Berat

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 11:31 WIB

Fakta-fakta Kematian 5 SPPI Calon Manajer Koperasi saat Jalani Latihan Militer

Fakta-fakta Kematian 5 SPPI Calon Manajer Koperasi saat Jalani Latihan Militer

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 11:14 WIB

Awas Kena Derek! Dishub DKI Mulai Rutin Razia Parkir Liar di Senopati dan Gunawarman Tiap Weekend

Awas Kena Derek! Dishub DKI Mulai Rutin Razia Parkir Liar di Senopati dan Gunawarman Tiap Weekend

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 11:06 WIB

Aktivasi di CFD FX Sudirman, Mozy Ajak Masyarakat Kenali Layanan Perjalanan Digital

Aktivasi di CFD FX Sudirman, Mozy Ajak Masyarakat Kenali Layanan Perjalanan Digital

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 10:57 WIB

Ironi Ganja Medis, Saat KUHP Baru 'Keok' Lawan UU Narkotika yang Usang

Ironi Ganja Medis, Saat KUHP Baru 'Keok' Lawan UU Narkotika yang Usang

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 10:56 WIB

HBL Mantiri Ajak Purnawirawan TNI AD Terus Kompak Jaga Soliditas dan Perkuat Persatuan

HBL Mantiri Ajak Purnawirawan TNI AD Terus Kompak Jaga Soliditas dan Perkuat Persatuan

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 10:48 WIB

Ketua BPP PPAD HBL Mantiri: Purnawirawan Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Ketua BPP PPAD HBL Mantiri: Purnawirawan Harus Jadi Perekat Persatuan Bangsa

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 09:56 WIB

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:33 WIB

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:28 WIB

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:24 WIB

×