Kinerja Saham Hijau: Fluktuatif di Masa Kini, Menjanjikan di Masa Depan

Bimo Aria Fundrika

Senin, 19 Mei 2025 | 11:16 WIB
Kinerja Saham Hijau: Fluktuatif di Masa Kini, Menjanjikan di Masa Depan
Saham Hijau.

Suara.com - Selama lebih dari satu dekade terakhir, saham-saham hijau, yakni saham dari perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, telah menunjukkan kinerja yang menjanjikan.

Bahkan, menurut laporan dari London Stock Exchange Group (LSEG), saham-saham ini sempat mencatat kenaikan hingga 59 persenlebih tinggi dibanding indeks pasar umum seperti The Financial Times Stock Exchange All Cap Index.

Namun, meskipun pertumbuhan jangka panjangnya menjanjikan, pasar saham hijau dikenal fluktuatif dalam jangka pendek.

Laporan LSEG menyebutkan bahwa dalam periode 12 bulan terakhir, kinerja saham hijau naik-turun, yang membuat sebagian investor ragu dan khawatir. Demikian seperti dikutip dari KnowESG

Salah satu penyebabnya adalah tekanan dari berbagai arah, mulai dari kondisi geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, hingga kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan yang memengaruhi pasar.

Ilustrasi Lingkungan Hijau (pixabay/Man As Thep)
Ilustrasi Lingkungan Hijau (pixabay/Man As Thep)

Selain itu, di awal tahun 2024, saham hijau sempat lesu dan tampil lebih buruk sekitar 3 persen dibanding pasar umum. Namun, di paruh akhir tahun, saham-saham ini mulai pulih dan menutup tahun dengan performa yang seimbang dengan pasar secara keseluruhan.

Meski begitu, sektor hijau tetap memiliki prospek cerah. Faktor-faktor seperti transisi energi global, peraturan lingkungan yang semakin ketat, serta lonjakan investasi di teknologi ramah lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi dorongan kuat bagi pertumbuhan sektor ini.

LSEG mencatat bahwa pada kuartal pertama 2025, nilai pasar saham hijau global mencapai sekitar Rp126.400 triliun (US$7,9 triliun), atau sekitar 8,6 persen dari total pasar saham global.

Pendapatan dari produk dan layanan ramah lingkungan pun sudah melebihi Rp74.800 triliun (€4,4 triliun) pada tahun 2024, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan tercepat kedua setelah teknologi.

baca juga

Beberapa sektor yang dinilai punya potensi besar antara lain: energi bersih, transportasi listrik, efisiensi energi, dan teknologi adaptasi iklim. Bahkan, pendapatan dari produk dan layanan hijau secara global sudah menembus angka Rp80.000 triliun (US$5 triliun), angka yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Meski naik-turun dalam jangka pendek, data historis menunjukkan bahwa saham hijau secara umum menghasilkan keuntungan lebih besar dalam jangka panjang.

Sejak 2008, saham hijau berhasil memberikan kinerja 59 persen lebih tinggi secara kumulatif dibanding tolok ukur pasar. Bahkan, dalam 70 persen dari periode lima tahunan yang diamati, saham hijau mengungguli pasar umum.

Jika dipandang sebagai sektor tersendiri, ekonomi hijau saat ini bisa disebut sebagai sektor terbesar keempat di dunia setelah teknologi, industri, dan kesehatan. Sub-sektor yang paling menonjol adalah manajemen dan efisiensi energi, yang mencakup hampir setengah dari total nilai ekonomi hijau global.

Secara wilayah, Asia menjadi penyumbang pendapatan hijau terbesar (44 persen ), sementara negara-negara berkembang mengalami pertumbuhan pendapatan hijau hampir dua kali lebih cepat dibanding negara-negara maju.

Menariknya, tren baru juga muncul dari meningkatnya fokus pada adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Pemerintah di berbagai negara mulai mengalokasikan anggaran untuk menghadapi risiko iklim, seperti banjir dan gelombang panas. Hal ini juga tercermin dalam dunia bisnis, di mana sekitar 34 persen perusahaan besar dan menengah kini sudah menyebutkan strategi adaptasi iklim dalam laporan tahunannya.

Untuk mendukung pendanaan sektor ini, obligasi hijau, yakni surat utang khusus untuk proyek ramah lingkungan, menjadi instrumen penting. Tahun 2024 saja, penerbitan obligasi hijau mencapai rekor baru senilai US$572 miliar. Sebagian besar dana ini diarahkan untuk mendanai proyek-proyek adaptasi dan ketahanan iklim.

Meskipun saham hijau bisa naik-turun dalam jangka pendek, potensi jangka panjangnya tetap kuat. Bagi investor yang berpikir jauh ke depan dan peduli lingkungan, sektor hijau bisa menjadi pilihan yang menjanjikan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suara Kidung dari Lereng Slamet: Merapal Doa, Merawat Keseimbangan Bumi

Suara Kidung dari Lereng Slamet: Merapal Doa, Merawat Keseimbangan Bumi

Lifestyle | Senin, 19 Mei 2025 | 10:29 WIB

IHSG Dibuka Menguat Tapi Langsung Bergerak Melemah, Simak Saham Penggeraknya

IHSG Dibuka Menguat Tapi Langsung Bergerak Melemah, Simak Saham Penggeraknya

Bisnis | Senin, 19 Mei 2025 | 09:19 WIB

IHSG Optimis Menguat Hari Ini, Cek Saham-saham Paling Banyak Diborong Investor

IHSG Optimis Menguat Hari Ini, Cek Saham-saham Paling Banyak Diborong Investor

Bisnis | Senin, 19 Mei 2025 | 08:04 WIB

Terkini

Respons Krisis Bencana: Pemerintah Percepat Pemulihan 20 Mal Pelayanan Publik Terdampak Parah

Respons Krisis Bencana: Pemerintah Percepat Pemulihan 20 Mal Pelayanan Publik Terdampak Parah

News | Rabu, 16 September 2026 | 21:25 WIB

Jangan Asal Ikut Tren! Ahli Bongkar Cara Cerdas Baca Label Produk Wellness

Jangan Asal Ikut Tren! Ahli Bongkar Cara Cerdas Baca Label Produk Wellness

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 21:10 WIB

Ciri-ciri Larutan Asam dan Basa Beserta Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Ciri-ciri Larutan Asam dan Basa Beserta Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 21:00 WIB

Karhutla Sumsel Capai 6.552 Hektar, Kenapa Masih Ada 84 Hektar Belum Padam?

Karhutla Sumsel Capai 6.552 Hektar, Kenapa Masih Ada 84 Hektar Belum Padam?

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 20:59 WIB

Kasih Finger Heart Sembari Senyum Lebar, Bahlil Bungkam soal Fahd A Rafiq dan Nusron Wahid

Kasih Finger Heart Sembari Senyum Lebar, Bahlil Bungkam soal Fahd A Rafiq dan Nusron Wahid

News | Rabu, 16 September 2026 | 20:48 WIB

Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho

Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 20:42 WIB

Momen Prabowo dan Pramono Jajal Rute LRT Kelapa Gading-Manggarai

Momen Prabowo dan Pramono Jajal Rute LRT Kelapa Gading-Manggarai

Foto | Rabu, 16 September 2026 | 20:39 WIB

Persib Cetak Sejarah, Satu-satunya Klub Indonesia yang Menang di Korea Selatan

Persib Cetak Sejarah, Satu-satunya Klub Indonesia yang Menang di Korea Selatan

Jabar | Rabu, 16 September 2026 | 20:39 WIB

Bukan Cuma Rp13 Miliar, Begini Jejak Aliran Uang Kasus Korupsi Chromebook Muara Enim

Bukan Cuma Rp13 Miliar, Begini Jejak Aliran Uang Kasus Korupsi Chromebook Muara Enim

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 20:33 WIB

Pemusnahan Sabu Jaringan Internasional Senilai Rp68 Miliar di Bengkalis

Pemusnahan Sabu Jaringan Internasional Senilai Rp68 Miliar di Bengkalis

Riau | Rabu, 16 September 2026 | 20:32 WIB

×