Studi MIT: Biofilm Ternyata Bisa Jadi Benteng dari Ancaman Mikroplastik

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 05 Juni 2025 | 16:35 WIB
Studi MIT: Biofilm Ternyata Bisa Jadi Benteng dari Ancaman Mikroplastik
Mikroplastik. (Dok: Elements Envanto)

Suara.com - Kehadiran mikroplastik di lingkungan kian mengkhawatirkan. Dari dasar laut hingga puncak gunung, dari tubuh hewan hingga manusia, partikel kecil ini ada di mana-mana.

Meski sudah menjadi isu global, satu hal masih jadi tantangan besar: di mana sebenarnya mikroplastik ini paling banyak terakumulasi?

Menjawab tantangan itu, para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyodorkan sebuah temuan menarik.

Dalam studi terbaru yang dimuat di jurnal Geophysical Research Letters, mereka mengungkap bahwa biofilm, lapisan tipis dan lengket yang diproduksi oleh mikroorganisme, bisa menjadi salah satu faktor penting yang menentukan di mana mikroplastik akan menetap atau justru tersapu arus.

Mikroplastik. (Dok: Elements Envanto)
Mikroplastik. (Dok: Elements Envanto)

“Biofilm menghalangi plastik terakumulasi di dasar karena plastik tidak dapat masuk jauh ke dasar. Plastik hanya akan tetap berada di permukaan, lalu akan terangkat dan dipindahkan ke tempat lain,” ujar Heidi Nepf, profesor teknik sipil dan lingkungan di MIT.

Nepf bersama postdoc MIT Hyoungchul Park melakukan eksperimen di tangki aliran. Mereka meniru kondisi dasar sungai dengan melapisinya menggunakan pasir halus. Dalam beberapa skenario, mereka menambahkan biofilm buatan untuk mensimulasikan kondisi alami di sungai atau pantai yang kaya mikroorganisme seperti bakteri dan alga.

Di skenario lain, pasir dibiarkan bersih tanpa biofilm. Kemudian, air bercampur partikel plastik kecil dipompa melalui tangki selama tiga jam. Setelah itu, dasar tangki dipindai dengan sinar ultraviolet untuk mengukur seberapa banyak mikroplastik yang tersisa.

Hasilnya jelas. Keberadaan biofilm secara signifikan mengurangi akumulasi partikel plastik.

Mengapa demikian? Park menjelaskan bahwa biofilm mengisi ruang di antara butiran pasir. Akibatnya, partikel mikro tidak bisa “bersembunyi” di sela-sela pasir seperti biasa. Mereka tetap berada di permukaan, lebih mudah terkena arus, dan akhirnya terbawa pergi.

baca juga

“Lapisan biologis ini mengisi ruang pori di antara butiran sedimen,” kata Park. “Dan hal itu membuat partikel yang diendapkan — partikel yang mendarat di dasar — lebih terpapar pada gaya yang dihasilkan oleh aliran, yang membuatnya lebih mudah untuk tersuspensi kembali.”

Menariknya, ketika mereka menambahkan batang vertikal sebagai simulasi akar bakau, peneliti juga menemukan bahwa turbulensi yang dihasilkan bisa mencegah pengendapan mikroplastik. Dua faktor ini—keberadaan vegetasi dan biofilm—sama-sama berkontribusi mengurangi akumulasi partikel plastik di dasar sungai.

Nepf menambahkan, “Jika saya menumpahkan sejumlah besar mikroplastik di dua sungai, dan yang satu memiliki dasar berpasir atau berkerikil, dan yang satu lagi lebih berlumpur dengan lebih banyak biofilm, saya perkirakan lebih banyak mikroplastik akan tertahan di sungai berpasir atau berkerikil.”

Penemuan ini menjadi penting untuk menentukan strategi pemantauan dan pemulihan. Dalam ekosistem mangrove misalnya, Park memprediksi bahwa mikroplastik lebih mudah mengendap di tepi luar yang berpasir, sementara bagian dalam dengan sedimen berlumpur dan banyak biofilm cenderung lebih bersih. Dengan demikian, zona tepi bisa dijadikan prioritas untuk pengawasan dan pembersihan.

Penelitian ini juga membuka kemungkinan pendekatan baru: mendorong pertumbuhan biofilm sebagai bentuk mitigasi alami.

“Ini adalah temuan yang sangat relevan,” kata Isabella Schalko, ilmuwan peneliti di ETH Zurich yang tidak terlibat dalam riset. “Ini menunjukkan bahwa tindakan pemulihan seperti penanaman kembali atau mendorong pertumbuhan biofilm dapat membantu mengurangi akumulasi mikroplastik dalam sistem perairan.”

Meskipun masih ada banyak faktor lain yang memengaruhi seperti kekasaran dasar dan arus air, studi ini memberikan pijakan awal. Ia menyajikan cara baru untuk mengklasifikasikan habitat, menentukan titik-titik panas, dan menyesuaikan strategi pembersihan secara lebih efisien.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Stop Plastik! Warga Diimbau Gunakan Daun Pisang untuk Bungkus Daging Kurban

Stop Plastik! Warga Diimbau Gunakan Daun Pisang untuk Bungkus Daging Kurban

News | Kamis, 05 Juni 2025 | 15:28 WIB

Hari Lingkungan Hidup 2025: Dunia Bersatu Cari Solusi Atasi Polusi Plastik

Hari Lingkungan Hidup 2025: Dunia Bersatu Cari Solusi Atasi Polusi Plastik

News | Kamis, 05 Juni 2025 | 13:46 WIB

Pesisir Utara Demak Diprediksi Tenggelam 2030 Akibat Krisis Iklim

Pesisir Utara Demak Diprediksi Tenggelam 2030 Akibat Krisis Iklim

Foto | Kamis, 05 Juni 2025 | 08:55 WIB

Terkini

Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan

Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:15 WIB

IHSG Ambruk ke 5.161, Makin Dekat ke Level Terendah Setahun!

IHSG Ambruk ke 5.161, Makin Dekat ke Level Terendah Setahun!

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:13 WIB

Timnas Indonesia Ikut Terdampak Ketidakpastian Piala Asia 2027, Erick Thohir Tunggu Keputusan AFC

Timnas Indonesia Ikut Terdampak Ketidakpastian Piala Asia 2027, Erick Thohir Tunggu Keputusan AFC

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:10 WIB

Ada 102 Perusahaan: Simak Jadwal, Syarat, dan Link Daftar Job Fair Jatim 2026

Ada 102 Perusahaan: Simak Jadwal, Syarat, dan Link Daftar Job Fair Jatim 2026

Jatim | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:09 WIB

Wajib Kunjungi! Spot Halloween Paling Hits di Jakarta dari Nuansa Pantai hingga Sirkus Mewah

Wajib Kunjungi! Spot Halloween Paling Hits di Jakarta dari Nuansa Pantai hingga Sirkus Mewah

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:08 WIB

Ikut di Aksi 28 Oktober, Rekam Jejak Wanda Hamidah Jadi Aktivis Usai Berhenti Jadi Politisi

Ikut di Aksi 28 Oktober, Rekam Jejak Wanda Hamidah Jadi Aktivis Usai Berhenti Jadi Politisi

Entertainment | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:08 WIB

3 Bedak Purbasari untuk Usia 40 Tahun, Intip Pilihannya

3 Bedak Purbasari untuk Usia 40 Tahun, Intip Pilihannya

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:07 WIB

Suara Demokrasi Menggema Tanpa Merusak Fasilitas, Pramono Bersyukur Bundaran HI Tetap Aman

Suara Demokrasi Menggema Tanpa Merusak Fasilitas, Pramono Bersyukur Bundaran HI Tetap Aman

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu

Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Bedah 18 Ribu Hektare Jalur Air, Skema Canggih BBWS Redam Banjir Kronis di Bandar Lampung

Bedah 18 Ribu Hektare Jalur Air, Skema Canggih BBWS Redam Banjir Kronis di Bandar Lampung

Lampung | Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:56 WIB

×