Semakin Banyak Warga Taiwan Tidak Merasa Sebagai Orang China

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 11 Oktober 2022 | 09:58 WIB
Semakin Banyak Warga Taiwan Tidak Merasa Sebagai Orang China
BBC

Suara.com - Setiap tanggal 10 Oktober Taiwan memperingati "Double Ten", hari nasional pulau otonom tersebut.

Hari raya itu terasa sangat signifikan pada tahun ini, saat ketegangan dengan Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, sedang pada level tertinggi; dan pemimpin China Xi Jinping, yang sangat vokal tentang "re-unifikasi", dipastikan akan mendapatkan periode jabatan ketiga pada pertemuan Bersejarah Partai Komunis pekan depan.

Ironisnya, 10 Oktober tidak ada hubungannya dengan Taiwan atau momen apa pun dalam sejarahnya.

Bahkan, ini menandai hari pada tahun 1911, ketika pemberontakan dimulai di Wuchang, Cina tengah yang akhirnya menyebabkan runtuhnya dinasti kekaisaran terakhir - dan pembentukan Republik China.

Jadi mengapa Taiwan merayakan hari itu? Karena nama resmi pulau itu masih Republik China di Taiwan. Bendera yang berkibar di Taipei saat ini masih bergambar bintang putih dengan latar belakang biru dan merah.

Ini adalah warisan unik dari perang saudara Tiongkok. Pada tahun 1949 rezim nasionalis Chiang Kai-shek yang kalah melarikan diri melintasi selat Taiwan ke Taipei.

Selama beberapa dekade Chiang memimpin Taiwan dengan tangan besi, sambil terus menyatakan rezimnya sebagai "pemerintah demokratis sejati China Merdeka".

Hari ini, semua itu tampaknya agak absurd - dan memang demikian bagi banyak orang Taiwan, terutama generasi muda.

Hanny Hsian, seorang pramugari berusia 38 tahun yang tinggal di Taipei bersama suaminya, seorang warga Amerika, serta dua anaknya, melambangkan perubahan itu.

"Kakek-nenek saya berasal dari China dan mereka masih patriot China," kata Hanny. "Tapi bagi saya, saya lahir dan besar di Taiwan, saya tidak ragu bahwa saya orang Taiwan. China bukanlah tanah air kami.

"China tidak pernah memiliki Taiwan. Beberapa orang melarikan diri dari China ke Taiwan. Tapi itu tidak berarti mereka memiliki pulau ini."

Hanny tidak sendiri. Beberapa jajak pendapat tahun ini menunjukkan bahwa 70% hingga 80% orang di sini sekarang menganggap diri mereka sebagai "orang Taiwan".

Itu peningkatan yang signifikan dari satu dekade yang lalu, ketika sekitar setengah populasi masih mengatakan mereka adalah "orang China".

Tren ini tidak luput dari perhatian di Beijing. Dan Beijing pun membalas.

Sejak Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi berkunjung ke Taiwan pada bulan Agustus lalu, ada banyak pembicaraan tentang berapa lama sampai China menginvasi Taiwan. Yang kurang dibicarakan ialah tekanan ekonomi yang sudah dilakukan Beijing.

China adalah pasar besar bagi Taiwan, terutama untuk industri makanannya.

Berkendaralah di sepanjang pantai barat daya, tepat di selatan Tainan, dan sulit untuk mengetahui di mana daratan berakhir dan laut dimulai.

Area lahan pertanian yang luas telah diubah menjadi kolam air asin yang sangat besar. Itu tidak tampak cantik, tetapi di bawah permukaan kolam-kolam yang berlumpur, tersimpan harta karun.

Su Guo-zhen sedang mengosongkan ember berisi sarden ke salah satu kolamnya.

Airnya berbusa saat puluhan ikan besar berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan. Ini adalah ikan Kerapu - ada ratusan jumlahnya di kolam Su.

"Sebaiknya jangan masukkan kakimu ke dalam air!" katanya sambil tertawa. "Mereka sangat teritorial dan sangat agresif".

Mereka juga sangat mahal. Di atas meja makan di Shanghai dan Beijing, ikan Kerapu dewasa dapat dihargai $2.000 (Rp30 juta).

Sampai musim panas ini, sekitar 80% dari Kerapu yang dibudidaya di Taiwan diekspor ke China. Sekarang angkanya turun ke nol persen.

"China adalah pasar terbaik untuk ikan-ikan ini" kata Su. "Mereka menyantapnya di jamuan makan dan perayaan. Ini sangat populer."

Tetapi sejak China melarang impor pada bulan Juni, imbuhnya, pelanggan di China daratan berhenti memesan Kerapu dari Taiwan, yang membuat para pembudidaya khawatir harganya akan jatuh.

Namun, Su mengatakan telah terjadi perubahan sikap: "Peternak ikan yang lebih tua seperti saya gugup. Tetapi peternak muda tidak khawatir. Mereka berpikir, baiklah kalau China tidak membeli, kami akan menjual ke pasar lain di seluruh dunia yang punya populasi orang China."

Putri dan menantu Su sekarang melakukan itu, memasarkan Kerapunya di Singapura, San Francisco, dan Vancouver. Sementara petani nanas Taiwan mengirimkan hasil panen mereka tahun ini ke Jepang.

Ini transisi yang sulit. Seperti ketergantungan Eropa pada gas Rusia, ketergantungan Taiwan yang berlebihan pada pasar China yang besar telah membuatnya rentan.

Tetapi kalau Beijing berpikir tekanan ekonomi terhadap Taiwan akan berhasil, itu tampaknya telah menjadi bumerang.

Sekitar setengah dari populasi Taiwan sekarang mendukung kemerdekaan formal, bahkan di bawah ancaman serangan dari China.

Sebuah jajak pendapat tahun lalu menunjukkan 75% orang Taiwan mengatakan mereka akan melawan invasi China.

Rasa identitas yang tumbuh ini disertai dengan rasa bangga pada kisah Taiwan sendiri - tentang demokrasinya yang diperoleh dengan susah payah serta transformasinya menjadi salah satu masyarakat paling terbuka di Asia.

Bagi mereka, ancaman dari China bukan hanya ancaman bagi kepemimpinan politik Taiwan. Ini adalah ancaman bagi semua hak dan kebebasan yang dinikmati rakyatnya.

Taiwan adalah satu-satunya tempat di Asia yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

"Menjadi gay dulunya adalah sesuatu yang Anda sembunyikan," kata Mota Lin.

"Tapi sekarang kami terbuka. Dan sikap masyarakat sudah berubah sekarang karena pemerintah telah menerima dan mengakui kami."

Ia tinggal di Taipei selatan bersama pasangannya City Chen serta putri mereka yang berusia dua tahun, Lin-chen.

Dinding apartemen mereka penuh dengan foto keluarga. Lantainya ramai dengan tumpukan mainan. Sukacita kedua perempuan muda ini untuk menjadi orang tua menular. City sedang hamil dengan bayi kedua mereka.

Ia lebih muda dari pasangannya, dan lebih bersemangat tentang identitas Taiwan-nya. Amarah melintas di matanya ketika ditanya tentang ancaman terhadap Taiwan dari China.

"Kami adalah negara yang merdeka dan berdaulat" katanya. "Kalau China ingin merebut Taiwan, mereka harus memulai perang, seperti Rusia di Ukraina. Kalau perang datang, prioritas kami adalah keselamatan keluarga. Jadi, kami mungkin harus pergi."

Ini kemungkinan yang mengerikan. Tetapi bagi Mota Lin, City Chen, Su Guo-zhen, Hanny Hsian, dan 23 juta orang Taiwan lainnya, taruhannya sangat besar.

Selama tiga dekade terakhir, mereka telah menciptakan sesuatu yang luar biasa di sini.

Itu adalah sesuatu yang bisa mereka rayakan dengan bangga hari ini. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan mereka lepaskan, apa pun ancaman dari Beijing.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hanya Lima Pabrikan Mobil China yang Diprediksi Bakal Bisa Bertahan di Pasar Global

Hanya Lima Pabrikan Mobil China yang Diprediksi Bakal Bisa Bertahan di Pasar Global

Otomotif | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:10 WIB

Kurniawan Ingatkan Timnas Indonesia U-17 untuk Rayakan Kemenangan Secukupnya

Kurniawan Ingatkan Timnas Indonesia U-17 untuk Rayakan Kemenangan Secukupnya

Bola | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:44 WIB

5 Drama China Tema Kerajaan Tayang di Netflix, Ada Unveil Jadewind

5 Drama China Tema Kerajaan Tayang di Netflix, Ada Unveil Jadewind

Your Say | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:25 WIB

Netzme Jadi Pelopor QRIS Antarnegara dengan China

Netzme Jadi Pelopor QRIS Antarnegara dengan China

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 12:52 WIB

Manuver Mengejutkan Ford Gandeng Geely untuk Produksi Mobil Listrik

Manuver Mengejutkan Ford Gandeng Geely untuk Produksi Mobil Listrik

Otomotif | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:35 WIB

Donald Trump akan Bahas Taiwan dengan Xi Jinping di Beijing

Donald Trump akan Bahas Taiwan dengan Xi Jinping di Beijing

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 12:01 WIB

Viral Wisatawan Jatuh dari Ayunan Tebing, Korban Sempat Teriak: Tali Tidak Kencang!

Viral Wisatawan Jatuh dari Ayunan Tebing, Korban Sempat Teriak: Tali Tidak Kencang!

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 11:30 WIB

Kurniawan Ingatkan Timnas Indonesia U-17 Jangan Terbuai Usai Berhasil Mengalahkan China

Kurniawan Ingatkan Timnas Indonesia U-17 Jangan Terbuai Usai Berhasil Mengalahkan China

Bola | Rabu, 06 Mei 2026 | 10:01 WIB

Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond di China Demi Perkuat Rupiah

Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond di China Demi Perkuat Rupiah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 09:39 WIB

Trump Akan Temui Xi Jinping Bahas Perang Iran, Harga Minyak Dunia Turun

Trump Akan Temui Xi Jinping Bahas Perang Iran, Harga Minyak Dunia Turun

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 07:50 WIB

Terkini

Ironi Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Saat Rakyat Meksiko Terhimpit Biaya Hidup

Ironi Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Saat Rakyat Meksiko Terhimpit Biaya Hidup

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:16 WIB

Apresiasi Daerah Berprestasi, Mendagri: Perlu Keseimbangan Pengawasan dan Insentif

Apresiasi Daerah Berprestasi, Mendagri: Perlu Keseimbangan Pengawasan dan Insentif

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:10 WIB

Penjelasan PAM Jaya soal Penertiban 15 Rumah Dinas di Benhil

Penjelasan PAM Jaya soal Penertiban 15 Rumah Dinas di Benhil

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:06 WIB

Ada 182 Laporan Dugaan Kekerasan Daycare Little Aresha, Puluhan Orang Tua Siap Tempuh Jalur Hukum

Ada 182 Laporan Dugaan Kekerasan Daycare Little Aresha, Puluhan Orang Tua Siap Tempuh Jalur Hukum

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:02 WIB

Laporan Warga Gambir Bongkar Jaringan Sabu 3 Kota, Polisi Tangkap 3 Tersangka!

Laporan Warga Gambir Bongkar Jaringan Sabu 3 Kota, Polisi Tangkap 3 Tersangka!

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 14:02 WIB

Ortu Korban Daycare Little Aresha akan Kirim Petisi ke UGM, Desak Sanksi Dosen yang Diduga Terlibat

Ortu Korban Daycare Little Aresha akan Kirim Petisi ke UGM, Desak Sanksi Dosen yang Diduga Terlibat

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:55 WIB

Mahfud MD: Komisi Reformasi Fokus Benahi Sistem Karier Polri, Bukan Usul Nama Ganti Kapolri

Mahfud MD: Komisi Reformasi Fokus Benahi Sistem Karier Polri, Bukan Usul Nama Ganti Kapolri

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:47 WIB

Mensos Gus Ipul Berencana Temui KPK Besok, Laporkan Proses Pengadaan di Sekolah Rakyat

Mensos Gus Ipul Berencana Temui KPK Besok, Laporkan Proses Pengadaan di Sekolah Rakyat

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:47 WIB

Hujan Masih Guyur Jabodetabek di Tengah Kemarau, Begini Penjelasan BMKG

Hujan Masih Guyur Jabodetabek di Tengah Kemarau, Begini Penjelasan BMKG

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:19 WIB

Bertemu Prabowo 2,5 Jam, Mahfud MD Blak-blakan Soal 'Penyakit' di Tubuh Polri

Bertemu Prabowo 2,5 Jam, Mahfud MD Blak-blakan Soal 'Penyakit' di Tubuh Polri

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 13:15 WIB