Suara.com - Direktur eksekutif SAFEnet,Damar Juniarto memahami akan kegeraman masyarakat ketika mendengar data pribadinya bocor ke ranah publik. Sebabnya, kebocoran data pribadi itu bukan hanya sekali terjadi di Indonesia.
Damar menerangkan bahwa pada 2022 saja, kebocoran data pribadi di Indonesia sudah terjadi sebanyak tujuh kali. Kebocoran data pribadi juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
"Kebocoran ini bukan yang pertama, tahun ini saja ada 7 kebocoran sementara kita dalam catatan SAFEnet tahun-tahun lalu kita banyak menyimpan kebocoran yang lain," terang Damar dalam acara peluncuran Posko Pengaduan Kebocoran Data secara virtual, Jumat (9/9/2022).
Damar menyebutkan kalau kebocoran data pribadi yang terjadi pada 31 Agustus 2022 membuat Indonesia sebagai negara yang paling banyak mengalami kebocoran data selevel Asia.
"1,3 miliar data pengguna jasa telekomunikasi menjadikan Indonesia menjadi kebocoran data paling besar di Asia sampai sekarang," terangnya.
Adanya kebocoran data pribadi yang terus terjadi dianggap Damar sebagai bentuk negara yang tidak peduli akan perlindungan data warganya sendiri.
Ia masih ingat ketika ada mantan Menkominfo yang menyebut kalau data registrasi nomor gawai itu menjadi tanggung jawab tiga pihak yakni Kominfo, penyelenggara jasa telekomunikasi dan Dukcapil. Akan tetapi, ketika kebocoran data pribadi terjadi, semua pihak malah saling lempar tanggung jawab.
"Jadi ini yang menyulitkan posisi Indonesia karena Indonesia kelihatan sekali menyepelekan soal perlindungan data yang dikumpulkan berbagai mekanisme."