Melacak Jejak Bawah Tangan Pegasus 'Senjata Pembungkam Massa' di Indonesia

Tim Liputan Khusus

Senin, 12 Juni 2023 | 06:00 WIB
Melacak Jejak Bawah Tangan Pegasus 'Senjata Pembungkam Massa' di Indonesia
Ilustrasi penyadapan. [Suara.com/Emma Rohimah]

Suara.com - Pembungkaman demokrasi di berbagai belahan dunia mulai menjadi isu setelah munculnya perangkat penyadap mutakhir, Pegasus buatan Israel. Di Indonesia, sejumlah lembaga penegak hukum disinyalir mendatangkan alat zero click yang harganya hingga ratusan miliar rupiah itu dengan mekanisme bawah tangan.

MASIH lekat dalam ingatan, kisah kekejaman yang dialami jurnalis Jamal Khashoggi pada tahun 2018 silam. Kolumnis Washington Post News itu ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh terpotong-potong dalam suatu operasi yang dilancarkan pejabat Arab Sadudi di Istanbul, Turki.

Gerak-gerik Khashoggi terlacak, lantaran Pemerintah Arab Saudi menggunakan Pegasus untuk meretas telepon miliknya dan sang istri, Hanan Elatr.

Istri Kashoggi itu diketahui telah menjadi target dalam beberapa bulan melalui perangkat lunak Pegasus yang dapat mengubah ponsel menjadi perangkat pengawasan. Cara kerjanya dengan mengaktifkan mikrofon dan kamera tanpa sepengetahuan pengguna.

Kisah Elatr hanya potongan cerita dari serangan serupa yang dialami jurnalis di berbagai belahan dunia lainnya. Seperti pada 2017, dalam laporan peneliti Citizen Lab, lembaga yang melakukan kajian penelitian berbasis di Toronto, menyebut, aparat dan Pemerintah Meksiko menggunakan Pegasus untuk meretas akun para pendukung pajak soda sebagai bagian dari kampanye untuk melawan gerakan oposisi politik dan jurnalis. 

Pun siapa menyangka, jika keberadaan Pegasus tersebut kini mulai masuk ke wilayah Asia. Dari hasil pelacakan Citizen Lab, perangkat Pegasus digunakan dalam operasi pembungkaman aktivis, masyarakat sipil, jurnalis prodemokrasi di Thailand.

Senjata spionase di dunia maya itu dipakai untuk melawan demonstran di Thailand. Dalam proses penyelidikan yang dilakukan pada 2020-2021, sebanyak 30 korban terinfeksi Pegasus.

"Kami menemukan serangan di telepon iPhone. Serangan terjadi balik layar. Tidak kasat mata jika seorang user tahu kena Pegasus," kata peneliti Citizen Lab, Irene Poetranto kepada IndonesiaLeaks, baru-baru ini.

Menurut Irene, mudahnya melacak seseorang yang terindikasi karena Pegasus teridentifikasi dari adanya notifikasi pada telepon seluler iPhone dan sistem IOS berisikan ada serangan mencurigakan. IPhone mampu memberitahu, lantaran belajar dari pengalaman serangan Pegasus yang kerap menembus celah keamanan IOS.

baca juga

Dari pemberitahuan itu, Citizen Lab, yang mengkhususkan dalam pengawasan terkait Pegasus NSO Group, melakukan penyelidikan forensik. Hasil forensik menunjukkan adanya kode tertentu yang hanya dimiliki NSO.

"Ada kode tertentu yang menandakan itu serangan pegasus," kata Irene. 

Indikasi masuknya Pegasus di Indonesia ditandai dengan masuknya, dua perangkat alat milik Q Cyber Technologie Sarl melalui Bandara Soekarno Hatta pada 15 Desember 2020 lalu. Kedua alat itu dilabeli Cisco Reuters dan Dell Server dengan kode HS 8471.50.

Q Cyber Technologie Sarl merupakan induk usaha dari NSO Group sebuah perusahaan asal Israel yang memproduksi Pegasus. Dari dokumen yang diperoleh Indonesialeaks, alat tersebut dipesan oleh PT Mandala Wangi Kreasindo.

Sebelum tiba di Indonesia, alat sadap itu diterbangkan dari Jepang lalu transit di Inggris.

Saat masuk ke Indonesia, Bea Cukai mecurigai alat canggih tersebut. Sehingga kedua alat itu masuk dalam kategori zona merah setelah melalui pemeriksaan. Zona merah sendiri menandakan bahwa alat tersebut mencurigakan sehingga harus dibuka dan diperiksa sebelum diterima pemilik barang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dewas KPK Terima 1.460 Pemberitahuan Penyadapan dari Penyidik Sepanjang 2022

Dewas KPK Terima 1.460 Pemberitahuan Penyadapan dari Penyidik Sepanjang 2022

News | Senin, 09 Januari 2023 | 18:42 WIB

KPK Ngebet RUU Perampasan Aset Dan Penyadapan Disahkan DPR, Ternyata Belum Jadi Fokus Pembahasan

KPK Ngebet RUU Perampasan Aset Dan Penyadapan Disahkan DPR, Ternyata Belum Jadi Fokus Pembahasan

News | Kamis, 31 Maret 2022 | 14:18 WIB

KPK Minta RUU Penyadapan Dan Perampasan Segera Disahkan, Firli Bahuri Malah Kena Sentil DPR: Targetnya Apa?

KPK Minta RUU Penyadapan Dan Perampasan Segera Disahkan, Firli Bahuri Malah Kena Sentil DPR: Targetnya Apa?

News | Rabu, 30 Maret 2022 | 12:54 WIB

Terkini

3  Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:42 WIB

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 22:41 WIB

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:44 WIB

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:43 WIB

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:28 WIB

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM

Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:18 WIB

Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT

Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:12 WIB