Varian Sempalan Omicron Sebabkan Covid-19 di China Melonjak Dua Kali Lipat

Siswanto, ABC

Kamis, 17 Maret 2022 | 12:38 WIB
Varian Sempalan Omicron Sebabkan Covid-19 di China Melonjak Dua Kali Lipat
Ilustrasi gerai Starbucks di China. [REUTERS/Tingshu Wang/nz/djo/ANTARA]

Suara.com - Saat jutaan penduduknya masih menjalani lockdown, China mencatat lonjakan angka COVID  sebanyak 3.500 kasus dalam 24 jam terakhir yang disebabkan oleh varian sempalan Omicron.

Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan 3.507 kasus baru dilaporkan terjadi, naik dari 1.337 kasus di hari sebelumnya.

Kebanyakan kasus ini terjadi di provinsi Jilin, sekitar 1.082 km jauhnya dari ibu kota Beijing, provinsi yang berada di kawasan Timur Laut China, di mana di sana tercatat 2.601 kasus.

Jumlah kasus mereka yang tidak bergejala, yang dalam aturan di China tidak dianggap sebagai kasus yang positif berjumlah 1.786.

Sejauh ini belum ada kematian yang dilaporkan dalam penyebaran kasus yang terjadi di beberapa kawasan di sana.

Cepatnya penyebaran varian yang sekarang disebut 'sempalan' dari Omicron menjadi tantangan bagi pihak berwenang di sana yang masih menerapkan kebijakan nol kasus COVID, kebijakan yang sudah dijalankan sejak kasus pertama muncul di kota Wuhan di awal tahun 2020.

Walau angka kasus di China ini masih termasuk rendah dibandingkan di negara-negara lain, jumlah yang lebih dari 10 ribu kasus dalam dua minggu di bulan Maret ini sudah melebihi jumlah kasus dibanding masa-masa sebelumnya.

Para pakar kesehatan mengatakan tingkat kenaikan kasus harian selama beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah kebijakan penanganan kasus COVID-19 selama ini di China sudah efektif dalam menghadapi varian yang sekarang lebih mudah menular.

Prediksi COVID-19 yang dilakukan oleh Lanzhou University mengatakan bahwa penyebaran kasus saat ini akan bisa ditangani di awal April.

baca juga

Universitas tersebut memperkirakan jumlah kasus sekarang akan mencapai puncak dengan total sekitar 35 ribu kasus.

Dalam laporan terbaru yang dikeluarkan hari Senin (14/03), Universitas Lanzhou mengatakan bahwa kondisi saat ini merupakan yang paling serius di Daratan China sejak Wuhan di tahun 2020.

Namun negeri itu  memiliki kemampuan untuk menguasai keadaan sepanjang kebijakan pemberantasan serius tetap dijalankan.

Per tanggal 14 Maret, China sudah melaporkan adanya 120.504 kasus, termasuk kasus penularan lokal dan mereka yang datang dari luar China.

Larangan perjalanan karena lockdown

Provinsi Jilin, adalah kawasan yang berpenduduk 24,1 juta orang di mana 90 persen kasus baru terjadi di sana. 

Warga Jilin dilarang untuk meninggalkan provinsi tersebut atau bepergian di dalam kota tanpa memberitahu polisi setempat.

Di media partai komunis setempat, seorang pejabat partai mengatakan bahwa Jilin harus mempersiapkan lebih banyak rumah sakit darurat dan juga berbagai akomodasi sementara guna memastikan semua pengidap kasus dan kontak terdekat mereka bisa menjalani isolasi guna mencegah penyebaran lebih lanjut.

Beberapa penyebaran lebih kecil juga terjadi di belasan provinsi dan kota besar termasuk di ibu kota Beijing, di mana dilaporkan adanya enam kasus baru, juga di Shanghai sebanyak sembilan kasus.

Shenzhen yang terletak di provinsi Guangdong yang tidak jauh dari Hong Kong mencatat 48 kasus baru.

Kota berpenduduk 17,5 juta orang tersebut sudah dinyatakan lockdown sejak hari Minggu setelah adanya 75 kasus baru yang dilaporkan di sana.

Semua warga di Shenzhen harus menjalani tes sebanyak tiga kali, dan semua bisnis kecuali bisnis pemasok makanan, bahan bakar, dan keperluan penting lain, harus ditutup dan warga harus bekerja dari rumah sejak hari Senin.

Shenzhen adalah pusat dari beberapa perusahaan besar China, termasuk perusahaan alat telekomunikasi Huawei dan Tencent Holding, operator layanan media sosial WeChat.

Jepang longgarkan masuknya warga

Sementara itu di Jepang pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menaikkan jumlah kedatangan harian menjadi 10 ribu orang mulai bulan April dari angka 7 ribu orang saat ini.

Menurut kantor berita Jepang, Kyodo, mengutip seorang pejabat pemerintah hari Selasa, hampir tidak mungkin untuk melonggarkan pembatasan yang selama ini sudah diberlakukan.

Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan pemerintah akan melonggarkan pembatasan secara bertahap dengan melihat situasi di dalam negeri dan juga melihat kebijakan yang dilakukan negara lain.

Jepang sejak November tahun lalu menutup  negeri itu dari kedatangan warga asing sejak meningkatnya kasus Omicron, kebijakan yang banyak mendapatkan kritik karena dianggap terlalu ketat.

Sejak Maret, pembatasan mulai dilonggarkan dengan mulai diizinkannya warga Jepang kembali dari luar negeri, dengan kuota tujuh ribu orang sejak hari Senin (14/03).

Turis asing belum diperbolehkan masuk ke sana.

Di Jepang, bulan April adalah bulan di mana bisnis dan sekolah mulai berkegiatan lagi, dan biasanya perjalanan meningkat.

Dengan banyak mahasiswa asing sedang menunggu untuk bisa masuk lagi, pemerintah mengatakan akan memberikan prioritas bagi mereka. Dan juru bicara pemerintah Jepang Hirokazu Matsuno mengatakan kebanyakan dari mahasiswa asing ini diperkirakan akan datang di akhir bulan Mei.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?

Budaya 'Kondangan Akademik' Mahasiswa: Bentuk Dukungan atau Tekanan Sosial?

Your Say | Senin, 13 Juli 2026 | 06:30 WIB

Modal Kecil, Untung Maksimal: 5 Ide Bisnis Kuliner Kekinian yang Lagi Viral!

Modal Kecil, Untung Maksimal: 5 Ide Bisnis Kuliner Kekinian yang Lagi Viral!

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 06:13 WIB

Inovasi Perangkat Listrik Modern Curi Perhatian Lewat Prestasi Global

Inovasi Perangkat Listrik Modern Curi Perhatian Lewat Prestasi Global

Bisnis | Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:15 WIB

AS Serang 140 Titik di Iran, Teheran Balas Serang 5 'Negara Pendukung' AS

AS Serang 140 Titik di Iran, Teheran Balas Serang 5 'Negara Pendukung' AS

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 23:31 WIB

Bukan Spanyol, Ini Alasan Legenda Real Madrid Jagokan Perancis Juara Piala Dunia 2026

Bukan Spanyol, Ini Alasan Legenda Real Madrid Jagokan Perancis Juara Piala Dunia 2026

Bola | Senin, 13 Juli 2026 | 05:30 WIB

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB

Perang Terbuka AS-Iran! Selat Hormuz Resmi Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket

Perang Terbuka AS-Iran! Selat Hormuz Resmi Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:07 WIB

Memilih Pembalut yang Lebih Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan

Memilih Pembalut yang Lebih Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan

Lifestyle | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:20 WIB

Dominasi Jawa Barat, Persib Bandung dan Goal Aksis Cimahi Juara HLS All-Stars 2026

Dominasi Jawa Barat, Persib Bandung dan Goal Aksis Cimahi Juara HLS All-Stars 2026

Bola | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:12 WIB

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:50 WIB

Terkini

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:50 WIB

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:25 WIB

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:25 WIB

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:23 WIB

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:55 WIB

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:50 WIB

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:39 WIB

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:32 WIB

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:24 WIB

×