Suara.com - Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini mendadak mengunjungi Balai Efata di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, (2/3/2022). Tiba malam hari, Risma memberikan motivasi kepada anak-anak penyandang disabilitas agar tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk sukses.
"Kalian harus percaya bahwa tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini. Tidak ada makhluk di dunia ini yang baik-baik saja pasti ada kekurangan sdan kelebihan. Yang harus kita lakukan adalah kita tidak boleh menyerah. Sesulit dan seberat apapun kondisinya kita harus bisa lewati. Karena tuhan tidak akan memberiman kasih cobaan di luar batas kemampuan umatnya," tutur Risma.
Pada kesempatan itu, Risma juga menceritakan sosok Gading, seorang penyandang disabilitas di Surakarta yang berdagang keliling dengan menggunakan motor listrik dari Kemensos.
Sebelumnya Gading berjualan keliling dengan sepeda ontel, karena kondisinya dia tidak dapat jauh berjualan dan pendapatan yang diterima hanya sekitar Rp300 ribu per hari. Nah, berkat bantuan motor listrik, dagangannya lebih banyak dan bervariasi serta dapat bergerak lebih jauh. Hasilnya, pendapatan Gading juga meningkat berkali-kali lipat.
"Ada anak kami disabilitas Gading. Tidak bisa jalan, kalau jalan harus merangkak, suaranya juga tidak jelas. Tapi sekarang bisa survive, punya tabungan, dia bisa nabung," kata Risma mencontohkan.
Selain itu, Risma juga mencontohkan Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Angkie Yudistia yang sebelumnya tak bisa berbicara dan harus menggunakan bahasa isyarat. Setelah berlatih lama, kata Risma, Angkie bisa berbicara dengan jelas.
Oleh karena itu, Risma mengajak agar anak-anak para penyandang disabilitas untuk tidak rendah diri dan terus bersemangat mengasah kemampuan mereka.
Selain mengunjungi anak-anak penyandang disabilitas di Balai Efata, Risma juga mengunjungi anak-anak didik di Sentra Kreasi Atensi (SKA) Efata. SKA Efata merupakan pusat pengembangan kewirausahaan dan vokasional penerima manfaat Balai Rehabilitas Sosial (Rehabsos) seperti gelandangan, pengemis, pemulung, anak telantar, lansia telantar, korban perdagangan orang hingga korban PHK.
Pada kesempatan tersebut, Risma tampak mengajak berbincang dan memberikan nasehat kepada para anak didik di SKA Efata. Risma berharap, suatu hari kelak anak-anak didik di SKA Efata bisa berwirausaha selepas keluar dari balai rehabilitasi tersebut.
"Kalian harus kuat atas cobaan yg tuhan kasih. Kita hari ini mungkin ada di bawah, tapi ingatlah roda berputar san kita akan berada di atas. Saat itu kalian harus mempersiapkan, harus belajar yang diarahkan para pelatih dan pembina di sini. Gagal coba lagi, gagal coba lagi sampai akhirnya kegagalan takut kepada kita," kata Risma memotivasi.
Sementara itu, Yanti Taklale (18), salah satu peserta didik di SKA Efata menyampaikan rasa terimakasih kepada Risma yang sangat peduli terhadap penanggulangan permasalahan anak-anak remaja di wilayahnya.
Remaja putus sekolah itu pun bercerita sedikit tentang pengalamannya selama menjalani pembinaan di SKA Efata. Kata Yanti, awalnya dia sempat putus asa dan merasa tidak percaya diri untuk bisa melanjutkan hidup karena kegagalan yang menerpanya.
Namun, setelah bergabung di SKA Efata, dia menerima banyak motivasi dari para pembina. Selain itu, dia juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan melalui pelatihan-pelatihan. Motivasi dan kegiatan-kegiatan positif tersebut membuat dirinya terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri di masa depan.
"Saya ingin menyampaikan terimakasih atas kedatangan ibu ke sini. Awalnya saya datang ke sini tidak memiliki keterampilan apapun. Namun, setelah di sini saya banyak belajar seperti menjahit, menenun dan lain-lainnya. Saya berharap keterampilan yang saya miliki saat ini bisa semakin berkembang dan kelak saya bisa menjadi mandiri setelah pulang dari sini," kata Yanti.