Mengurai Kompleksitas Nazisme: Mengapa Tak Bisa Sekadar Disebut Gerakan Kiri atau Kanan?

Bimo Aria Fundrika | BBC | Suara.com

Rabu, 19 Februari 2025 | 14:00 WIB
Mengurai Kompleksitas Nazisme: Mengapa Tak Bisa Sekadar Disebut Gerakan Kiri atau Kanan?
Adolf Hitler. (Dok. BBC Indonesia)

Suara.com - Gestur Elon Musk saat pelantikan Donald Trump menuai kontroversi. Banyak yang menilai sikapnya menyerupai hormat Nazi—tuduhan yang segera ia bantah.

Tak lama setelah itu, Musk berbincang dengan Alice Weidel, pemimpin partai sayap kanan Jerman AfD, dalam siaran daring di X.

Dalam percakapan itu, Weidel mengklaim Adolf Hitler bukan bagian dari sayap kanan, melainkan seorang "sosialis, komunis."

Pernyataan ini memicu kembali perdebatan lama di media sosial: apakah Nazi memiliki akar yang sama dengan marxisme?

Dikutip dari BBC Indonesia, sejarawan yang diwawancarai BBC News Brasil menilai diskusi ini bermula dari kebingungan konsep.

Gesture Elon Musk saat pidato di pelantikan Donald Trump yang menimbulkan kontroversi. (Tangkapan layar, Twitter)
Gesture Elon Musk saat pidato di pelantikan Donald Trump yang menimbulkan kontroversi. (Tangkapan layar, Twitter)

Nazisme, kata mereka, tidak bisa dikategorikan secara sederhana sebagai gerakan kiri atau kanan.

"Baik Nazisme Jerman maupun Fasisme Italia muncul setelah Perang Dunia I," jelas Denise Rollemberg, profesor sejarah kontemporer di Universitas Federal Fluminense (UFF).

Menurutnya, kedua ideologi ini menentang sosialisme marxis yang bangkit di Rusia pasca-Revolusi Oktober 1917, sekaligus menolak kapitalisme liberal. Namun, kritik terhadap kapitalisme tidak serta-merta membuat Nazisme berpihak ke kiri.

"Nazi memang berbicara tentang sosialisme, tetapi dengan pendekatan nasionalis, berbeda dari marxisme yang berorientasi pada revolusi global," jelasnya.

Nazisme, menurut Rollemberg, justru mencoba menciptakan "jalan ketiga"—sebuah ideologi yang menolak tatanan lama, baik dari kanan maupun kiri. Dengan demikian, sulit untuk mengkategorikan Nazisme dalam spektrum politik modern.

"Mereka menolak konservatisme tradisional, sekaligus memusuhi gerakan kiri yang berkembang saat itu," katanya.

Nasionalisme

Partai Sosialis Nasional Jerman lahir pada 1919 dari gagasan "revolusi sosial Jerman." Kata sosialis dalam namanya sering digunakan untuk mengklaim bahwa Nazisme adalah gerakan kiri. Namun, para sejarawan menolak anggapan ini.

"Ini menunjukkan ketidaktahuan besar tentang sejarah," kata Izidoro Blikstein, profesor linguistik dan semiotika di USP, seperti dikiutip dari BBC News Brasil.

Menurutnya, yang paling mendasar dalam Nazisme bukanlah sosialis, tetapi nasional.

"Seluruh ideologi Nazi berpusat pada kebangsaan dan keunggulan ras Jerman. Dari sinilah muncul teori Aryaisme," jelasnya.

Para pemikir Nazi mencari pembenaran filosofis bahwa orang Jerman adalah keturunan langsung dari bangsa Arya, yang mereka anggap sebagai ras paling murni di Eropa.

"Mereka percaya semakin dekat dengan suku Arya, semakin tinggi derajat kemurnian rasnya," ujar Blikstein.

Dari keyakinan itu, muncul ide bahwa kebahagiaan rakyat Jerman hanya bisa dicapai dengan menjaga kemurnian ras dan menyingkirkan unsur yang dianggap subversif atau dekaden.

Nazisme berkembang di tengah krisis ekonomi Jerman pasca-Perang Dunia I. Hilangnya wilayah, resesi mendalam, dan inflasi tinggi memicu keresahan rakyat. Nazi memanfaatkan situasi ini.

"Mereka menjual gagasan membangun kembali kebanggaan bangsa Arya," kata Blikstein.

Premis utama gerakan ini ialah  melenyapkan orang-orang non-Arya. Dan teori ini diterapkan hingga konsekuensi paling brutalnya.

Nazisme: Anti-Marxisme dan Propaganda Rasial

Nazisme merancang "revolusi sosial" di Jerman, termasuk intervensi negara dalam ekonomi. Namun, sejak awal, Partai Nazi menegaskan sikap anti-marxis mereka.

"Kampanye Hitler sangat anti-marxis," kata Adriana Dias, antropolog dari Unicamp yang meneliti gerakan neo-Nazi, kepada BBC Brasil.

Bagi Nazi dan fasis, konflik utama bukan perjuangan kelas—seperti dalam sosialisme—tetapi perjuangan berbasis bahasa dan ras.

Makam Karl Marx di London, Inggris. [Shutterstock]
Makam Karl Marx di London, Inggris. [Shutterstock]

Sekolah-sekolah Sosialis Nasional di Jerman mengajarkan kaum muda bahwa orang Yahudi adalah pencipta marxisme. Karena itu, mereka didoktrin untuk tidak hanya menjadi anti-marxis, tetapi juga anti-semit.

Bangsa Yahudi menjadi target penganiayaan Nazi karena dianggap mewakili dua kutub yang tampaknya bertentangan: sosialisme dan kapitalisme liberal.

"Di satu sisi, mereka dikaitkan dengan sosialisme revolusioner karena Karl Marx berasal dari keluarga Yahudi," kata sejarawan Denise Rollemberg.

"Di sisi lain, mereka juga dianggap bagian dari kapitalisme finansial, karena banyak orang Yahudi di Eropa memiliki tradisi bisnis dan peminjaman uang."

Dengan propaganda ini, Nazi membangun narasi kebencian yang akhirnya berujung pada Holocaust.

Nazisme, Ilmu Semu, dan Perbandingan dengan Rezim Stalin

Pemusnahan orang Yahudi di Jerman didukung oleh apa yang Nazi klaim sebagai "akurasi ilmiah." Hal ini membuat perbandingan dengan penganiayaan politik di Uni Soviet menjadi sulit, menurut Izidoro Blikstein.

"Genosida terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi tidak ada yang seperti nazisme," katanya.

"Ia didasarkan pada teori ilmiah dan linguistik palsu, yang diterapkan hingga konsekuensi akhirnya."

Blikstein mengakui bahwa Uni Soviet juga memiliki kamp kerja paksa. Namun, tidak ada doktrin ilmiah yang membenarkan keberadaannya.

"Tapi ada kesamaan antara Nazisme dan rezim Stalin," katanya. "Keduanya totaliter. Mereka mengontrol kehidupan publik dan pribadi warga negara melalui propaganda dan hukum yang menindas."

Nazisme tidak hanya menargetkan orang Yahudi. Kelompok lain seperti demokrat liberal, sosialis, gipsi, Saksi-Saksi Yehuwa, dan homoseksual juga menjadi korban. Karena itu, ideologi ini kini diklasifikasikan sebagai sayap kanan ekstrem.

Faktanya, Nazi memiliki banyak kesamaan dengan kelompok yang menentang komunitas LGBT, imigran, dan Muslim.

"Represi, penyensoran, kamp konsentrasi, dan pemusnahan Nazi ditujukan kepada siapa pun di luar 'komunitas populer' mereka—orang Jerman," kata sejarawan Denise Rollemberg. "Bahkan warga Jerman yang demokrat liberal dan sosialis dikeluarkan karena dianggap membahayakan proyek Nazi."

Namun, Blikstein berpendapat bahwa ras adalah inti dari ideologi Nazi. Ini membuatnya sulit dikategorikan dalam spektrum politik konvensional.

"Menyebut Hitler hanya sebagai politisi sayap kanan meremehkan kompleksitas nazisme," ujarnya.

"Ia lebih dari sekadar kanan atau kiri. Itu adalah doktrin supremasi rasial, meskipun konsep rasnya sendiri tidak ilmiah."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Elon Musk Dituduh Beri Hormat Nazi di Pelantikan Trump, ADL Beri Klarifikasi Mengejutkan

Elon Musk Dituduh Beri Hormat Nazi di Pelantikan Trump, ADL Beri Klarifikasi Mengejutkan

Video | Rabu, 22 Januari 2025 | 15:00 WIB

Dituding Lakukan Gestur Nazi di Acara Pelantikan Trump, Begini Kata Elon Musk

Dituding Lakukan Gestur Nazi di Acara Pelantikan Trump, Begini Kata Elon Musk

News | Rabu, 22 Januari 2025 | 11:31 WIB

Gestur Tangan Elon Musk di Pidato Pelantikan Trump Picu Kontroversi, Dituduh Mirip Hormat ala Nazi

Gestur Tangan Elon Musk di Pidato Pelantikan Trump Picu Kontroversi, Dituduh Mirip Hormat ala Nazi

News | Selasa, 21 Januari 2025 | 20:12 WIB

Terkini

Bantah 'Disingkirkan' Karena Ungkap Kasus Korupsi, Polda Sulut: Aipda Vicky Pensiun Dini

Bantah 'Disingkirkan' Karena Ungkap Kasus Korupsi, Polda Sulut: Aipda Vicky Pensiun Dini

News | Jum'at, 03 April 2026 | 17:13 WIB

Satgas PRR Percepat Huntap dan Huntara Demi Hunian Layak Penyintas Bencana

Satgas PRR Percepat Huntap dan Huntara Demi Hunian Layak Penyintas Bencana

News | Jum'at, 03 April 2026 | 17:11 WIB

Klaim Trump Terbantahkan, Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan 50 Persen Rudal dan Ribuan Drone

Klaim Trump Terbantahkan, Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan 50 Persen Rudal dan Ribuan Drone

News | Jum'at, 03 April 2026 | 16:50 WIB

Cerita Warga di Mereudu Gotong Royong Bareng Pemerintah dalam Pemulihan Pasca Bencana

Cerita Warga di Mereudu Gotong Royong Bareng Pemerintah dalam Pemulihan Pasca Bencana

News | Jum'at, 03 April 2026 | 16:35 WIB

Jejak Berdarah Pulan Wonda: Anggota OPM Penembak  Jenderal Tito Karnavian Ditangkap di Puncak Jaya

Jejak Berdarah Pulan Wonda: Anggota OPM Penembak Jenderal Tito Karnavian Ditangkap di Puncak Jaya

News | Jum'at, 03 April 2026 | 16:33 WIB

Innova Venturer Ringsek Tak Berbentuk Dihantam KRL di Bogor, Sopir Raib Misterius Usai Tabrakan

Innova Venturer Ringsek Tak Berbentuk Dihantam KRL di Bogor, Sopir Raib Misterius Usai Tabrakan

News | Jum'at, 03 April 2026 | 16:05 WIB

Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran

Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran

News | Jum'at, 03 April 2026 | 15:33 WIB

Bahas Isu Terkini, Seskab Teddy Bertemu Wapres Gibran 1,5  Jam di Istana Sambil Bawa Catatan

Bahas Isu Terkini, Seskab Teddy Bertemu Wapres Gibran 1,5 Jam di Istana Sambil Bawa Catatan

News | Jum'at, 03 April 2026 | 15:31 WIB

Misi Gelap WNA Rusia Selundupkan 202 Reptil Digagalkan Gakkum Kemenhut! Pelaku Terancam 10 Tahun Bui

Misi Gelap WNA Rusia Selundupkan 202 Reptil Digagalkan Gakkum Kemenhut! Pelaku Terancam 10 Tahun Bui

News | Jum'at, 03 April 2026 | 15:02 WIB

Rudal Ghadr Hantam Kapal Induk AS, Balas Dendam Iran Atas Gugurnya Khamenei Benar-Benar Pecah

Rudal Ghadr Hantam Kapal Induk AS, Balas Dendam Iran Atas Gugurnya Khamenei Benar-Benar Pecah

News | Jum'at, 03 April 2026 | 14:57 WIB