Bharada E Berikan Kesaksian dalam Sidang Pembunuhan Brigadir J

Siswanto

Kamis, 01 Desember 2022 | 07:17 WIB
Bharada E Berikan Kesaksian dalam Sidang Pembunuhan Brigadir J
Bharada E saat memberi kesaksian di sidang terdakwa Kuat Maruf dan Ricky Rizal. (tangkapan layar/Arga)

Suara.com - Rasa takut, gelisah, dilema, hingga ragu. Berbagai gejolak emosi tersebut ditunjukkan dengan jelas oleh Richard Eliezer atau Bharada E, terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J), ketika menyampaikan kesaksiannya dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (30-11).

Sayangnya, gejolak emosi tersebut tak cukup kuat untuk menghentikan Richard Eliezer dari menarik pelatuk dan merenggut nyawa Yosua Hutabarat di Duren Tiga, tepatnya di rumah dinas Ferdy Sambo yang saat itu menjabat sebagai seorang Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan.

Sebanyak tiga sampai empat timah panas ia tembakkan ke arah Yosua yang berada dalam posisi merendahkan tubuh.

Tepat di hadapan dua terdakwa lainnya, yakni Kuat Maruf dan Ricky Rizal atau Bripka RR, Richard menuturkan rangkaian peristiwa beserta apa yang dirinya rasakan pada detik-detik menjelang terbunuhnya Brigadir J.

Richard bahkan mengaku memimpikan Yosua selama 3 minggu sejak hari kematian Brigadir J, tepatnya sejak Jumat, 8 Juli 2022.

Skenario pembunuhan

Pada Jumat, 8 Juli 2022, Richard mengisahkan mengenai dirinya yang baru saja tiba di Jakarta dari Magelang, Jawa Tengah. Bertempat di rumah pribadi Ferdy Sambo di Saguling, Richard mengaku dirinya diminta oleh Ricky untuk pergi ke lantai tiga atas perintah Ferdy Sambo.

Ketika tiba di lantai 3, dirinya duduk di atas sofa, dan semula hanya bertemu dengan Ferdy Sambo. Ricky, Yosua, dan Kuat Ma’ruf tidak berada di sekitar mereka. Yang menyusul untuk duduk di sofa beberapa saat kemudian adalah Putri Candrawathi.

Saat itu, Ferdy Sambo bertanya kepada Richard apakah dia mengetahui apa yang terjadi di Magelang, dan Richard pun mengaku bahwa ia tidak mengetahui apa yang terjadi di Magelang.

baca juga

Selanjutnya, Ferdy Sambo mengatakan bahwa Yosua Hutabarat telah melecehkan Putri Candrawathi di kediamannya di Magelang.

“Dengar itu saya kaget, takut juga,” tutur Richard.

Richard mengaku merasa takut karena saat itu karena dirinya merupakan salah satu ajudan yang ada di Magelang saat itu. Setelahnya, Ferdy Sambo pun menunjukkan amarah terkait peristiwa yang terjadi di Magelang.

“Kurang ajar ini, kurang ajar. Dia sudah tidak menghargai saya. Dia menghina harkat martabat saya,” ucap Richard ketika mengutip Ferdy Sambo.

Bahkan, Richard mengungkapkan Ferdy Sambo sempat mengucap, “Harus dikasih mati anak ini” dengan emosi dan wajah yang sudah memerah.

Usai menumpahkan emosinya, Richard pun mengungkapkan bahwa Ferdy Sambo mengatakan, “Nanti, kau yang tembak Yosua, ya. Karena kamu yang tembak Yosua, saya yang akan bela kamu. Kalau saya yang tembak, tidak ada yang bela kita.”

Ferdy Sambo pun memaparkan skenario yang akan mereka gunakan, yakni peristiwa diawali dengan pelecehan dari Yosua terhadap Putri Candrawathi. Kemudian, Putri berteriak dan didengar dengan Richard.

Setelah Richard datang ke tempat Putri dan Yosua ketahuan, terjadi adu tembak antara Yosua dengan Richard, yang berakhir pada terbunuhnya Richard. Demikian paparan skenario oleh Sambo kepada Richard, tepat di hadapan Putri Candrawathi.

Mendengar skenario tersebut, Richard mengaku kaget, takut, dan merasa tertekan. Pergolakan tersebut mengakibatkan pikirannya menjadi kacau dan dirinya terdiam.

Ketika meyakinkan Richard untuk melakukan penembakan, Ferdy Sambo berulang kali mengatakan bahwa skenario tersebut menempatkan Richard dalam posisi yang aman. Pertama, Richard berada di dalam posisi membela Putri Candrawathi. Kedua, Richard berada di dalam posisi membela diri karena, berdasarkan skenario, Yosua menembak Richard terlebih dahulu.

Oleh karena itu, Ferdy Sambo menegaskan kepada Richard bahwa ia berada di dalam posisi yang aman.

Lantas, sebelum beranjak menuju rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Richard sempat ke kamar mandi dan berdoa kepada Tuhan.

Ia memohon agar Ferdy Sambo berubah pikiran dan berharap agar peristiwa Duren Tiga tidak terjadi.

Penembakan Brigadir J

Beranjak menuju Duren Tiga, Richard mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasa takut ketika berada di lantai 2. Kala itu, ia menyempatkan diri untuk kembali berdoa di kamar dan terdiam selama beberapa saat.

“Dalam pikiran saya, ‘wah, sudah mau terjadi’,” ucap Richard dikutip dari Antara.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara Ferdy Sambo yang memasuki kediaman. Pada momen itu, berdasarkan kesaksian Richard, Ferdy Sambo telah menggunakan sarung tangan karet hitam.

Richard pun turun dari lantai dua untuk menghampiri Ferdy Sambo. Ketika tiba di hadapan Ferdy Sambo, Richard mendengar Sambo bertanya, “Sudah kau isi senjatamu?”

Dengan jujur, Richard mengatakan bahwa dirinya belum mengisi, dalam hal ini mengokang senjatanya. Usai diberi perintah, Richard pun mengokang senjata miliknya, yakni Glock.

Tak lama kemudian, Yosua masuk bersama Ricky dan Kuat Ma’ruf yang berada di belakang Yosua. Saat Yosua masuk, tutur Richard, Ferdy Sambo langsung menoleh ke arah Yosua dan berseru, “Sini kamu!”

Richard juga bersaksi bahwa Ferdy Sambo memegang leher Yosua dan meminta Yosua untuk berlutut di depannya.

Akan tetapi, Yosua tidak berlutut dan hanya merendahkan tubuh sembari bertanya-tanya apa yang sedang terjadi saat itu.

Kemudian, Ferdy Sambo melirik ke arah dirinya dan memerintahkan Richard untuk menembak Yosua.

“Melirik ke saya, ‘Woy kau tembak, kau tembak cepat! Cepat kau tembak,” ucap Richard ketika menggambarkan situasi yang ia alami saat itu.

Akhirnya, Richard pun menembak Yosua sebanyak tiga atau empat kali dengan jarak sekitar 2 meter. Kala melontarkan tembakan pertama, Richard mengaku bahwa dirinya sempat menutup mata.

Setelah menerima tembakan, Yosua pun terjatuh dan sempat mengerang kesakitan.

Dihantui kejadian penembakan

Richard mengaku bahwa dirinya menembak karena merasa takut dan tertekan. Perbedaan pangkat di antara dirinya dengan Ferdy Sambo, menurut Richard, bagaikan langit dan bumi.

“Ini jenderal bintang dua, menjabat sebagai Kadiv Propam dan posisi saya, pangkat saya bharada. Pangkat terendah,” ucapnya.

Ia pun tidak tahu harus berbicara kepada siapa mengenai hal ini. Selain itu juga terdapat ketakutan, apabila ia bercerita kepada orang lain dan Ferdy Sambo mengetahui hal tersebut, dia akan menjadi korban seperti Yosua.

Oleh karena itu, Richard memutuskan untuk tetap melakukan penembakan terhadap Yosua. Akan tetapi, pascapenembakan,Richard mengaku dirinya merasa dihantui oleh bayang-bayang Yosua.

Selama 3 minggu, Richard mengatakan dirinya dihantui oleh mimpi buruk. Bayang-bayang Yosua membuatnya merasa takut dan tertekan.

Ia juga merasa bersalah atas penembakan yang telah ia lakukan terhadap Yosua.

Dengan demikian, Richard pun mengakui perbuatannya dan membongkar skenario Sambo.

Penasihat hukum Richard, Ronny Talapessy, juga mengatakan hal yang serupa. Ronny mengatakan bahwa Richard merasa bersalah engingat ia telah menembak teman sendiri, bukan orang lain.

Karenanya, tutur Ronny, pihaknya selalu mendampingi Richard dan sempat melibatkan rohaniawan untuk mendampingi Richard ketika di tahanan.

“Tapi, buat kami, sekarang sudah lebih lega. Kenapa? Karena ketika meminta maaf kepada keluarga korban, kemudian keluarga korban memaafkan, itu sudah lega,” ucap Ronny.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

Tragedi Warung Mi Ayam: Wanita Hamil Tewas Dicekik Gegara Tarif Kencan Kurang Rp200 Ribu

Tragedi Warung Mi Ayam: Wanita Hamil Tewas Dicekik Gegara Tarif Kencan Kurang Rp200 Ribu

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:07 WIB

Wanita Hamil 7 Bulan Tewas Dicekik di Bekasi, Pria 23 Tahun Ditangkap

Wanita Hamil 7 Bulan Tewas Dicekik di Bekasi, Pria 23 Tahun Ditangkap

News | Selasa, 15 September 2026 | 14:56 WIB

Kenalan Lewat Aplikasi Kencan, Wanita 18 Tahun Tewas Usai Bertemu Pria di Bekasi

Kenalan Lewat Aplikasi Kencan, Wanita 18 Tahun Tewas Usai Bertemu Pria di Bekasi

News | Senin, 14 September 2026 | 14:33 WIB

Geger Penemuan Mayat Bayi di Taman Sari, Warga: Awalnya Kayak Ada Bau Bangkai

Geger Penemuan Mayat Bayi di Taman Sari, Warga: Awalnya Kayak Ada Bau Bangkai

News | Jum'at, 11 September 2026 | 14:14 WIB

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

News | Selasa, 08 September 2026 | 16:23 WIB

Pembunuhan di Rumah Miring: Misteri Ruang Tertutup yang Menguji Logika

Pembunuhan di Rumah Miring: Misteri Ruang Tertutup yang Menguji Logika

Your Say | Selasa, 08 September 2026 | 08:35 WIB

22 Tahun Berlalu, Aktivis Tetap Tuntut Keadilan untuk Munir

22 Tahun Berlalu, Aktivis Tetap Tuntut Keadilan untuk Munir

Foto | Senin, 07 September 2026 | 20:26 WIB

Ulasan The Newcomer: Ketika Rahasia Warga Nihonbashi Mengarah pada Sebuah Pembunuhan

Ulasan The Newcomer: Ketika Rahasia Warga Nihonbashi Mengarah pada Sebuah Pembunuhan

Your Say | Senin, 07 September 2026 | 12:30 WIB

Salvation of a Saint: Misteri Pembunuhan dengan Alibi yang Nyaris Mustahil

Salvation of a Saint: Misteri Pembunuhan dengan Alibi yang Nyaris Mustahil

Your Say | Kamis, 03 September 2026 | 14:30 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Health | Senin, 21 September 2026 | 23:37 WIB

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:31 WIB

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:16 WIB

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Video | Senin, 21 September 2026 | 23:10 WIB

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 23:02 WIB

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

Sumut | Senin, 21 September 2026 | 22:53 WIB

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Bogor | Senin, 21 September 2026 | 22:52 WIB

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 22:45 WIB

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 22:44 WIB

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

×