facebook

Ketua MUI Makassar Ikut Angkat Bicara, Menag Yaqut Diminta Perbaiki Cara Bertutur Kata

Aprilo Ade Wismoyo
Ketua MUI Makassar Ikut Angkat Bicara, Menag Yaqut Diminta Perbaiki Cara Bertutur Kata
Menag Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut [Foto: Antara]

"Karena namanya orang besar itu, sedikit saja salah sudah dianggap tidak baik," ujarnya.

Suara.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar AGH Baharuddin meminta Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas agar introspeksi diri.

Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, Yaqut diminta untuk memperbaiki cara bertutur kata. Pasalnya, Yaqut adalah seorang Menteri yang menjadi pembantu Presiden, tidak elok rasanya jika kerap membuat narasi-narasi yang bisa membuat gaduh.

"Memang harus bisa evaluasi dirinya (Menag) terhadap setiap apa yang akan disampaikan. Kita juga merasa tidak setuju apalagi dengan apa yang dia bandingkan, meski tujuannya tidak begitu," kata AGH Baharuddin belum lama ini, dilansir Wartaekonomi, Rabu (2/3/2022).

Menurut Baharuddin, ucapan Menag tersebut dinilai tidak pantas dan tidak layak jika menyandingkan suara azan dengan suara gonggongan anjing. Hal ini kemudian menjadi kontroversi di tengah masyarakat dan tidak diterima oleh kebanyakan umat Islam di Indonesia.

Baca Juga: Hasil BRI Liga 1: Duel PSS vs PSM Berakhir Tanpa Gol di Denpasar

"Sebagai seorang figur, tokoh, mestinya harus menjaga betul apa yang akan disampaikan. Karena namanya orang besar itu, sedikit saja salah sudah dianggap tidak baik," ujarnya.

Menurutnya, terkait edaran yang mengatur volume pengeras suara masjid maupun azan waktu salat tidak menjadi masalah di masyarakat. Namun, yang menjadi masalah di sini adalah ketika menyandikan dengan suara hewan.

"Hanya yang masalah dengan dihubungkannya dengan gonggongan anjing, tapi dalam edaran tidak ada dimasukkan itu," ujarnya.

Baharuddin mengapresiasi pernyataan Jusuf Kalla selaku Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang telah lebih dahulu mengimbau terkait suara toa masjid.

"Jusuf Kalla mengimbau agar jangan terlalu cepat membunyikan pengeras suara masjid. Kalau umpama saat salawat dan pengajian, bisa suara dalam. Nanti azan itu suara luar, itu sudah benar sekali. Saudi Arabia juga sudah lebih dulu mengatur itu," ungkap Baharuddin.

Baca Juga: Tokoh Lintas Agama Bogor Deklarasi Damai Soal Pernyataan Menag Yaqut Bandingkan Aturan Toa Masjid-Gonggongan Anjing

Komentar