Mengungsi karena Perang, Nestapa Warga Nduga Papua 4 Tahun Merayakan Natal dalam Duka

Reza Gunadha | Suara.com

Kamis, 03 Februari 2022 | 14:27 WIB
Mengungsi karena Perang, Nestapa Warga Nduga Papua 4 Tahun Merayakan Natal dalam Duka
[Suara.com/Ema Rohimah]

Saya begitu benci Desember.

Desember adalah bulan yang berjejal nestapa. Empat tahun lalu, saya dan berpuluh-puluh ribu orang Papua lain terpaksa angkat kaki dari desa untuk mencari keselamatan. Desa kami mulanya adalah tempat yang damai dan indah. Tapi kini wajahnya telah remuk diterpa perang. Kami tidak begitu mengenalnya setelah Nduga berubah menjadi medan perang.

Kenangan pahit pada menjelang pergantian tahun bukan hanya itu saja. Dua tahun lalu, adik dan bapa tua (paman) saya, tewas diterjang pelor yang meluncur dari bedil, diduga tentara pelakunya. Tiap akhir tahun, ingatan saya akan kembali mengenang salah satu peristiwa terpahit itu.

Seandainya saya tidak memberi izin. Seandainya saya tahu siapa yang menembaknya!

Pertanyaan itu terus berkelebat di pikiran. Sampai hari ini, saya tidak pernah tahu persis siapa yang menarik pelatuk dan merenggut paksa nyawa adik dan bapa tua.

Sayang, sayang. Ade sayang e, bapa sayang. 

Waktu itu, mereka kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang berharga yang tersisa. Surat-surat penting, atau sedikit perkakas lain yang mungkin akan berguna hidup di pengungsian. Mereka tidak punya senjata. Hanya sebilah pedang untuk membabat rumput-rumput liar, serta noken berisi sedikit bekal makanan untuk perjalanan. Tetapi tentara bilang mereka membawa senjata. Mereka dituding sebagai bagian dari kelompok separatis. Tuduhan tanpa bukti yang masih mengambang hingga sekarang.

Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Saya semakin larut dalam kekecewaan sebab tidak bisa menguburkan mereka dengan layak. Bayang-bayang peluru yang bisa menembus tubuh kapan saja, memerangkap saya di dalam ketakutan. Jenazah adik ditemukan tergeletak di antara rerumputan pekarangan kami selama berhari-hari.

Kami dibiarkan saja mati seperti binatang

Saya ingat dulu saya dan adik bermain bersama, membuat gaduh kampung dengan gelak tawa sampai diperingatkan mama tawa kami bisa saja mengganggu seisi desa. Kami bermain di pekarangan yang sama, di bawah langit yang tampak cerah dan pendar matahari menimpa kulit kami berdua. Hidup begitu berbahagia: kami kerap menertawakan banyak hal, dan berbagi kesedihan tentang hal-hal yang sama. Belakangan, pekarangan itu tak lagi mengingatkan pada peristiwa-peristiwa bahagia milik kami berdua. Tetapi kepada kematian, dan kekecewaan yang terus berkelindan berbuntut penyesalan.

Hari itu pukul 12 siang, tetapi pendar matahari sama sekali tak mampu menerobos mendung tebal yang bergelayut di atas sana. Saya menunjuk ke arah langit dan berkata kepada reporter yang hari itu bertemu kami:

“Seperti itulah, adek, nasib kami, para pengungsi. Mendung setiap hari. Belum ada terang sampai kapan kita akan terus menumpang di sini.”

Pendeta Kones, yang baru tiga hari pulang dari Nduga bercerita bahwa jika saya berkunjung ke sana, barangkali tak akan lagi mengenali kota itu. Empat tahun ditinggalkan oleh penduduknya, kini Nduga tampak kembali sebagai belantara; rerumputan liar tumbuh setinggi orang dewasa dan pohon-pohon tampak semakin besar menutup seisi kota. Kebun-kebun, rumah, dan jalanan berbatu yang biasa kami lintasi sehari-hari tak lagi tampak.

Pendeta Kones mempertaruhkan nasib untuk kembali ke Nduga dengan memikul harapan. Ia berharap bisa bernegosiasi untuk menghentikan perang, dan bisa kembali membawa warga yang kini mengungsi di kampung Sekom, distrik Muliama untuk kembali ke rumah mereka. Tetapi perundingan tersebut nihil.

Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]
Pengungsi Nduga yang sudah 9 bulan terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan, tanpa bantuan pemerintah. [dokumentasi]

Mereka bilang pada pendeta Kones “Jika terus datang ke sini, kami tak bisa jamin keselamatan bapa. Ini adalah ladang perang. Jangan dulu bawa masyarakat ke sini. Bawa pulang ketika kita su selesai begitu.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Seragam Ditemukan di Semak-semak, Prajurit TNI di Papua yang Kabur Bawa Senpi Masih Dicari

Seragam Ditemukan di Semak-semak, Prajurit TNI di Papua yang Kabur Bawa Senpi Masih Dicari

News | Senin, 20 Desember 2021 | 12:54 WIB

Oknum ASN Perkosa 3 Anak , Identitas Korban Disebar Media Tribata News Setempat

Oknum ASN Perkosa 3 Anak , Identitas Korban Disebar Media Tribata News Setempat

Bekaci | Minggu, 10 Oktober 2021 | 07:41 WIB

Nama Sufyan Arsyad Beredar di Sosial Media, Disebut Pemerkosa 3 Anak

Nama Sufyan Arsyad Beredar di Sosial Media, Disebut Pemerkosa 3 Anak

Bekaci | Minggu, 10 Oktober 2021 | 07:05 WIB

Buzzer Klaim Kasus Tiga Anak Saya Diperkosa 'Pesanan' untuk Jatuhkan Polri, Publik Murka

Buzzer Klaim Kasus Tiga Anak Saya Diperkosa 'Pesanan' untuk Jatuhkan Polri, Publik Murka

News | Jum'at, 08 Oktober 2021 | 16:42 WIB

Kasus ASN Perkosa 3 Anak, Selain Ayahnya, Ada Pelaku Lain Ikut Terlibat

Kasus ASN Perkosa 3 Anak, Selain Ayahnya, Ada Pelaku Lain Ikut Terlibat

Bekaci | Jum'at, 08 Oktober 2021 | 13:48 WIB

Polisi Cap Hoaks Artikel Project Multatuli, KKJ: Bentuk Pelecehan Terhadap Pers!

Polisi Cap Hoaks Artikel Project Multatuli, KKJ: Bentuk Pelecehan Terhadap Pers!

News | Jum'at, 08 Oktober 2021 | 12:45 WIB

Tagar PercumaLaporPolisi Muncul, DPR RI Minta Buka dan Usut Kasus Pekosaan 3 Anak Kembali

Tagar PercumaLaporPolisi Muncul, DPR RI Minta Buka dan Usut Kasus Pekosaan 3 Anak Kembali

Bekaci | Jum'at, 08 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Terkini

Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran

Analis Politik Senior Bongkar Makna di Balik Blusukan Wapres Gibran

News | Kamis, 30 April 2026 | 22:33 WIB

Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!

Sukabumi Jadi Markas "Cinta Palsu" Antarnegara: 16 WNA Spesialis Love Scamming Digulung Imigrasi!

News | Kamis, 30 April 2026 | 22:25 WIB

Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal

Wakil Ketua Komisi VIII Abidin Fikri Buka Suara Penangkapan 3 WNI Terkait Haji Ilegal

News | Kamis, 30 April 2026 | 22:24 WIB

Besok Perisai Geruduk DPR Bawa 15 Tuntutan May Day: Dari Upah hingga Agraria!

Besok Perisai Geruduk DPR Bawa 15 Tuntutan May Day: Dari Upah hingga Agraria!

News | Kamis, 30 April 2026 | 22:00 WIB

Amnesty International Ungkap Tiga Faktor Penyebab Impunitas Militer di Indonesia

Amnesty International Ungkap Tiga Faktor Penyebab Impunitas Militer di Indonesia

News | Kamis, 30 April 2026 | 21:45 WIB

Main Mata Proyek Jalur Kereta: KPK Bongkar Skenario 'Plotting' Bupati Pati Sudewo di Balai Ngrombo

Main Mata Proyek Jalur Kereta: KPK Bongkar Skenario 'Plotting' Bupati Pati Sudewo di Balai Ngrombo

News | Kamis, 30 April 2026 | 21:35 WIB

Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya

Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya

News | Kamis, 30 April 2026 | 21:31 WIB

Ketum Posyandu Tekankan Pentingnya Mendidik Generasi Emas 2045

Ketum Posyandu Tekankan Pentingnya Mendidik Generasi Emas 2045

News | Kamis, 30 April 2026 | 21:19 WIB

Tri Tito Karnavian Tekankan Implementasi 6 SPM di Peringatan Hari Posyandu Nasional

Tri Tito Karnavian Tekankan Implementasi 6 SPM di Peringatan Hari Posyandu Nasional

News | Kamis, 30 April 2026 | 21:13 WIB

Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!

Jadi Pemicu Kecelakaan Maut KRL: Sopir Taksi Green SM Baru Kerja 3 Hari dan Cuma Dilatih Sehari!

News | Kamis, 30 April 2026 | 20:56 WIB