Netizen Kompak Kritik Gus Miftah, Sosiolog: Masyarakat Sedang Merasakan Ketidakadilan yang Sama

Rabu, 04 Desember 2024 | 17:09 WIB
Netizen Kompak Kritik Gus Miftah, Sosiolog: Masyarakat Sedang Merasakan Ketidakadilan yang Sama
Gus Miftah. [Suarajogja.id/Hiskia]

Suara.com - Publik di media sosial kompak dalam merespons video viral Utusan Khusus Presiden, Miftah Maulana atau Gus Miftah saat ceramah berujung olokan ke pedagang es teh.

Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan itu langsung menuai banyak kritikan dan dinilai telah mengolok-olok pedagang es teh tersebut.

Kekompakan netizen dalam menanggapi ujaran kontroversi Gus Miftah tersebut menunjukan bahwa masyarakat sebenarnya sedang merasakan hal yang sama dengan pedagang tersebut, yakni ketidakadilan dari pihak yang berkuasa.

"Itu yang kemudian menjadi bahan tertawaan, akhirnya mendapatkan respons dari netizen yang sama-sama merasakan ketidaktilan oleh sistem pembangunan negara yang tidak adil," kata Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB Widyanta kepada suara.com, dihubungi Rabu (4/12/2024).

Sikap kompak netizen juga dinilai sebagai upaya pembelaan publik atas pernyataan Gus Miftah yang secara tidak langsung menyebut bahwa kemiskinan menjadi takdir seseorang.

Menurut Widyanta, masyarakat sebenarnya sadar bahwa kemiskinan yang terjadi juga ada faktor pemiskinan yang sengaja dibiarkan pemerintah.

"Proses pemiskinan yang dikomentari oleh netizen itu adalah kondisi banyak pedagang, walaupun juga sektor-sektor informal yang jauh lebih mungkin lebih parah dari itu. Dan ketika kaum elit yang hanya segelintir itu kemudian menguasai bahkan menstigma bahwa itu bukan pekerjaan yang layak, mestinya kan mereka peka," tutur dosen UGM tersebut.

Gus Miftah yang dikenal sebagai pemuka agama justru seharusnya bisa turut menjadi bagian dari perjuangan kesejahteraan rakyat melalui jalur religi untuk membantu masyarakat yang termarginalkan dan tersingkir dari kompetisi dalam sistem ekonomi liberal.

Widyanta mengingatkan terhadap semua pemuka agama untuk memiliki suara kenabian atau prophetic perspective. Cara berpikir itu dengan meyakini bahwa seluruh nabi-nabi besar mengajarkan tentang belas kasih, perjuangan atas keadilan yang harus ditegakkan dan disuarakan,

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Bicara Soal Gus Miftah Olok-olok Penjual Es: Pembelajaran Ketika Jadi Pejabat...

"Persoalan-persoalan struktural seperti ini bisa menjadi persoalan yang perlu disikapi secara lebih bijak, secara lebih arif dan sensitif. Sehingga kita tidak perlu memposisikan superior dari yang lain, lebih karena kita beruntung, karena sistem menguntungkan," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI