Barisan Mahasiswi Muslim India: Saya Hanya Ingin Belajar

Siswanto | Deutsche Welle | Suara.com

Jum'at, 11 Februari 2022 | 15:13 WIB
Barisan Mahasiswi Muslim India: Saya Hanya Ingin Belajar
DW

Suara.com - Muskan Khan, mahasiswa di Karnataka, India, mengatakan dia tidak takut dengan aktivis sayap kanan Hindu yang ingin berlakukan larangan menggunakan cadar di lembaga pendidikan. Polemik ini meluas ke seluruh negeri.

Protes besar-besaran terjadi di seluruh negara bagian Karnataka, menyusul keputusan pemerintah untuk melarang penggunaan cadar dan jilbab di sekolah dan perguruan tinggi.

Setelah enam mahasiswa dilarang memasuki sebuah perguruan tinggi di distrik Udupi pesisir Karnataka karena mengenakan jilbab pada 1 Januari lalu, perdebatan tentang hak-hak perempuan muslim, pluralisme, dan sekularisme menjadi topik hangat di seluruh negeri.

Di tengah meningkatnya ketegangan komunal dan kekerasan sporadis, pihak berwenang telah menutup semua sekolah menengah dan perguruan tinggi di negara bagian selatan selama tiga hari.

Negara bagian Karnataka diperintah oleh Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, yang oleh banyak warga muslim dituduh menyimpang dari ideologi sekuler negara itu.

Pengadilan Tinggi negara bagian sedang mendengarkan dua petisi tentang masalah ini dan segera memutuskan apakah akan mempertahankan larangan itu atau membatalkannya.

Salah satu petisi berpendapat bahwa mengenakan cadar dan jilbab adalah hak dasar warga negara untuk memilih pakaian yang dijamin oleh konstitusi negara.

Sementara petisi lainnya menentang legalitas keputusan pemerintah untuk memberlakukan aturan berpakaian di lembaga pendidikan.

DW menghubungi beberapa pejabat partai yang berkuasa, tetapi mereka tidak ingin berkomentar karena masalah tersebut saat ini sedang diproses di pengadilan.

Sejumlah partai oposisi di Parlemen Nasional memberikan dukungan untuk barisan mahasiswi muslim dengan melakukan walk out.

Menteri Urusan Parlemen Pralhad Joshi, anggota parlemen dari Karnataka, mengatakan kepada wartawan bahwa "semua siswa harus mengikuti aturan berpakaian yang ditentukan oleh sekolah dan administrasi mereka."

"Pahlawan" yang tidak disukai

Isu itu semakin hangat ketika satu video mahasiswi viral di media sosial. Video itu menunjukkan Muskan Khan, seorang mahasiswi tahun kedua dari Mandya College, dicemooh oleh aktivis sayap kanan Hindu.

Mereka konon mendukung aturan berpakaian di kampus. Khan, seorang gadis muslim yang mengenakan cadar, menghadapi mereka dan berteriak "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar dalam bahasa Arab).

Dia menolak untuk melepas cadarnya. Khan sekarang dipuji oleh banyak muslim India sebagai "pahlawan" yang membela hak-hak minoritas.

"Mereka tidak mengizinkan saya masuk perguruan tinggi karena saya mengenakan cadar. Mereka mulai meneriakkan Jai Shri Rama (Salam Tuhan Rama), jadi saya mulai meneriakkan Allahu Akbar," kata Muskan kepada DW melalui telepon dari Mandya.

"Yang ingin saya lakukan hanyalah belajar, dan orang-orang ini menghentikan kami. Namun, saya tidak takut," tambahnya.

Objektifikasi perempuan

Sejumlah pihak yang mendukung larangan bercadar, berpendapat bahwa itu adalah hak otoritas perguruan tinggi untuk memutuskan jenis pakaian apa yang boleh dikenakan oleh para siswa.

Namun, bagi banyak pelajar muslim dan bagian sekuler India, menentangnya dengan mengatakan bahwa itu adalah hak dasar setiap individu untuk menjalankan keyakinan agama.

"Jilbab adalah bagian dari identitas budaya dan agama wanita muslim. Ini seperti mangalsutra (kalung) untuk Hindu, salib untuk Kristen, dan sorban untuk Sikh," kata TN Prathapan, seorang anggota parlemen dari partai oposisi Kongres, kepada DW.

Prathapan mengatakan hak konstitusional semua warga negara harus dilindungi. Sementara itu, peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai meminta pihak berwenang India mengambil langkah-langkah untuk "menghentikan marginalisasi perempuan muslim."

"Menolak membiarkan anak perempuan pergi ke sekolah dengan hijab mereka sangat mengerikan.

Objektifikasi terhadap perempuan tetap ada, karena persoalan pakaian," bunyi cuitan Yousafzai di Twitter.

Permainan politik Beberapa ahli mengatakan BJP sengaja memicu masalah ini untuk keuntungan politik.

"Ingin memakan apa dan memakai pakaian apa adalah hak fundamental. BJP mencoba memaksakan pilihannya pada rakyat. Ini tidak lain adalah politik mayoritas yang dimainkan," kata Nawab Malik dari Partai Kongres Nasionalis, kepada DW.

Para aktivis mengatakan serangan terhadap muslim, yang berjumlah sekitar 200 juta dari 1,4 miliar penduduk India, telah meningkat sejak Modi mengambil alih kekuasaan pada 2014.

Ketegangan komunal juga meningkat di Karnataka, negara bagian yang diperintah oleh BJP.

Menurut Forum Kerukunan Masyarakat Karnataka, distrik pesisir negara bagian itu menyaksikan lebih dari 120 insiden komunal pada tahun lalu, jumlah tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Baru-baru ini laporan bersama yang diinisiasi United Christians Forum, Association for Protection of Civil Rights dan United Against Hate, mengungkapkan ada 305 insiden kekerasan terhadap orang Kristen terjadi secara nasional dalam sembilan bulan pertama tahun 2021, termasuk 32 insiden di Karnataka.

Cynthia Stephen, peneliti kebijakan sosial di Karnataka, mengatakan BJP "bisa saja menyelesaikan masalah ini sejak awal" jauh lebih awal.

Kavita Krishnan, dari Asosiasi Progresif Wanita Seluruh India, mengatakan kepada DW bahwa masalah jilbab dengan mudah digunakan sebagai pembenaran untuk serangan massa terhadap muslim.

"Hijab hanyalah dalih terbaru untuk menargetkan wanita muslim. Itu terjadi setelah supremasi Hindu mengadakan lelang online wanita muslim dan membuat pidato menyerukan perbudakan seksual dan alat reproduksi mereka," kata Krishnan. (bh/ha)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar

Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:43 WIB

Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM

Masih Harus Uji Coba, Status Bahan Bakar Bobibos Tunggu Kepastian Kategori BBN atau BBM

Bisnis | Sabtu, 25 April 2026 | 11:36 WIB

Kisah Ibu Guru Atun: Dibully Murid, Dikasih Dedi Mulyadi Rp25 Juta, Lalu Disedekahkan

Kisah Ibu Guru Atun: Dibully Murid, Dikasih Dedi Mulyadi Rp25 Juta, Lalu Disedekahkan

Entertainment | Sabtu, 25 April 2026 | 11:35 WIB

Saham BBCA Anjlok ke Level Era Covid-19, Asing Penyebabnya

Saham BBCA Anjlok ke Level Era Covid-19, Asing Penyebabnya

Bisnis | Sabtu, 25 April 2026 | 11:34 WIB

Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court

Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:33 WIB

Gelar Aksi, Massa Desak KPK Sita Aset Kalla Group Jika Galbay di Proyek PLTA Poso

Gelar Aksi, Massa Desak KPK Sita Aset Kalla Group Jika Galbay di Proyek PLTA Poso

News | Jum'at, 24 April 2026 | 21:25 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

7 Parfum Aroma Bunga yang Segar untuk Cuaca Panas, dari Produk Lokal sampai Branded

7 Parfum Aroma Bunga yang Segar untuk Cuaca Panas, dari Produk Lokal sampai Branded

Lifestyle | Sabtu, 25 April 2026 | 11:27 WIB

Hadapi Rasa Takut, Le Sserafim Rayakan Keberanian Diri di Lagu Celebration

Hadapi Rasa Takut, Le Sserafim Rayakan Keberanian Diri di Lagu Celebration

Your Say | Sabtu, 25 April 2026 | 11:50 WIB

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:18 WIB

Terkini

Arab Saudi Belasungkawa Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Akibat Serangan Israel

Arab Saudi Belasungkawa Gugurnya Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Akibat Serangan Israel

News | Sabtu, 25 April 2026 | 13:05 WIB

Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz

Misi Militer Penuh Ironi: Teknisi AS Dicakar Monyet Saat Menuju Medan Konflik Selat Hormuz

News | Sabtu, 25 April 2026 | 12:03 WIB

Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam

Benjamin Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Prostat Diam-diam

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:53 WIB

Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar

Mahasiswa Doktoral USF Tewas Misterius, Diduga Dibunuh Teman Sekamar

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:43 WIB

Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court

Penasihat Hukum Nadiem Mangkir dari Sidang, Pengamat: Bisa Dikategorikan Contempt of Court

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:33 WIB

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

8 Orang Tewas Dalam Serangan Israel ke Lebanon Selama 24 Jam Terakhir

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:18 WIB

Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun

Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:04 WIB

Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi

Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi

News | Sabtu, 25 April 2026 | 11:00 WIB

Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat

Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:45 WIB

Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon

Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon

News | Sabtu, 25 April 2026 | 10:39 WIB