-
Biro jodoh di China kebanjiran klien akibat krisis ketersediaan pasangan bagi 30 juta pria.
-
Tingginya standar ekonomi dan ketimpangan gender menjadi penghambat utama pria China untuk menikah.
-
Tekanan tradisi keluarga terus membayangi para pria lajang di tengah perubahan norma sosial.
Suara.com - Layanan mak comblang profesional kini menjadi tumpuan utama bagi 30 juta pria lajang di China yang kesulitan menemukan pasangan hidup. Fenomena ini dipicu oleh besarnya ketimpangan demografi gender serta tingginya tuntutan standar finansial yang dipatok oleh kaum perempuan.
Penurunan angka pernikahan mencapai tingkat yang signifikan dengan hanya tersisa 6,76 juta pasangan tercatat pada 2025. Jumlah tersebut merosot hingga separuhnya dibandingkan data satu dekade lalu akibat imbas kebijakan satu anak di masa lalu.
Ketidakseimbangan populasi menyebabkan jumlah pria melebihi perempuan hingga selisih 30 juta jiwa di seluruh penjuru negeri. Kondisi ini membuat proses pencarian pasangan di pasar percomblangan menjadi sangat ketat dan penuh tekanan.
![Ilustrasi biro jodoh di mal. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/05/91900-ilustrasi-biro-jodoh-di-mal.jpg)
Para perempuan kini menetapkan kriteria calon suami yang terbilang berat, seperti kepemilikan apartemen bebas cicilan dan pekerjaan berpenghasilan stabil. Kegagalan memenuhi kriteria materi kerap membuat peluang pria muda langsung gugur sejak pertemuan pertama.
"Dulu, klien saling menghargai satu sama lain," kata mak comblang Sun Guanle, 54, dikutip dari CNA, Senin (3/8/2026).
"Sekarang semua mencari yang prospek masa depannya bagus. Semua mau menikah dengan yang statusnya lebih tinggi dan enggan berjuang hingga bertahun-tahun."
Selain kendala finansial, keterbatasan waktu bersosialisasi dan minimnya keahlian komunikasi turut menghambat para pria lajang. Biro jodoh modern hadir tidak sekadar mempertemukan kandidat, tetapi juga memberikan bimbingan intensif soal tata cara berkencan.
Kerap kali para agen perjodohan harus mengoreksi ekspektasi realistis klien pria yang terlalu menuntut kriteria fisik atau profesi tertentu. Intervensi psikologis ini dinilai krusial agar pencarian pasangan tidak berujung pada kegagalan berulang.
"Target dari pertemuan pertama adalah pertemuan lanjutan," ujar mak comblang Jiang Ping, 43.
"Jangan habiskan empat atau lima jam di pertemuan pertama lalu berpikir sudah menemukan 'jodoh'. Dari pengalaman saya, koneksi seperti itu biasanya tidak berujung pada pertemuan lanjutan."
Meskipun opsi platform digital seperti siaran langsung mulai marak digunakan, norma sosial modern juga menciptakan pergeseran pandangan baru. Sebagian perempuan independen mulai memilih membesarkan anak tanpa status pernikahan formal seiring adanya dukungan regulasi pemerintah daerah.
Jiang Ping, yang juga memilih membesarkan anak secara mandiri tanpa menikah, menyampaikan pandangannya mengenai pergeseran ini.
"Pernikahan itu pilihan. Tidak semua orang harus menikah," katanya.
Di sisi lain, dorongan kultural untuk membentuk keluarga utuh tetap membebankan tekanan mental yang besar bagi pria lajang. Orang tua di wilayah pedesaan masih menganggap status pernikahan sebagai tolok ukur utama kesuksesan hidup seseorang.
"Di pedesaan, tempat kami berasal, semua orang harus menikah. ... Seberapa pun suksesnya karier seseorang, dia tidak akan pernah dianggap benar-benar sukses kalau belum menikah," kata ayah dari salah satu klien perjodohan.
Fenomena lonjakan permintaan jasa percomblangan di China merupakan imbas panjang dari kebijakan ketat satu anak yang diterapkan pemerintah selama beberapa dekade. Kebijakan tersebut melahirkan ketimpangan rasio gender ekstrem yang menempatkan puluhan juta pria pada posisi tidak menguntungkan dalam perburuan pasangan.
Pergeseran gaya hidup urban, jam kerja yang panjang, serta melambungnya biaya hidup semakin memperumit krisis pernikahan di negeri panda tersebut. Ditambah lagi dengan meningkatnya kemandirian finansial perempuan modern, institusi pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sebuah keharusan mutlak bagi seluruh lapisan masyarakat China.