Perang Ukraina: Apa yang Terjadi di Rusia Sekarang adalah Ketakutan Total

Siswanto, BBC

Minggu, 25 September 2022 | 13:49 WIB
Perang Ukraina: Apa yang Terjadi di Rusia Sekarang adalah Ketakutan Total
BBC

Suara.com - Di pusat ibu kota Lithuania, Vilnius, spanduk besar dibentangkan di atas gedung tinggi, di atas bendera Ukraina, dan bertulisakan: "Putin, Den Haag menunggu Anda."

Tulisan Den Haag merujuk pada kedudukan Mahkamah Pidana Internasional di kota yang ada di Belanda.

Di bus-bus kota, layar elektronik menampilkan tujuan bus dan ungkapan "cinta" terhadap Ukraina yang dihiasi dengan gambar-gambar hati.

Pekan ini Lithuania - bersama Latvia, Estonia dan Polandia - melarang semua turis Rusia, dengan alasan mereka seharusnya tidak menikmati demokrasi dan kebebasan di Eropa ketika pemerintah mereka menyerang nilai-nilai tersebut dengan perangnya di Ukraina.

Kebijakan itu membuat khawatir kalangan aktivis oposisi Rusia yang tinggal di luar negeri.

"Aneh melarang orang hanya karena orang tersebut warga Rusia, tanpa mempertimbangkan apakah mereka mendukung atau tidak mendukung rezim Putin," kata Anastasia Shevchenko. Dia adalah seorang aktivis yang pernah menjalani tahanan rumah selama dua tahun karena turut melakukan protes menentang presiden Rusia.

Ketika Rusia menyerbu negara tetangganya, Ukraina, Anastasia menjalani hukuman yang ditangguhkan, dan jika melakukan pelanggaran, sekalipun hanya komentar menentang perang, dia terancam dijebloskan di penjara.

Tetapi Anastasia tidak bisa tinggal diam, jadi dia mengepak barang-barang milik keluarga ke dalam beberapa koper saja dan melarikan diri ke Lithuania pada tengah malam.

"Apa yang terjadi di Rusia sekarang seperti ketakutan total," kata Anastasia kepada wartawan BBC Sarah Rainsford di Vilnius. "Begitu banyak orang ketakutan karena kita tahu mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak hanya penjara, atau denda: mereka bisa dibunuh atau diracuni. Ini seperti penjara raksasa. Di antero negeri."

baca juga

Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan mobilisasi tentara cadangan untuk bertempur di Ukraina - ujian nyata pertama mengenai seberapa besar dukungan rakyat terhadap invasinya.

Pengunjuk rasa menggelar aksi di banyak kota dan meneriakkan yel-yel "menolak perang !" bahkan "Putin masuklah ke parit!". Lebih dari 1.000 orang ditahan dan sebagian langsung disodori surat pemanggilan tugas militer ketika mereka masih di kantor polisi.

Rakyat Ukraina tak bersimpati

Kendati demikian, semakin banyak warga Rusia melarikan diri ke negara-negara lain dengan jalan yang ada.

Meskipun antrean untuk masuk ke Finlandia meningkat, Latvia dan Estonia sama-sama mengatakan warga Rusia tidak bisa menggunakan dalih mangkir dari dinas militer untuk mengajukan permohonan suaka.

Lithuania akan mempertimbangkan permohonan kasus per kasus, tetapi perdana menterinya kemudian mengklarifikasi bahwa "bukan kewajiban negara-negara lain untuk menyelamatkan warga Rusia yang melarikan diri dari mobilisasi".

Sementara itu, warga Ukraina tidak menunjukkan simpati terhadap rakyat Rusia yang melarikan diri dari wajib militer, jika mereka sejak awal tidak memprotes pembunuhan terhadap penduduk sipil Ukraina.

Sebagian memandang para aktivis yang paling dipersekusi sekalipun sebagai pengecut, sebab risiko yang mereka hadapi karena menentang Presiden Putin tidak ada artinya jika dibanding mereka yang dibombardir oleh militer Rusia.

Namun para aktivis mengatakan persoalannya tidak semudah itu.

"Tentu, kami merasakan tanggung jawab ini. Kami seharusnya memanfaatkan kesempatan untuk membawa perubahan di negara kami," kata mantan anggota parlemen dari kubu oposisi Dmitry Gudkov.

"Putin adalah penjahat perang, dia membunuh orang. Tapi bagaimana rakyat Rusia di dalam negeri menghentikan Putin? Tidak mungkin."

Dmitry Gudkov meninggalkan Moskow jauh sebelum perang, dengan mengatakan dia diperingatkan untuk pergi - atau masuk penjara. Sekarang, semua sosok oposisi terkenal Rusia berada di tahanan, meninggal dunia atau hidup di pengasingan.

Baca juga:

Dalam pertemuan baru-baru ini di Vilnius, tertera slogan di panggung berisi seruan agar warga Rusia di luar negeri "berani, seperti Ukraina", tapi suasananya tampak tak bersemangat.

Banyak orang sekarang berkaca pada Ukraina untuk melakukan apa yang gagal mereka lakukan secara damai di dalam wilayah Rusia: mengalahkan Putin.

"Saya pikir Barat harus meningkatkan bantuan militer kepada Ukraina, itulah satu-satunya jalan," kata Gudkov.

Tim dari politikus oposisi yang dipenjarakan, Alexei Navalny, setuju dengan pandangan itu, tetapi lebih jauh lagi. Sejak Navalny dipenjara, puluhan anggota timnya berpindah ke Vilnius untuk melarikan diri dari persekusi sebagai "ekstremis".

"Putin membuat kesalahan terbesarnya ketika menyerbu Ukraina. Saya yakin dia memperpendek masa kekuasaannya," kata Leonid Volkov, tangan kritikus Putin, Alexei Navalny.

Mobilisasi tentara cadangan telah mengukuhkan keyakinan itu. Video yang menunjukkan pria-pria menangis berkaca-kaca menyampaikan perpisahan dengan keluarga mereka menyebar di Rusia.

"Tak seorang pun menyerang Rusia, tak seorang pun memerlukan perpisahan itu," tulis Volkov di Twitter. "Tapi pada 24 Februari, orang gila menjerumuskan negaranya ke jalan buntu."

Tim Navalny berusaha merongrong dukungan terhadap perang via YouTube. Pemirsa acaranya yang diproduksi di Vilnius, meningkat dua kali lipat sejak invasi.

Mereka juga mendesak Barat memberlakukan sanksi lebih luas - bukan larangan visa bagi seluruh rakyat Rusia.

Mereka menghendaki sekutu-sekutu Ukraina untuk tidak hanya menyasar lingkaran dekat Presiden Putin dan menjatuhkan sanksi kepada kalangan yang dia sebut sebagai "fasilitator perang" - daftar berisi lebih dari 6.000 nama, mulai dari hakim hingga wartawan media pemerintah.

"Seruan kami kepada pemerintah negara-negara Barat ialah menjatuhkan sanksi kepada semua orang tersebut dan memberikan strategi jalan keluar kepada mereka: katakan kepada mereka apa yang dapat mereka lakukan agar nama mereka dicabut dari daftar," jelas Volkov.

"Langkah ini akan menyebabkan perpecahan. Banyak dari mereka akan berpindah haluan, dan sistemnya Putin tidak akan berjalan tanpa mereka," tambahnya.

Pasukan Rusia terpaksa mundur dari banyak wilayah di Ukraina belakangan ini dan Presiden Putin mengatasinya dengan cara biasanya: eskalasi.

Anak diminta membuat surat kepada tentara Rusia

Di samping mobilisasi tentara cadangan, Putin juga mengancam akan mencaplok lebih banyak wilayah Ukraina dan kepada Barat mengeluarkan peringatan penggunaan senjata.

Upaya tersebut menjadi taruhan besar bagi presiden Rusia dan situasi bisa saja memburuk.

Oleh sebab itu, aktivis Anastasia Shevchenko kesulitan mengatasi rasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih untuk menghentikan Putin.

"Saya menyalahkan diri sendiri dan ini tidak mengenakkan, percayalah," akuinya.

Tetapi keputusannya meninggalkan Rusia sudah bulat ketika putranya yang bersekolah di SD harus menulis surat kepada tentara berisi harapan mereka menang.

Akan tetapi, putranya justru menulis para tentara tidak berhak memerangi tetangga mereka .

"Saya kira apa yang dapat kita lakukan sekarang sebagai rakyat Rusia adalah meminta maaf- dan memprotes Vladimir Putin," jelas Anastasia. "Karena Putin pribadi lah penyebab apa yang terjadi. Mengapa begitu banyak orang meninggal."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:32 WIB

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Said Abdullah Desak PBB Seret Israel ke Mahkamah Pidana Internasional

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Said Abdullah Desak PBB Seret Israel ke Mahkamah Pidana Internasional

News | Sabtu, 04 April 2026 | 11:02 WIB

Rusia Ancam Inggris dan Sekutunya Atas Keterlibatan dengan Perang Ukraina: Kami Akan Membunuh Mereka

Rusia Ancam Inggris dan Sekutunya Atas Keterlibatan dengan Perang Ukraina: Kami Akan Membunuh Mereka

News | Rabu, 16 April 2025 | 16:50 WIB

Putin Tolak Mentah-Mentah Gencatan Senjata Usulan Trump, Apa Sebabnya?

Putin Tolak Mentah-Mentah Gencatan Senjata Usulan Trump, Apa Sebabnya?

News | Jum'at, 14 Maret 2025 | 22:59 WIB

Putri Duterte Rodrigo Murka Usai Penangkapan Ayahnya oleh ICC

Putri Duterte Rodrigo Murka Usai Penangkapan Ayahnya oleh ICC

News | Rabu, 12 Maret 2025 | 17:23 WIB

Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ditangkap, Kasus Apa?

Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte Ditangkap, Kasus Apa?

News | Selasa, 11 Maret 2025 | 13:02 WIB

Zelenskyy Klaim Eropa Bersatu Dukung Perdamaian Ukraina Pasca Ketegangan dengan Trump

Zelenskyy Klaim Eropa Bersatu Dukung Perdamaian Ukraina Pasca Ketegangan dengan Trump

News | Senin, 03 Maret 2025 | 19:21 WIB

Elon Musk Salahkan Zelensky atas Perang Ukraina: "Kejam dan Tidak Manusiawi!"

Elon Musk Salahkan Zelensky atas Perang Ukraina: "Kejam dan Tidak Manusiawi!"

News | Senin, 03 Maret 2025 | 16:06 WIB

Serangan Drone Rusia Hujani Ukraina, Ibu Kota Kyiv Terdampak

Serangan Drone Rusia Hujani Ukraina, Ibu Kota Kyiv Terdampak

News | Rabu, 19 Februari 2025 | 09:10 WIB

Semangati Anak-anak Korban Perang Palestina dan Ukraina di Roma, Megawati: Be Strong, Be Careful!

Semangati Anak-anak Korban Perang Palestina dan Ukraina di Roma, Megawati: Be Strong, Be Careful!

News | Senin, 03 Februari 2025 | 09:11 WIB

Terkini

Review Masterplan: Suguhkan Aksi Pencurian Lukisan Mona Lisa Paling Seru!

Review Masterplan: Suguhkan Aksi Pencurian Lukisan Mona Lisa Paling Seru!

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 16:00 WIB

Eks Bomber Klub Italia: Timnas Indonesia Jangan Takut dengan Jepang di Piala Asia 2027

Eks Bomber Klub Italia: Timnas Indonesia Jangan Takut dengan Jepang di Piala Asia 2027

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:56 WIB

Potret Harley-Davidson Murah Bocor: Intip Wujud Sprint 440 Bergaya Cruiser Klasik

Potret Harley-Davidson Murah Bocor: Intip Wujud Sprint 440 Bergaya Cruiser Klasik

Otomotif | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:54 WIB

Mendagri Dorong Pemda Papua Pegunungan Laksanakan Program Perumahan Sesuai Aturan

Mendagri Dorong Pemda Papua Pegunungan Laksanakan Program Perumahan Sesuai Aturan

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:54 WIB

KRAS Kucurkan 350 Juta Dolar AS untuk Produksi Stainless Steel Slab

KRAS Kucurkan 350 Juta Dolar AS untuk Produksi Stainless Steel Slab

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:52 WIB

Lipstik Matte Viva Bikin Bibir Kering atau Tidak? Cek Formula dan Review Penggunanya

Lipstik Matte Viva Bikin Bibir Kering atau Tidak? Cek Formula dan Review Penggunanya

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:51 WIB

Rahasia Kulit Kencang Tanpa Mengubah Karakter Wajah, Collagen Stimulator Kini Makin Dilirik

Rahasia Kulit Kencang Tanpa Mengubah Karakter Wajah, Collagen Stimulator Kini Makin Dilirik

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:50 WIB

Bergenre Disko-Funk, NCT Dream Ajak Kita Berdansa Lewat Lagu Boogie Woogie

Bergenre Disko-Funk, NCT Dream Ajak Kita Berdansa Lewat Lagu Boogie Woogie

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:50 WIB

Kemensos Hadirkan Beragam Layanan Gratis, Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat

Kemensos Hadirkan Beragam Layanan Gratis, Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:49 WIB

Didakwa Lakukan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Silmy Karim Disebut Terima Rp1,2 Miliar

Didakwa Lakukan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Silmy Karim Disebut Terima Rp1,2 Miliar

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:49 WIB

×