Wanita ini sendiri ogah naik mobil Satpol PP dan akhirnya diantar bapak dengan motor. Ia begitu syok saat datang ke Hotel Asrama Haji tempat dirinya diminta karantina. Bagaimana tidak, tempat itu sangat tidak terawat.

Ia mengakui mencium bau kotor dan lembab sepanjang lorong menuju kamarnya. Pemandangan di kamar juga tidak kalah menjijikan, karena banyak noda cokelat dan bau tidak sedap. Wanita ini pun menyebut dirinya bisa terkena penyakit lain.
"Aku dianter bapak aja naik motor ke HAH. Sampai sana, dianter ke kamar. Pas otw ke kamar, pemandangan kayak gini. Bau tikus dan lembap, atap bocor di mana-mana. Sampai kamar lebih shock lagi. Isinya kayak gini, kulkas ada tapi mati. Kloset ada noda coklat-coklat jijik dan bau banget."
"Terus anehnya, kalau karantina dipaksa di fasilitas pemerintah kan berarti karena fasilitas kita gak mumpuni ya. Lha kok malah tambah kayak gini? Ini mah negatif covid terus positive herpes sama pes gimana. Juorok buangeeeeet, sampah diambil 1 kali sehari padahal isinya makanan. Bau kan."

Tak sampai di situ, wanita ini mengeluh tidak ada tenaga kesehatan yang berjaga di tempat karantina tersebut. Belum banyak orang tua yang di karantina harus menggunakan tanggan darurat karena lift tidak berfungsi.
"Dan juga gak ada nakes ready disini standby. Sempet ada yang keluhan di salah satu kamar. Di WA jam berapa, baru ditangani jam berapa. Gila padahal kan harusnya fasilitas lebih ready, kita dipaksa kesini."
"Oh ya penting juga nih. Kan semua di karantina tanpa pandang bulu ya di sini. Termasuk orang tua-tua yang sepuh banget dan pakai alat bantu jalan. Tapi liftnya rusak dong udah lama banget. Apa tega ya petugasnya ngelihat orang tua-tua naik turun tangga. Gak ada perbaikan-perbaikan, gak tahu kenapa."
Semakin mengesalkan, makanan tidak diantar di depan kamar melainkan pasien harus mengambil sendiri di lobby. Terlihat, mereka mengantre untuk mendapatkan makanan dan harus naik turun tangga beberapa kali sehari.
"Makanan ambil kebawah 3 kali sehari diantar pake tosa gini di lobby. Jadi dalam sehari bisa naik turun tangga tu bisa 5 sampai 6 kali lebih. Kepikiran sih sama yang tua-tua dan lutut atau kaki nya bermasalah."
"Kalau antrian kesehatan dan PCR juga gak menentu. Tiba-tiba dikasih list sapa aja yang harus turun untuk cek kesehatan. Kalau listnya banyak ya ruamee antri halangin jalan dan malah bergerumbul. Kacau."

Wanita ini pun heran mengapa dirinya dipaksa karantina di fasilitas yang tidak higienis dan menyusahkan. Apalagi, setiap hari dirinya harus mencium bau sampah.
"Tapi balik lagi concern utamanya, fasilitas gak jelas gini kenapa dipaksain? Joroknya itu lho. Sampai aku dah biasa ngebau sampah ama bau-bau tikus gitu. Dipel sih tapi ya cuma sehari sekali. Gak tau pakai apa. Kotor gini kan bikin gak nyaman, mending di rumah aja isoman."
"Padahal dah jelas juga kalau gak ada gejala boleh isoman. Sekarang mati gaya di sini, tempat asing dan kemproh. Kalau mau maksa karantina di sini, mbok yo yang genah dan bersih dong fasilitasnya. Gak yang kayak rumah terbengkalai gini."
Video yang mungkin Anda lewatkan: