Menengok Alasan Gus Yahya Larang Kader Wanita NU Ikut-ikutan Feminisme

Ruth Meliana Dwi Indriani

Kamis, 02 Februari 2023 | 15:38 WIB
Menengok Alasan Gus Yahya Larang Kader Wanita NU Ikut-ikutan Feminisme
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. [Biro Pers Sekretariat Presiden/Rusman]

Suara.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melarang kader perempuannya untuk mengikuti gagasan-gagasan yang diusung oleh kalangan feminisme.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat berdialog dengan sejumlah pimpinan redaksi media massa nasional di kantor PBNU Jakarta Pusat, Rabu (1/2/2023).

Adapaun larangan itu muncul dari Gus Yahya sebagai jawaban dari pertanyaan mengenai feminisme yang diajukan oleh Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosiana SIlalahi.

Alasan Gus Yahya larang ikut feminisme

Gus Yahya lalu menjelaskan sejumlah alasan mengapa ia tegas melarang kader perempuan NU, utamanya yang tergabung dalam Fatayat dan Muslimat NU untuk latah ikut-ikutan feminisme.

Alasan yang paling mendasar, menurut Gus Yahya, adalah karena feminisme bukan berasal dari ajaran maupun tradisi Islam.

"Soal feminisme itu saya bilang, jangan ikut-ikutan feminisme karena itu isme. Isme yang pada dasarnya sebetulnya tumbuh di luar lingkungan tradisi Islam. Saya bilang kepada teman-teman, kita ini Islam, NU ini Islam. Kita harus kembalikan dulu ke motivasi Islam," kata Gus Yahya.

Menurut dia, bukan berarti Islam tidak mengakomodir atau tidak membela perempuan. Namun jika ingin berpikir mengenai perempuan, lanjut Gus Yahya, maka harus menggunakan sudut pandang Islam.

Perbedaan nilai NU dengan feminisme

baca juga

Lebih lanjut Gus Yahya menyatakan ada sejumlah perbedaan nilai yang dianut NU dengan kelompok feminis tertentu.

Salah satunya, ia mencontohkan ketika ajang Piala Dunia 2022 digelar, pemain sepakbola asal Maroko Achraf Hakimi menjadi sasaran kritik seorang feminis dari Belanda ketika merayakan kemenangan dengan ibunya.

Menurut Gus Yahya, ketika itu feminis tersebut menyatakan dalam tulisannya agar Achraf tidak perlu terlalu mengglorifikasi ibunya, karena perempuan tak hanya harus berperan sebagai ibu.

"Terus terang saja, dalam tradisi Islam sampai hari ini, dalam Nahdlatul Ulama, perempuan itu pertama-tama adalah ibu. Itu sebabnya kami buat inisiasi, strategi gerakan perempuan dengan NU untuk mengedepankan peran perempuan sebagai ibu," kata Gus Yahya.

Gus Yahya melanjutkan, pandangan feminis tersebut bertentangan dengan nilai yang dianut oleh NU, yakni menyatakan ibu-ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

NU tetap berpihak pada perempuan

Meski mengaku memiliki perbedaan nilai dengan kalangan feminis mengenai posisi dan doktrin mengenai perempuan, Gus Yahya menegaskan bahwa NU tetap memberikan ruang ekspresi untuk perempuan.

Ia mengatakan, perempuan telah mengambil peran dalam sejarah Gerakan di internal NU sejak 1938, ketika digelar muktamar di Menes, Banten.

Ia bercerita ketika itu peserta muktamar NU hanya dihadiri oleh laki-laki. Namun, setelah itu muncul tuntutan dari sejumlah perempuan NU agar dapat hadir dalam muktamar itu.

Akhirnya, dengan penuh kebesaran hari, para kiai saat itu mengizinkan dua nyai untuk hadir dan berpidato di muktamar. Dua nyai itu adalah Nyai Djuaesih dan Nyai Siti Saroh.

Kesempatan berpidato itu digunakan kedua nyai itu untuk menuntut kesetaraan hak perempuan di kalangan pesantren untuk mendapatkan Pendidikan yang setara dengan laki-laki.

Sejak itulah, Gus Yahya menyebut setiap Muktamar NU digelar, maka aka nada satu ruangan rapat khusus untuk kader NU perempuan.

Gerakan dua nyai itu menjadi pelopor berdirinya organisasi otonom perempuan NU pada 1946 yakni Muslimat NU hingga melahirkan sejumlah kader perempuan NU yang potensial, seperti Alyssa Wahid dan Khofifah Indar Parawansa.

"Sejak itu, saya kira juga sebelumnya, walaupun belum menjadi sistem, belum menjadi fenomena yang merata, sudah mulai ada kesempatan bagi perempuan-perempuan NU untuk mengembangkan kapasitasnya," tandasnya.

Kontributor : Damayanti Kahyangan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wapres Lempar Wacana 'Santrinisasi' Indonesia, Ketum PBNU Beri Tanggapan

Wapres Lempar Wacana 'Santrinisasi' Indonesia, Ketum PBNU Beri Tanggapan

Metro | Kamis, 02 Februari 2023 | 10:37 WIB

Soal Ulangan Harian PAI Kelas 4 SD Bab 5 Kisah Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah Kelas 4 SD MI Kurikulum Merdeka

Soal Ulangan Harian PAI Kelas 4 SD Bab 5 Kisah Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah Kelas 4 SD MI Kurikulum Merdeka

Semarang | Kamis, 02 Februari 2023 | 09:41 WIB

Sekilas Profil KH Marsudi Syuhud, Tokoh PBNU yang Jadi Sorotan

Sekilas Profil KH Marsudi Syuhud, Tokoh PBNU yang Jadi Sorotan

News | Rabu, 01 Februari 2023 | 19:32 WIB

Oh Yes! Kang Dedi Berpeluang Batal Jadi Duda, Tali Sepatu Bisa Disimpul Kembali

Oh Yes! Kang Dedi Berpeluang Batal Jadi Duda, Tali Sepatu Bisa Disimpul Kembali

Denpasar | Rabu, 01 Februari 2023 | 19:18 WIB

Hubungan Ibu dan Anak Angkat dalam Islam, Samakah dengan Anak Kandung?

Hubungan Ibu dan Anak Angkat dalam Islam, Samakah dengan Anak Kandung?

News | Rabu, 01 Februari 2023 | 12:35 WIB

4 Adab Berhutang dalam Agama Islam, Wajib Ada Tekad Melunasi

4 Adab Berhutang dalam Agama Islam, Wajib Ada Tekad Melunasi

News | Rabu, 01 Februari 2023 | 11:53 WIB

Terkini

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:28 WIB

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:12 WIB

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok

Bogor | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:49 WIB

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:37 WIB

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan

Bri | Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:28 WIB

×