Banjir Saat Kemarau: Alarm Bahaya Krisis Iklim yang Tak Bisa Disepelekan

Bimo Aria Fundrika

Senin, 14 Juli 2025 | 16:22 WIB
Banjir Saat Kemarau: Alarm Bahaya Krisis Iklim yang Tak Bisa Disepelekan
Warga beraktivitas di tengah banjir yang melanda pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta, Selasa (8/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Di saat warga bersiap menghadapi musim kemarau, justru banjir datang melanda. Curah hujan tinggi masih terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Juli ini, bulan yang seharusnya menjadi puncak musim kering.

Banjir muncul di Jabodetabek hingga Kota Mataram, NTB, menandai bahwa cuaca ekstrem kini bukan lagi kejadian langka.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang tidak stabil seperti lemahnya monsun Australia, suhu muka laut yang hangat, dan aktivitas gangguan tropis seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby telah memicu hujan deras di waktu yang tidak semestinya.

Ini menambah panjang daftar tanda-tanda krisis iklim yang mulai terasa langsung oleh masyarakat.

Greenpeace Indonesia menegaskan, situasi ini bukan sekadar anomali musiman. Cuaca yang makin sulit diprediksi adalah bagian dari krisis iklim akibat emisi gas rumah kaca yang terus meningkat, dipicu oleh pembakaran energi fosil, deforestasi, dan industri ekstraktif.

“Kita tidak bisa lagi menormalkan cuaca ekstrem dan musim yang kacau sebagai hal biasa. Fenomena hujan deras di periode Juli adalah peringatan serius bahwa krisis iklim sudah mengubah wajah musim di Indonesia. Pemerintah harus bertindak cepat dan tegas untuk mengurangi emisi dan melindungi rakyat dari dampak krisis iklim yang makin parah,” tegas Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam keterangannya baru-baru ini. 

Warga beraktivitas di tengah banjir yang melanda pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta, Selasa (8/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Warga beraktivitas di tengah banjir yang melanda pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta, Selasa (8/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Krisis ini tidak akan terasa adil bagi semua. Masyarakat miskin, petani, dan mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana akan jadi kelompok paling terdampak. Meski begitu, arah kebijakan negara justru menunjukkan sebaliknya.

Greenpeace menyoroti, pada 2024 Indonesia mencatat rekor produksi batu bara tertinggi dalam sejarah, 836 juta ton, naik 7 persen dari tahun sebelumnya.

Kebijakan Rencana Umum Energi Nasional (RPP KEN) dan RUPTL justru memperpanjang ketergantungan terhadap energi fosil hingga 2060, termasuk rencana penambahan pembangkit batu bara dan gas baru yang akan ‘mengunci’ Indonesia dalam emisi tinggi selama puluhan tahun ke depan.

baca juga

Padahal, dari 2018–2023, penambahan pembangkit energi terbarukan hanya tumbuh 3,2 Gigawatt, jauh dari cukup untuk mengejar target transisi energi. Hingga 2024, bauran energi bersih baru mencapai 15 persen.

“Pemerintah Indonesia harus keluar dari zona nyaman dan berhenti melanjutkan ketergantungan pada energi fosil. Krisis ini tidak pernah adil, dan sayangnya warga serta mereka yang lemah akan menjadi korban paling terdampak. Kita butuh komitmen ambisius pada pengembangan energi terbarukan, peta jalan transisi energi berkeadilan, dan pembangunan yang berpihak pada kelangsungan hidup, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi jangka pendek,” lanjut Bondan.

Greenpeace mendesak agar pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) yang progresif dan berpihak pada penurunan emisi. Namun, mereka mengingatkan agar RUU ini tidak menjadi pintu masuk solusi palsu seperti gasifikasi batu bara dan co-firing yang tetap melanggengkan energi kotor.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Oxford United Main di Kubangan, 'Banjir' Si Jalak Harupat Jadi Sorotan Media Asing

Oxford United Main di Kubangan, 'Banjir' Si Jalak Harupat Jadi Sorotan Media Asing

Bola | Senin, 14 Juli 2025 | 14:30 WIB

Siapkan Rp 4 Triliun untuk Atasi Banjir Jakarta, Gubernur Pramono: Tidak Seperti Jinny oh Jinny

Siapkan Rp 4 Triliun untuk Atasi Banjir Jakarta, Gubernur Pramono: Tidak Seperti Jinny oh Jinny

News | Jum'at, 11 Juli 2025 | 20:13 WIB

BNPB Tabur 12,4 Ton Garam di Langit Jabodetabek, Intensitas Hujan Turun Drastis

BNPB Tabur 12,4 Ton Garam di Langit Jabodetabek, Intensitas Hujan Turun Drastis

News | Jum'at, 11 Juli 2025 | 15:21 WIB

Terkini

Ferry Boboho Lapor soal Kasus Harvey Moeis, Febrie Adriansyah: Nggak Usah Ikut Campur

Ferry Boboho Lapor soal Kasus Harvey Moeis, Febrie Adriansyah: Nggak Usah Ikut Campur

News | Senin, 02 November 2026 | 19:37 WIB

Bima Sena Bongkar Momen Paling Effort di Prekuel Film 5cm: Revolusi Hati

Bima Sena Bongkar Momen Paling Effort di Prekuel Film 5cm: Revolusi Hati

Entertainment | Senin, 02 November 2026 | 19:36 WIB

Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran

Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 19:35 WIB

Link Pengecekan NIK Penerima BSU 2026, Cek Status Penerima Rp900 Ribu di Sini

Link Pengecekan NIK Penerima BSU 2026, Cek Status Penerima Rp900 Ribu di Sini

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 19:35 WIB

Konsumen Eropa Beralih Beli Mobil Listrik Bekas Asal China Akibat Aturan Impor

Konsumen Eropa Beralih Beli Mobil Listrik Bekas Asal China Akibat Aturan Impor

Otomotif | Senin, 02 November 2026 | 19:35 WIB

Dimulai Besok di Kembangan, Pramono Anung Geber Rapat Maraton 44 Kecamatan

Dimulai Besok di Kembangan, Pramono Anung Geber Rapat Maraton 44 Kecamatan

News | Senin, 02 November 2026 | 19:33 WIB

Tak Cuma Kapolres, 3 Petinggi Polres Sukoharjo Ikut Dicopot Buntut Geledah Ponpes

Tak Cuma Kapolres, 3 Petinggi Polres Sukoharjo Ikut Dicopot Buntut Geledah Ponpes

News | Senin, 02 November 2026 | 19:29 WIB

2.000 Pelari Ramaikan Xiaomi POP Run 2026, REDMI Note 17 Pamer Baterai Jumbo

2.000 Pelari Ramaikan Xiaomi POP Run 2026, REDMI Note 17 Pamer Baterai Jumbo

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 19:25 WIB

AURA: Cara Membuat Konten Dikutip ChatGPT dan Gemini dengan Teknik GEO

AURA: Cara Membuat Konten Dikutip ChatGPT dan Gemini dengan Teknik GEO

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 19:20 WIB

Antisipasi Kendaraan Tabrak Separator, Transjakarta Cat Ulang Pembatas Koridor 9

Antisipasi Kendaraan Tabrak Separator, Transjakarta Cat Ulang Pembatas Koridor 9

News | Senin, 02 November 2026 | 19:20 WIB

×