Satu dari Enam Warga Australia Alami Masalah Kerawanan Pangan di 2021

Siswanto, ABC

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:26 WIB
Satu dari Enam Warga Australia Alami Masalah Kerawanan Pangan di 2021
Ilustrasi kekeringan. (Shutterstock)

Suara.com - Annette Formosa tidak pernah membayangkan dia harus menggantungkan diri pada komunitas lokal di Sydney Barat untuk memastikan dia dan keluarganya mendapatkan makanan.

Sekarang dia mengatakan hidupnya akan sangat berbeda bila tidak ada bantuan tersebut.

"Kami akan kelaparan. Tidak ada akan makanan di meja makan di rumah kami," katanya kepada ABC.

Meningkatnya harga kebutuhan pokok di Australia selama beberapa bulan terakhir yang dirasakan oleh semakin banyak warga Australia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Annette.

Ketika pandemi COVID varian Delta mulai melanda Sydney tahun lalu, dia kehilangan pekerjaannya di bidang hospitality.

Dia merasa semua kebutuhan semakin mahal dan membeli makanan pokok dengan uang A$50 (sekitar Rp500 ribu) per minggu tidaklah cukup, apalagi ditambah untuk putrinya yang masih remaja, Hannah.

Ketika belanja, Annette hanya mampu membeli makanan yang paling murah yang tersedia.

Karenanya tidak ada protein seperti daging, atau sayur dan buah segar, yang dibeli hanya pasta.

Daging steak yang dulunya bisa dibeli dengan harga A$5 sekarang sudah naik jadi A$10, dan bahkan dada ayam pun tidak terjangkau lagi harganya bagi Annette.

baca juga

"

"Ketika kamihanya punya A$50 untuk seminggu, berarti satu hari sekitar A$10," katanya.

"

Laporan yang dibuat lembaga amal Foodbank tentang kelaparan tahun 2021 menyimpulkan bahwa satu dari enam warga Australia mengalami masalah kerawanan pangan, artinya mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan makanan yang cukup.

Sekitar 40 persen di antara mereka tidak pernah mengalami masalah tersebut sebelum pandemi terjadi.

Annette Formosa mengandalkan Pusat Komunitas Dundas di kawasan pemukiman Telopea, tempat tinggalnya di Sydney Barat.

Sebelum pandemi, Annette tidak pernah merasa memerlukan bantuan untuk mendapatkan makanan.

Kathryn Hammond manajer di pusat komunitas tersebut mengatakan bantuan makanan sudah menjadi bagian penting dari layanan yang mereka lakukan selama dua tahun terakhir.

"Begitu banyak warga dengan kenaikan harga kebutuhan pokok memerlukan bantuan tambahan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka," kata Hammond kepada ABC.

Meningkatnya biaya hidup ini diperparah lagi dengan penutupan supermarket lokal di dekat tempat tinggal Annette Formosa, hal yang digambarkannya sebagai hal terburuk yang terjadi.

Supermarket IGA diTelopea ditutup bulan Januari 2021 karena keputusan komersialpemiliknya, dan karena itu untuk belanja roti, susu dan telur, Annette harus naik bus satu jam lamanya.

"

"Susah sekali karenanya. Untung sekali kami memiliki pusat komunitas," katanya.

"

Pengeluaran pertama yang dikurangi adalah makanan

Menurut Christina Pollard, pakar masalah prioritas kesehatan publik di Curtin University, ketika harga kebutuhan hidup meningkat, maka makanan adalah komoditas pertama yang akan kita kurangi.

"Kita masih harus membayar sewa rumah, mereka masih harus bekerja. Semua pengeluaran itu sudah tetap," kata DrPollard kepada ABC.

"Jadi pilihan mereka adalah mengurangi makanan, dan mencari bantuan makanan."

Dr Pollard mengatakan mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau membayar cicilan rumah yang terlalu tinggi dari kemampuan, adalah mereka yang paling mungkin menghadapi kerawanan pangan.

"Ini kadang adalah hal yang memalukan. jadi masalah kerawanan pangan ini tidak tampak jelas, tidak dilaporkan dan cenderung ditutupi," katanya.

Jadi apa solusi yang ada?

Dr Pollard mengatakan salah satu hal yang tidak banyak membantu adalah keberadaan lembaga sosial untuk memberi bantuan.

"Kita tidak mau seperti Kanada, di mana ada lebih banyak lembaga sosial penyedia bantuan makanan dibandingkan supermarket.

"Karena itu tidak menyelesaikan akar permasalahannya."

Menurut Dr Pollard yang perlu dilakukan adalah menaikkan tarif upah gaji minimum, lebih banyak ladang pekerjaan tetap, memadainya bantuan sosial, dan yang lebih penting pemerintah memantau ketersediaan makanan.

"Memantau harga makanan adalah cara yang baik melihat dampak sebuah kebijakan," katanya.

"Bila harga makanan terlalu mahal, dan itu makanan yang bergizi tinggi, maka warga akan mengalami kerawanan pangan.

Kenaikan harga makanan sudah menyebabkan inflasi mencapai 5,1 persen sepanjang 12 bulan terakhir di Australia, kenaikan harga konsumen tertinggi sejak Juni 2001.

Tahun sebelumnya harga kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar dan sewa rumah naik sekitar 4,5 persen sementara dalam waktu bersamaan upah hanya naik 2,3 persen.

Ratusan keluarga di Melbourneperlu bantuan makanan

Imad Abulughud harus mengunjungi pusat komunitas lokalnya di Broadmeadows di Barat Laut Melbourne setiap minggu selama beberapa bulan terakhir untuk mendapat tambahan bahan makanan.

Imad sudah tinggal di Australia selama dua puluh tahun setelah melarikan diri dari Gaza sebagai pengungsi.

Namun, baru pertama kali inilah dia memerlukan bantuan makanan atau merasa khawatir tidak akan memiliki makanan untuk disantap.

"Susah sekali menemukan pekerjaan, juga susah mendapatkan makanan," katanya.

"Semua harga tinggi sekarang."

Imad tidak lagi bekerja sejak mobilnya rusak beberapa bulan lalu dan ia tidak punya uang untuk pergi ke bengkel.

Padahal, pekerjaannya mengharuskan dia berkendara berulang kali mengelilingi Melboune.

Kesehatannya juga terganggug karena dia harus mengurangi konsumsi makanan karena berkurangnya pendapatan.

Dia menderita diabetes tipe 2 sehingga dia sebenarnya memerlukan makanan tertentu yang terjaga kualitasnya.

"Saya harus membeli makanan tertentu sehingga saya bisa bertahan hidup," kata Imad.

"

"Saya menderita diabetes. Saya harus makanan karena tingkat diabetes saya naik turun. Kalau saya tidak makan, dan di rumah saja, mungkin saya bisa mati."

"

Imad Abulughud sangat berterima kasih dengan Layanan Komunitas Banksia Gardens di dekat rumahnya.

Lembaga tersebut memberi bantuan pasokan kebutuhan pokokkepada sekitar 300 keluarga setiap minggunya.

Meski direktur eksekutif layanan tersebut, GinaDougall, bangga bisa memberikan bantuan kepada orang-orang seperti Imad, ia mengatakan keadaan tidak baik-baik saja.

"Sangat mengkhawatirkan melihat begitu banyaknya mereka yang memerlukan bantuan," katanya kepada ABC.

Sampai saat ini, ImadAbulughud harus tetap berjalan kaki dari flatnya ke pusat komunitas tersebut.

Dia juga mengirimkan pesan pendek kepada para politisi Australia menjelang pemilu tahun ini yang akan diselenggarakan 21 Mei mendatang.

"

"Saya warga negara Australia. Bila mereka tidak mengurusi kami, saya tidak akan memberi suara kepada mereka," katanya.

"

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilmuwan Temukan Spons Laut yang Bisa Bersihkan Pelabuhan Tercemar

Ilmuwan Temukan Spons Laut yang Bisa Bersihkan Pelabuhan Tercemar

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:32 WIB

Aston Villa Jalal Stadion GBK, Alejandro Garnacho Cs Latihan di Bawah Terik Matahari

Aston Villa Jalal Stadion GBK, Alejandro Garnacho Cs Latihan di Bawah Terik Matahari

Bola | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:31 WIB

Tambang Batubara Meledak! 32 Pekerja Tewas di Balochistan Pakistan

Tambang Batubara Meledak! 32 Pekerja Tewas di Balochistan Pakistan

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:22 WIB

Tekanan Mereda, Kepercayaan Industri RI Kembali Menguat pada Juli 2026

Tekanan Mereda, Kepercayaan Industri RI Kembali Menguat pada Juli 2026

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:17 WIB

Dipercaya BI Jadi Pengelola Utama SKM, Ini Strategi BRI Jangkau Pelosok Karo

Dipercaya BI Jadi Pengelola Utama SKM, Ini Strategi BRI Jangkau Pelosok Karo

Bri | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:16 WIB

Gerindra Tegaskan Survei Cuma Instrumen Evaluasi, Bukan Penentu Kebijakan Pemerintah

Gerindra Tegaskan Survei Cuma Instrumen Evaluasi, Bukan Penentu Kebijakan Pemerintah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:16 WIB

Aksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Latihan Ala Militer, Jalan di Atas Api Viral

Aksi Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan Latihan Ala Militer, Jalan di Atas Api Viral

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:13 WIB

Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?

Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:07 WIB

2 Mobil Listrik Bekas Diprediksi Turun Harga Gegara Wuling Aira EV: Mending Mana?

2 Mobil Listrik Bekas Diprediksi Turun Harga Gegara Wuling Aira EV: Mending Mana?

Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:04 WIB

Gus Ipul Buka MPLS Sekolah Rakyat Gelombang Kedua Serentak di 65 Titik

Gus Ipul Buka MPLS Sekolah Rakyat Gelombang Kedua Serentak di 65 Titik

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:03 WIB

Terkini

Pramono Bakal Minta Pakuwon Lepas Pagar di Kota Kasablanka dan Blok M Plaza

Pramono Bakal Minta Pakuwon Lepas Pagar di Kota Kasablanka dan Blok M Plaza

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:23 WIB

BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Jabar | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:19 WIB

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:18 WIB

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:17 WIB

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:15 WIB

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:06 WIB

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:03 WIB

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Jatim | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:01 WIB

×