facebook

Seruan Boikot Singapura Menggema di Medsos, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Ruth Meliana Dwi Indriani
Seruan Boikot Singapura Menggema di Medsos, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Seruan boikot Singapura muncul gegara menolak Ustaz Abdul Somad. (pixabay)

Beberapa waktu belakangan ini, tagar #boikotsingapura ramai di Twitter. Ini adalah buntut dari penolakan pemerintah Singapura terhadap Ustaz Abdul Somad, beberapa waktu lalu.

Suara.com - Tagar #BoikotSingapura menggema di Twitter beberapa waktu lalu, sebagai respons dari penolakan Singapura atas kunjungan Ustad Abdul Somad (UAS).

Alhasil pendukung UAS beramai-ramai mengajak warga negara Indonesia untuk tidak berbelanja atau berwisata ke SIngapura. Ajakan tersebut dianggap sebagai sanksi sosial atas sikap Singapura yang menolak kehadiran UAS di negaranya beberapa waktu lalu.

Lantas, apa yang akan terjadi jika seruan boikot itu benar-benar dilakukan? Apa pula dampaknya bagi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Singapura?

Jika dikaitkan dengan hubungan dan perekonomian kedua negara, Pengamat Ekonomi Core Indonesia, Muhammad Faisal menyatakan, seruan boikot tersebut tidak akan menganggu hubungan ke dua negara.

Baca Juga: Tahun Fiskal 2021, Indonesia Cetak Prestasi Tertinggi untuk Lingkup Mitsubishi Global

Menurutnya, hingga kini Singapura masih menjadi salah satu investor terbesar bagi Indonesia. Meski ada seruan boikot, ia yakin hal tersebut tidak akan mengganggu investasi Singapura di Indonesia.

Hal tersebut disebabkan seruan boikot itu dilakukan oleh masyarakat umum. Menurut dia, dampak akan terasa jika boikot tersebut diserukan oleh pemerintah Indonesia secara resmi.

"Menurut saya tidak mengganggu (investasi) ya. Karena kalau investasi itu kan dealnya dengan pemerintah, bukan dengan masyarakat. Kecuali memang boikot ini resmi diberlakukan oleh pemerintah," ujar Faisal pada Jumat lalu, (20/5/2022).

Ia menambahkan, selayaknya investasi yang ditanamkan suatu negara di negara lainnya, pada umumnya investasi tersebut sifatnya jangka panjang. Faisal juga menilai seruan boikot Singapura di Twitter tersebut hanya riak-riak sesaat.

Karena itulah, ia yakin pihak investor tidak akan menanggapinya dengan serius dan investasi pun akan terus berlanjut.

Baca Juga: Profil Derrick Michael, Wonderkid yang Bawa Timnas Basket Indonesia Raih Medali Emas SEA Games

“Mereka kan mikirnya dalam jangka panjang, jadi ya untuk investasi Indonesia relatif tidak terganggu lah," pungkasnya.

Muhammad Faisal juga menanggapi serua boikot yang trending di Twitter beberapa watu lalu. Menurut dia, isu boikot tersebut masih absurd, karena belum ada kejelasan mengenai mekanisme boikot dan sektor apa yang hendak diboikot.

Karena itu, ia menambahkan, masyarakat tida perlu reaktif dalam menanggapi seruan boikot tersebut.

Sebelumnya, pihak imigrasi Singapura menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) di negaranya, beberapa waktu lalu.

Alasan penolakan tersebut adalah, selama ini pemerintah Singapura menganggap UAS adalah ulama yang dekat dengan isu-isu intolerasi. Salah satunya ketika UAS menyatakan bom bunuh diri adalah tindakan syahid.

Kontributor : Damayanti Kahyangan

Komentar