Kebiasaan Pakai Masker di Asia Dianggap Menurunkan Kematian Akibat Covid

Siswanto, ABC

Senin, 01 Agustus 2022 | 22:32 WIB
Kebiasaan Pakai Masker di Asia Dianggap Menurunkan Kematian Akibat Covid
Ilustrasi Covid-19 - gejala omicron varian baru (Pixabay)

Suara.com - Ada kebiasaan berlatar belakang 'budaya yang sangat membedakan' di  negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, yang menurut para epidemiolog menyebabkan tingkat kematian harian COVID rendah.

Kebiasaan tersebut adalah mengenakan masker yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di beberapa negara Asia, sehingga membantu mengatasi pandemi COVID dengan adanya berbagai varian yang terus berubah.

Epidemiolog dari University of Otago di Selandia Baru, Michael Baker, mengatakan warga di negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura sudah menganggap bahwa pencegahan penularan COVID-19 adalah tanggung jawab pribadi masing-masing warga.

"Saya meneliti beberapa negara yang di atas kertas bisa memiliki tingkat kematian yang rendah meski punya banyak kasus, dan hasilnya adalah negara-negara di Asia, khususnya Jepang, Korea Selatan, dan Singapura," katanya.

Professor Baker mengatakan Singapura adalah contoh yang baik.

"Mereka menganut kebijakan memberantas COVID pada awalnya, namun kemudian memutuskan bahwa hal tersebut mengganggu pertumbuhan ekonomi mereka, sehingga  membiarkan adanya kasus.

"Namun, mereka bisa bisa menekan tingkat kasus dan, secara khusus, tingkat kematian," katanya.

"Apa yang menjadi perbedaan mendasar? Saya kira kebanyakan adalah norma budaya untuk berusaha tidak menulari orang lain, di mana itu berarti warga yang sakit berusaha tidak keluar rumah dan juga menggunakan masker."

Saat beberapa spesialis pengendalian infeksi telah memperingatkan bahwa kelelahan warga di masa pengendalian COVID-19 kemungkinan berkontribusi pada penyebaran Omicron di Australia dan Selandia Baru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak negara-negara dengan lonjakan subvarian sub BA.4 dan BA.5. untuk mempercepat penyerapan vaksin dan kembali mengharuskan pemakaian masker.

baca juga

Selandia Baru menerapkan kebijakan penggunaan masker yang lebih ketat dibandingkan Australia, meski tidak pernah memiliki kebiasaan sebelumnya untuk mengenakan pelindung mulut dan hidung tersebut.

Epidemiolog dari Deakin University di Melbourne, Hassan Vally, mengatakan menggunakan masker adalah salah satu perbedaan budaya besar yang berpengaruh pada keberhasilan penanganan COVID-19 di beberapa negara Asia.

"Jelas penggunaan masker tinggi di Asia, hal yang positif serta sangat berguna dan itu disebabkan karena beberapa hal.

"Kita menganut budaya individualistis di Barat sementara di Timur budayanya berbeda.

"Penekanannya bukan pada kebebasan dan individu namun pada persatuan dan kebersamaan, mereka melihat masalah secara lebih keseluruhan.

"Jadi saya kira memang ada perbedaan budaya yang penting yang menjadi sebab keberhasilan penanganan di negara-negara Asia."

Keharusan menggunakan  masker di Singapura

Di Singaoura ada keharusan mengenakan masker di dalam ruangan termasuk di perpustakaan, pasar, pusat perbelanjaan seperti mall, sekolah dan pesta pernikahan.

Dalam acara pernikahan, pengantin bisa menggunakan alat pelindung wajah namun tamu hanya boleh membuka masker ketika makan dan minum.

Menurut Associate Professor Ashley St John dari Program Penyakit Menular Singapura, pada umumnya warga menerima aturan tersebut.

"Penggunaan masker masih diperlukan dalam ruangan di luar rumah di Singapura ketika tidak sedang makan dan minum," katanya.

"Dalam pandangan saya, kebanyakan warga mematuhi dan mendukung keputusan tersebut."

Meski sebagian warga tidak mempermasalahkan penggunaan masker, Dr St John  mengatakan masih ada beberapa kendala  dalam hal tingkat vaksinasi.

"Penggunaan masker efektif untuk mencegah penyebaran COVID-19 namun kemungkinan aspek terhadap COVID-10 saat ini yaitu menurunkan tingkat kematian adalah vaksinasi," katanya.

"Tingkat kepatuhan dalam menjalankan vaksinasi di banyak negara Asia cukup tinggi."

Dr Vally dari Deakin University di Melbourne mengatakan warga Australia sudah tidak lagi mengandalkan pada penggunaan masker, tetapi menurutnya perlu pesan yang kuat dari pemerintah soal ini karena di negara itu 100 orang meninggal karena COVID dan lima ribu orang dirawat di rumah sakit setiap harinya.

"Kita tidak akan bisa mencapai taraf kepatuhan dan tekanan sosial seperti di negara-negara Asia, tetapi sekarang ini pesan yang disampaikan tidak jelas, [seolah] karena tidak ada keharusan yang dituntut pemerintah, berarti pemakaian masker itu tidak penting," katanya.

"Mestinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan masker sebagai bagian dari usaha untuk menurunkan tingkat kasus."

Warga Jepang diingatkan untuk membuka masker

Di Jepang masker muka sudah dikenal dengan nama populer 'celana wajah".

"Mungkin terlihat lucu dan konyol namun sebenarnya penting sekali artinya," kata Dr Vally.

"Demikian halnya kita tidak akan meninggalkan rumah tanpa celana atau bawahan, demikian juga kita tidak akan meninggalkan rumah tanpa masker. Ini menunjukkan bagaimana tatakrama sosial di sana."

Begitu kuatnya tekanan sosial di sana, warga melaporkan bahwa mereka mendapatkan pandangan sinis atau tatapan marah kalau mereka keluar tanpa mengenakan  masker.

Hukum Jepang tidak memungkinkan pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan warga mengenakan masker atau pun  melakukan lockdown, namun tingkat kematian di negeri itu tergolong rendah.

Bahkan ketika cuaca panas melanda Jepang di bulan Mei dan Juni, warga tetap mengenakan masker di luar ruangan sehingga pemerintah terpaksa mengeluarkan peringatan kemungkinan terkena stroke karena mengenakan masker ketika suhu terlalu panas.

Jaringan televisi nasional NHK melaporkan bahwa pemerintahan lokal kewalahan meyakinkan warga untuk membuka masker pada periode di mana hawa sangat panas sehingga seorang gubernur lokal memutuskan untuk tidak mengenakan masker demi memberikan contoh pada masyarakat.

"Mengenakan masker sudah menjadi kebiasaan setiap hari sehingga warga enggan membukanya dan juga mereka merasa sulit melepaskannya ketika semua orang lain tetap menggunakannya," kata Gubernur Miyagi Murai Yoshihiro.

Sejarah penggunaan masker di Korea Selatan

Ketika Korea Selatan mencabut mandat penggunaan masker di luar ruangan di bulan Mei, kantor berita Reuters melaporkan banyak warga tetap mengenakan masker karena masih adanya varian Omicron.

Sejak itu kematian karena COVID di sana tetap rendah walau sekarang Korea Selatan harus menangani meningkatnya kasus dari sub varian BA.4 dan BA.5.

Menurut perkiraan dari Pusat Pencegahan Penyakit Menular Korea Selatan, negeri itu akan mencatat sekitar 200 ribu kasus setiap hari dari bulan Agustus sampai Oktober.

"Bila sepertiga saja dari perkiraan itu benar, kami akan mengalami hal yang sama seperti Omicron tahun lalu, ketika terjadi puncak penyebaran kasus di Korea," kata Dr Yujin Jeong dalam sebuah konferensi di Sydney minggu lalu.

"Jadi apa strategi utama menghadapi kenaikan kasus baru di Korea? Tetap saja meminimalkan penyakit serius di kalangan kelompok berisiko tinggi dan tetap mempertahankan gaya hidup kami."

Selama beberapa puluh tahun terakhir, faktor lingkungan juga menjadi dasar bagi kebiasaan menggunakan masker di Korea termasuk kekhawatiran mengenai polusi dan fenomena musiman Hwangsa,  di mana debu gurun dari China terbang ke Semenanjung Korea.

Warga Korea sekarang menggunakan masker sebagai langkah pencegahan di tengah wabah COVID-19.

Penggunaan masker sudah menjadi 'kebiasaan mendalam di kalangan masyarakat untuk menghadapi penyakit menular sejak awal abad ke-20 di Korea Selatan, menurut artikel yang dimuat di sebuah jurnal East Asian Science, Technology and Society bulan April lalu.

"Sekarang penggunaan masker tidak saja sebagai perlindungan pribadi namun juga merupakan tanggung jawab sosial dan solidaritas," kata penulis artikel tersebut.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

CATCHPLAY+ Rilis Deretan Film dan Serial September 2026, Ada Thriller hingga Animasi Minions

CATCHPLAY+ Rilis Deretan Film dan Serial September 2026, Ada Thriller hingga Animasi Minions

Entertainment | Senin, 07 September 2026 | 08:30 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Transisi Energi Rendah Karbon Tak Cuma Teori, Industri Didesak Patuh

Transisi Energi Rendah Karbon Tak Cuma Teori, Industri Didesak Patuh

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 07:00 WIB

Bantuan Korban Bencana Gempa NTT Terus Bergulir

Bantuan Korban Bencana Gempa NTT Terus Bergulir

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 07:55 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×