Misteri Lakban di Kasus Diplomat Kemlu Simbol Pembungkaman? Eks Kabareskrim Bilang Begini

Agung Sandy Lesmana

Sabtu, 12 Juli 2025 | 14:57 WIB
Misteri Lakban di Kasus Diplomat Kemlu Simbol Pembungkaman? Eks Kabareskrim Bilang Begini
Misteri Lakban di Kasus Diplomat Kemlu Simbol Pembungkaman? Eks Kabareskrim Bilang Begini (tangkapan layar/ist)

Suara.com - Kepolisian tampaknya mesti bekerja ekstra lantaran kasus kematian staf Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Arya Daru Pangayunan dianggap cukup sulit. Pernyataan itu disampaikan oleh mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn), Arief Sulistyanto.

Dalam program yang tayang di channel Youtube, KOMPASTV pada Jumat (12/7/2025), Arief Sulistyanto menyebut penyidik kepolisian perlu menemukan banyak bukti-bukti untuk bisa mengungkap misteri kematian Arya Daru. Sebab, menurutnya, perkara tersebut memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Arief juga menyebutkan rekam jejak korban termasuk latar belakang keluarga hingga pekerjaan juga mesti didalami oleh kepolisian.

"Perkara seperti ini tingkat kesulitannya cukup tinggi sehingga penyidik harus mengumpulkan alat bukti yang sebanyak-banyaknya termasuk latar belakang kehidupan korban, latar belakang pribadinya dia, kemudian keluarganya sampai latar belakang pekerjaannya," ujar Arief Sulistyanto dilihat pada Sabtu (12/7/2025).

Arief menyebut jika kasus Arya Daru juga menjadi tantangan besar bagi kepolisian. Sebab, berbagai spekulasi bermunculan sejak diplomat muda itu ditemukan tewas dengan wajah terbebat lakban. Menurutnya, pengusutan kasus itu juga mesti berlandaskan scientific crime investigation alias SCI.

Kabaharkam Polri Komjen Arief Sulistyanto usai penerimaan jenazah dua kru helikopter Baharkam Polri P-1103 di Pondok Cabe, Pamulang, Tangsel, pada Rabu (30/11/2021). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]
Mantan Kabareskrim Komjen (Purn) Arief Sulistyanto. [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]

"Memang yang dihadapi penyidik sekarang cukup berat. Beratnya menghadapi opini, spekulasi, dan teori-teori yang disampaikan oleh netizen di media sosial. Dan ini harus bisa diatasi oleh penyidik dengan melakukan penyidikan secara objektif berdasarkan scientific crime investigation yang saya sampaikan tadi," bebernya.

Arief pun menyoroti isu liar yang mengaitkan kematian Arya Daru berkaitan dengan tugasnya sebagai diplomat yang kabarnya sempat menangani kasus tindak pidana perdagangan orang alias TPPO jaringan internasional. Selain itu ada pula yang mengait-ngaitkan dengan teori pembungkaman terkait kondisi Arya yang tewas dalam kondisi terlakban.

"Sampai ada yang spekulasi begini, karena ini dilakban maka ini adalah teori pembungkaman. Dasarnya apa gitu loh? Padahal belum ada bukti-bukti yang mendukung terhadap pernyataan itu," ujarnya. 

"Jadinya nanti malah enggak benar, malah menyesatkan. Nah, inilah tantangan yang harus dihadapi oleh penyidik," sambung Arief Sulistyanto. 

baca juga

Dia pun mengingatkan penyidik tidak terjebak atas munculnya beragam spekulasi yang dikait-kaitkan dengan kematian Arya Daru.

"Penyidik harus tetap on the track, penyidik harus tetap objektif dan menjaga etik, moral, profesionalitas dia di dalam melakukan penyidikan untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya. Bukan kebenaran yang dibuat-buat tapi kebenaran yang didasarkan pada kejujuran," ungkapnya.

Mayat Terlakban di Indekos

Seperti diketahui, Arya Daru ditemukan tewas di kamar indekosnya di Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025). Saat ditemukan, kepalanya terlilit lakban kuning dan tubuhnya terbungkus selimut.

Tim INAFIS gabungan yang terdiri dari Mabes Polri hingga Polda Metro Jaya mendatangi lokasi penemuan jenazah Arya Daru Pangayunan di sebuah kosan di Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 9 Juli 2025. (Suara.com/Yaumal)
Tim INAFIS gabungan yang terdiri dari Mabes Polri hingga Polda Metro Jaya mendatangi lokasi penemuan jenazah Arya Daru Pangayunan di sebuah kosan di Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 9 Juli 2025. (Suara.com/Yaumal)

Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk istri, penjaga kos, dan rekan korban, serta menyita dua CCTV dari lokasi.

Kematian Arya menyita perhatian publik lantaran posisinya sebagai Fungsional Diplomat Ahli Muda, Direktorat Perlindungan WNI, Kementerian Luar Negeri RI. Pria berusia 39 itu disebut-sebut pernah menjadi saksi penting dalam pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO di Jepang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Diplomat Kemlu Tewas Terlakban, Polisi Sebut Jasad Arya Daru jadi Barang Bukti Platinum, Mengapa?

Diplomat Kemlu Tewas Terlakban, Polisi Sebut Jasad Arya Daru jadi Barang Bukti Platinum, Mengapa?

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 13:29 WIB

Bongkar Gestur Diplomat Kemlu Sebelum Tewas Terlakban, Pakar Mikro Ekspresi: Tak Tampak Emosi Takut

Bongkar Gestur Diplomat Kemlu Sebelum Tewas Terlakban, Pakar Mikro Ekspresi: Tak Tampak Emosi Takut

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 12:38 WIB

Diplomat Kemlu 'Raib' usai Buka Baju? Pakar Mikro Ekspresi Bedah Gesture Arya Daru Sebelum Tewas

Diplomat Kemlu 'Raib' usai Buka Baju? Pakar Mikro Ekspresi Bedah Gesture Arya Daru Sebelum Tewas

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 10:32 WIB

Jejak Digital dan Aliran Uang Bisa Bongkar Misteri Tewasnya Diplomat Kemlu? Ini Kata Eks Kabareskrim

Jejak Digital dan Aliran Uang Bisa Bongkar Misteri Tewasnya Diplomat Kemlu? Ini Kata Eks Kabareskrim

News | Sabtu, 12 Juli 2025 | 09:28 WIB

Terkini

Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya

Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:33 WIB

Pramono Rayu Prabowo, Danantara Diminta Bantu Ekspansi LRT ke JIS dan Halim

Pramono Rayu Prabowo, Danantara Diminta Bantu Ekspansi LRT ke JIS dan Halim

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:31 WIB

TradingPRO Merayakan Pencapaian 10 Tahun dengan Total Hadiah $10.000

TradingPRO Merayakan Pencapaian 10 Tahun dengan Total Hadiah $10.000

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 16:28 WIB

Prabowo Bagi-bagi Kaus dari Sunroof Mobil, Warga Manggarai Histeris Rebutan

Prabowo Bagi-bagi Kaus dari Sunroof Mobil, Warga Manggarai Histeris Rebutan

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:28 WIB

Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan

Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 16:22 WIB

Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta

Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:18 WIB

Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa

Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa

Jogja | Rabu, 16 September 2026 | 16:16 WIB

Disimpan di Gudang Jakut, Penyelundupan Kacang Tanah 49,50 Ton Asal India Terbongkar

Disimpan di Gudang Jakut, Penyelundupan Kacang Tanah 49,50 Ton Asal India Terbongkar

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:13 WIB

Sudah Sukses, Jangan Lupa! Alumni Penerima KIP Kuliah Diminta Balas Budi ke Adik Kelas

Sudah Sukses, Jangan Lupa! Alumni Penerima KIP Kuliah Diminta Balas Budi ke Adik Kelas

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:12 WIB

Kedubes AS di Arab Saudi: Warga Amerika Jangan ke Perbatasan Yaman, Risiko Terorisme

Kedubes AS di Arab Saudi: Warga Amerika Jangan ke Perbatasan Yaman, Risiko Terorisme

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:10 WIB

×