Suara.com - Belakangan ini muncul isu kalau kondisi Indonesia saat ini yang tengah mengalamai kemunduran demokrasi disamakan dengan kondisi Amerika Serikat dalam masa kepemimpinan Donald Trump.
Hal itu pun disampaikan langsung oleh Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis. Perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil sekaligus Cendekiawan, Sukidi mengatakan, Amerika yang notabene sudah merdeka ratusan tahun dengan sistem demokrasi terdepan pernah berada dalam kondisi kemunduran saat dipimpin Donald Trump.
"Buat saya Donald Trump ini adalah figur sempurna dari seorang penguasa yang Machiavellian, yang menggunakan politik dan kekuasaan dengan cara-cara yang brutal, bahkan telah menampilkan dirinya sebagai figur yang begitu didambakan oleh Machiavelli, pemimpin yang ditakuti," ujar Sukidi.
Selama kepemimpinan Trump, masyarakat Amerika disebutnya dikenalkan politic of fear alias politik ketakutan.
"Amerika mengalami satu situasi di mana demokrasi di Amerika mengalami yang disebut sebagai democratic backsliding. Inilah yang akhir-akhir ini kita rasakan juga di Indonesia," ucapnya.
Di Indonesia, kata Sukidi, sedang masuk dalam era resesi dan kemerosotan demokrasi. Hal ini terlihat dari kasus di Mahkamah Konstitusi (MK), Ketua Komisi Pembetantasan Korupsi (KPK) jadi tersangka, hingga dugaan pengarahan aparat untuk Pemilu.
Sebelum membahas apa yang dilakukan trump sampai terjadi democratic backsliding. Berikut ulasan mengenai democratic backsliding.
Apa itu Democratic Backsliding?
Democratic backsliding merupakan kemunduran demokrasi, juga dikenal sebagai otokratisasi dan de-demokratisasi. Hal itu merujuk pada penurunan kualitas demokrasi secara bertahap dan kebalikan dari demokratisasi.
Jika tak dikendalikan, kemunduran demokrasi mengakibatkan negara kehilangan kualitas demokrasinya, sehingga berpotensi menjadi rezim otokrasi atau otoriter.
Tokoh reformasi Amien Rais pun turut menyebut kalau kini Indonesia tengah mengalami democratic backsliding.
Lantas apa saja yang dilakukan oleh Donald Trump ketika memimpin Amerika Serikat tapi malah menurunkan kualitas demokrasi di sana. Berikut ulasananya.
Democratic Backsliding yang Dilakukan Donald Trump
Merujuk pada laman Brookings, Amerika Serikat sempat mengalami dua bentuk erosi demokrasi yang besar pada lembaga-lembaga pemerintahannya:
1. Manipulasi Pemilu yang Strategis
Berbeda dengan “kecurangan pemilih”, yang hampir tidak ada di Amerika Serikat , manipulasi pemilu kini semakin umum dan ekstrem. Contohnya adalah prosedur pemilu yang mempersulit pemberian suara (seperti fasilitas pemungutan suara yang tidak memadai) atau mengurangi keterwakilan partai lawan (misalnya persekongkolan).
2. Peningkatan Eksekutif
Bahkan seorang pemimpin yang dipilih secara sah pun dapat melemahkan demokrasi jika mereka menghilangkan “pengawasan dan keseimbangan” pemerintahan atau mengkonsolidasikan kekuasaan di lembaga-lembaga yang tidak bertanggung jawab.
Amerika Serikat telah mengalami perluasan kekuasaan eksekutif secara besar-besaran dan upaya serius untuk mengikis independensi pegawai negeri. Selain itu, terdapat pertanyaan serius mengenai ketidakberpihakan sistem peradilan.
Upaya Presiden Trump untuk menggagalkan pemilu tahun 2020 adalah contoh paling nyata, namun bukan satu-satunya, contoh kemunduran demokrasi di Amerika Serikat. Badan legislatif negara bagian di bawah kendali Partai Republik telah berupaya mengurangi akses pemilih terhadap surat suara dan mempolitisasi administrasi pemilu.
Presiden Trump juga terlibat dalam upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melemahkan layanan sipil independen. Mahkamah Agung telah meningkatkan kewenangannya dalam memutuskan perkara pemilu, mempersempit cakupan perlindungan hak suara, dan tampaknya cenderung mendukung politisasi administrasi cabang eksekutif.
Hiperpartisan dan kemacetan membuat Kongres tidak mempunyai posisi yang baik dalam melakukan pengawasan terhadap kekuasaan eksekutif dan yudikatif.
Dari penjabaran isu democratic backsliding di atas. Apakah dilakukan Donald Trump kala itu apakah sama dengan Presiden Jokowi saat ini, bagaimana menurut kalian?