facebook

Legislator PKS: Indonesia Bebas PMK Saat Era Soeharto, Sekarang Muncul Lagi di Era Jokowi

Dwi Bowo Raharjo | Stefanus Aranditio
Legislator PKS: Indonesia Bebas PMK Saat Era Soeharto, Sekarang Muncul Lagi di Era Jokowi
Dokter hewan memeriksa kesehatan hewan sapi di salah satu lokasi peternakan di Jakarta, untuk cegah PMK. [ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga]

Slamet mengatakan bersihnya Indonesia dari Penyakit Kuku dan Mulut hewan ternak dulu menjadi salah satu prestasi Soeharto.

Suara.com - Anggota komisi IV DPR RI dari fraksi PKS, Slamet menyebut Indonesia sebenarnya sudah bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto, lalu muncul lagi saat ini saat pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Slamet mengatakan bersihnya Indonesia dari Penyakit Kuku dan Mulut hewan ternak dulu menjadi salah satu prestasi Soeharto, dia mempertanyakan kenapa saat ini penyakit tersebut muncul lagi.

"Dulu prestasi yang dibanggakan Pak Harto saat orde baru adalah keluarnya Indonesia dari negara bebas PMK, pertanyaannya sekarang ini yang menjadi cambuk bagi pemerintah Pak Jokowi dan para menterinya, justru di era sekaranglah Indonesia kembali menjadi negara yang tidak bebas PMK," kata Slamet dalam diskusi PKS TV, Jumat (27/5/2022).

"Ini sejarah dalam dunia peternakan dan kedokteran hewan bahwa di saat pemerintahan inilah terjadi kecerobohan hingga penyakit ini masuk lagi," sambung Slamet.

Baca Juga: 115 Hewan Ternak di Solok Selatan Terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku

Dia menduga PMK ini muncul karena kebijakan pemerintahan Jokowi yang ceroboh dengan mengubah asal impor dari berbasis negara menjadi berbasis zona. Dimana diizinkan bagi zona yang dinyatakan aman tapi belum dinyatakan aman secara keseluruhan di satu negara tersebut.

"“Malaysia, India, Cina, dan Brazil ini setau saya negara yang belum bebas PMK. Sementara kran impor dari negara ini (khususnya) India cukup besar. Ditambah lemahnya karantina dan pengawasan di lapangan, maka klop lah kalo hari ini ada wabah PMK," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengungkapkan per 22 Mei 2022 sudah sebanyak 16 provinsi dan 82 kabupaten/kota terjangkit PMK hewan ternak dengan total 5.454.454 ekor terdampak dan 20.723 ekor sakit.

Dari total hewan yang sakit, sebanyak 6.896 ekor berhasil disembuhkan atau 33,29 persen, 162 ekor atau 0,78 persen dipotong paksa, dan 142 ekor atau 0,69 persen hewan ternak mati.

"Kami terus bekerja keras membatasi penyebaran PMK dengan pembatasan lalu lintas ternak dari wilayah wabah. Khusus hewan sakit kita obati terutama yang bergejala klinis. Mohon dukungan media dan masyarakat agar PMK dapat segera teratasi," katanya.

Baca Juga: Kendaraan Pengangkut Hewan Ternak di Perbatasan Sumut-Aceh Diputar Balik

Provinsi yang terdampak PMK antara lain Aceh 315.612 ekor, Bangka Belitung 10.347 ekor, Banten 22.456 ekor, DIY 92.977 ekor, Jawa Barat 396.364 ekor, Jawa Tengah 768.150 ekor, dan Jawa Timur 2.569.774 ekor.

Selanjutnya, Kalimantan Barat 51.403 ekor, Kalimantan Selatan 83.123 ekor, Kalimantan Tengah 34.006 ekor, Lampung 56.078 ekor, Nusa Tenggara Barat 363.770 ekor, Riau 22.596 ekor, Sumatera Barat 107.942 ekor, Sumatera Selatan 45.695 ekor, dan Sumatera Utara 492.139 ekor.

Komentar