Dari Logam hingga Merkuri, Ini Kandungan Zat Berbahaya Pada Kosmetik Ilegal yang Disita BPOM

Dwi Bowo Raharjo, Lilis Varwati

Senin, 30 September 2024 | 15:56 WIB
Dari Logam hingga Merkuri, Ini Kandungan Zat Berbahaya Pada Kosmetik Ilegal yang Disita BPOM
Ratusan ribu kosmetik ilegal dari luar negeri telah disita oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (Suara.com/Lilis)

Suara.com - Ratusan ribu kosmetik ilegal dari luar negeri telah disita oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Perdagangan lantaran tidak memiliki izin edar dan terindikasi mengandung zat berbahaya. Jumlahnya mencapai 415.035 barang dari 970 jenis produk kosmetik ilegal dengan nilai transaksi lebih dari 11,4 miliar rupiah.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan, beberapa produk ada yang sudah terindikasi mengandung zat berbahaya, berdasarkan hasil pengecekan laboratorium.

"Ada beberapa contoh bahan berbahaya. Misalnya, mengandung logam, logam yang hidrogenium, katanya pemutih tapi justru berbahaya," ungkap Taruna dalam konferensi pers di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (30/9/2024).

Dia menjelaskan bahwa berbagai zat kimia tersebut tidak seharusnya ada dalam produk kosmetik. Karena bisa menyebabkan reaksi alergi hingga merusak kulit. Selain kandungan logam, ditemukan juga sejumlah produk dengan tambahan berkuri, logam berat, litium, dan beberapa kandungan bahaya lain.

"Kandungan-kandungan ini tidak legal. Selama ini kalau ada yang kita berikan registrasi kosmetik, kalau dia mengandung zat-zat berbahaya, kita tidak izinkan (beredar). Dia harus reformulasi, impor ataupun yang dari dalam negeri," kata Taruna.

Hanya saja, dia akui belum semua produk sitaan itu mengandung zat berbahaya. Karena jumlahnya yang sangat banyak sehingga butuh waktu untuk memeriksa satu per satu di laboratorium.

Walau begitu, Taruna menekankan bahwa produk-produk ilegal dari luar negeri itu belum memiliki izin edar dari BPOM. Namun sudah siap dipasarkan. Padahal izin edar dari BPOM terhadap produk kosmetik sangat penting untuk menjamin keamanannya.

"Kita masih perlu melakukan pengujian, jumlahnya hampir setengah juta, kita butuh waktu untuk ini. Tapi kita sudah mau sebagian, kita ambil bahannya dan tentu kita akan teliti juga di laboratorium," tuturnya.

Temuan kosmetik impor ilegal itu dikirim dari luar negeri melalui jalur laut dan masuk dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, NTT, Sulawesi, dan Papua. Produk kosmestik itu kebanyakan didatangkan dari China, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Beberapa merek yang banyak ditemukan di antaranya Lameila, Brilliant, Balle Metta, dan lain-lain.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Marak Kosmetik Berbahaya dan Ilegal asal China, Zulhas Ungkap Keluhan Pengusaha: Mereka Kewalahan...

Marak Kosmetik Berbahaya dan Ilegal asal China, Zulhas Ungkap Keluhan Pengusaha: Mereka Kewalahan...

News | Senin, 30 September 2024 | 13:52 WIB

BPOM Perketat Pengawasan Obat untuk Cegah Cemaran Zat Kimia Berbahaya Seperti Kasus Gagal Ginjal Akut

BPOM Perketat Pengawasan Obat untuk Cegah Cemaran Zat Kimia Berbahaya Seperti Kasus Gagal Ginjal Akut

News | Rabu, 25 September 2024 | 05:05 WIB

Kepala BPOM Ungkap Penyebab Harga Obat Di Indonesia Lebih Mahal, Ternyata Karena Ini

Kepala BPOM Ungkap Penyebab Harga Obat Di Indonesia Lebih Mahal, Ternyata Karena Ini

News | Selasa, 24 September 2024 | 19:41 WIB

BPOM Dorong Pemberian Label GGL Pada Kemasan Produk Olahan Siap Saji

BPOM Dorong Pemberian Label GGL Pada Kemasan Produk Olahan Siap Saji

News | Selasa, 24 September 2024 | 13:25 WIB

Upayakan Harga Obat Lebih Terjangkau, GPFI dan BPOM Ungkap Strategi Terkini

Upayakan Harga Obat Lebih Terjangkau, GPFI dan BPOM Ungkap Strategi Terkini

Bisnis | Sabtu, 14 September 2024 | 09:06 WIB

Terkini

Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa

Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 20:15 WIB

PMI Manufaktur Melonjak, Menperin Berharap Berdampak ke Lapangan Pekerjaan

PMI Manufaktur Melonjak, Menperin Berharap Berdampak ke Lapangan Pekerjaan

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 20:14 WIB

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 20:12 WIB

Awas, Patah Tulang Pertama Bisa Jadi Awal Dari Bencana Berikutnya! Ini Kata Ahli

Awas, Patah Tulang Pertama Bisa Jadi Awal Dari Bencana Berikutnya! Ini Kata Ahli

Health | Senin, 02 November 2026 | 20:10 WIB

4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak

4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 20:06 WIB

7 Tips GEO agar Konten Dikutip Platform AI: Perhatikan Struktur hingga Kredibilitas

7 Tips GEO agar Konten Dikutip Platform AI: Perhatikan Struktur hingga Kredibilitas

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 19:56 WIB

Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?

Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 19:55 WIB

Truk Molen Tabrak Kerumunan Warga di Bekasi, Tak Uji KIR Selama 6 Tahun

Truk Molen Tabrak Kerumunan Warga di Bekasi, Tak Uji KIR Selama 6 Tahun

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 19:53 WIB

Tantang Selangor FC di Final Singa Cup 2026, Wakil Indonesia Bawa Misi Balas Dendam

Tantang Selangor FC di Final Singa Cup 2026, Wakil Indonesia Bawa Misi Balas Dendam

Bola | Senin, 02 November 2026 | 19:51 WIB

PSI Tuding AHY Nafsu Gantikan Gibran, Andi Arief: Kami Pilih Jalur Kompetisi

PSI Tuding AHY Nafsu Gantikan Gibran, Andi Arief: Kami Pilih Jalur Kompetisi

News | Senin, 02 November 2026 | 19:51 WIB

×