Ancaman Pemakzulan dan Skenario PSI: Manuver Politik Gibran Mengamankan Kursi Panas Wapres?

Muhammad Ilham Baktora

Senin, 21 Juli 2025 | 19:38 WIB
Ancaman Pemakzulan dan Skenario PSI: Manuver Politik Gibran Mengamankan Kursi Panas Wapres?
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka memberi paparan setelah meninjau penyaluran BSU di Kantor Pos Indonesia Cabang Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (18/7/2025). (ANTARA/Mentari Dwi Gayati)

Suara.com - Kursi Wakil Presiden yang diduduki Gibran Rakabuming Raka agaknya tak sedingin yang dibayangkan.

Belum genap setahun menjabat, riak-riak politik mulai menguji ketangguhan putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu.

Isu pemakzulan, meski masih sebatas wacana yang digulirkan oleh sejumlah kelompok, menjadi sinyal bahwa posisi Gibran adalah arena pertarungan kepentingan tingkat tinggi.

Namun, Gibran dan lingkaran politiknya tampak tidak tinggal diam.

Di tengah potensi ancaman, serangkaian manuver strategis terlihat mulai dijalankan, melibatkan kinerja di pemerintahan hingga konsolidasi kekuatan politik baru di luar koalisi utama.

Artikel ini akan mengupas tuntas potensi manuver politik Gibran, dari skenario pemakzulan, peran Partai Solidaritas Indonesia (PSI), hingga rapor kebijakannya sebagai "kartu truf" politik.

Guncangan di Kursi Wapres: Skenario Pemakzulan dan Bursa Pengganti

Wacana pemakzulan Gibran, salah satunya disuarakan oleh Forum Purnawirawan TNI, menjadi pemantik utama analisis ini.

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyoroti bahwa posisi Gibran sangat bergantung pada soliditas koalisi pendukung Prabowo Subianto.

baca juga

"Sekarang di DPR yang bisa melindungi Gibran adalah koalisi milik Prabowo Subianto. Kalau sudah tak bisa melindungi, ya sudah lepas," ujar Bivitri dikutip dari kanal Youtube Hendri Satrio, Senin (21/7/2025)

Analisis ini membuka mata kita pada realitas politik di parlemen.

Jika Gibran dianggap tidak lagi menguntungkan secara politik, bukan tidak mungkin partai-partai koalisi akan "mencuci tangan".

Secara konstitusional, jika seorang wakil presiden dimakzulkan, presiden akan mengajukan dua nama calon pengganti ke DPR/MPR untuk dipilih.

Di sinilah nama-nama besar seperti Ketua DPR Puan Maharani (PDIP) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat) muncul sebagai kandidat kuat.

Keduanya memiliki modal politik yang signifikan: Puan dengan kekuatan PDIP sebagai partai pemenang pemilu, dan AHY sebagai representasi salah satu pilar penting koalisi Prabowo.

Kalkulasi untung-rugi inilah yang membuat setiap manuver di Senayan patut dicermati, karena bisa jadi menentukan nasib Gibran di Istana.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan pers usai meninjau penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (18/7/2025). [ANTARA/Mentari Dwi Gayati]
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan pers usai meninjau penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (18/7/2025). [ANTARA/Mentari Dwi Gayati]

PSI sebagai Sekoci Politik? Peran Kaesang dan Restu 'Pak Lurah'

Di tengah ketidakpastian dukungan koalisi, ada sebuah "sekoci" politik yang tampaknya sengaja disiapkan: Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Dipimpin oleh adiknya, Kaesang Pangarep, dan didukung penuh oleh sang ayah, Jokowi, PSI bertransformasi menjadi kendaraan politik yang menarik untuk diperhitungkan.

Dukungan Jokowi untuk PSI bukan lagi rahasia.

Dalam Kongres PSI di Solo pada Juli 2025, Jokowi secara terbuka menyatakan akan bekerja keras untuk membesarkan partai berlambang gajah tersebut.

"Saya akan selalu mendukung PSI. Oleh sebab itu saya akan bekerja keras untuk PSI," ujar Jokowi, yang disambut meriah oleh para kader.

Langkah ini bisa dibaca sebagai strategi dua kaki.

Di satu sisi, Gibran menjalankan tugasnya di dalam pemerintahan Prabowo.

Di sisi lain, keluarganya membangun basis kekuatan politik independen melalui PSI.

Jika suatu saat Gibran kehilangan dukungan di koalisi utama, PSI yang solid dan loyal bisa menjadi alat tawar (bargaining power) yang sangat kuat.

Dengan kata lain, PSI disiapkan sebagai jaminan agar Gibran dan kepentingan politik keluarganya tetap relevan dan memiliki suara, apa pun dinamika yang terjadi di pemerintahan.

Rapor Kinerja Gibran: Kebijakan sebagai Tameng Politik

Cara paling elegan untuk melawan serangan politik adalah dengan menunjukkan kinerja.

Tampaknya, Gibran memahami betul hal ini. Sejak dilantik, ia aktif terlibat dalam berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung masyarakat, terutama generasi muda dan kelompok ekonomi bawah.

Beberapa kebijakan dan program yang menjadi fokus Gibran antara lain:

Program Makan Siang dan Susu Gratis: Sebagai salah satu janji kampanye utama, program ini terus dipantau pelaksanaannya dan menjadi citra populis yang melekat pada pemerintahan Prabowo-Gibran.

Bantuan Subsidi Upah (BSU): Gibran terpantau aktif meninjau langsung penyaluran BSU 2025 untuk memastikan bantuan tunai bagi para pekerja tepat sasaran.

Digitalisasi dan Kredit Start-up: Mendorong hilirisasi digital dan program kredit bagi para perintis usaha dari kalangan milenial, sesuai dengan latar belakangnya sebagai pengusaha muda.

Pendidikan dan Pesantren: Memperluas akses sekolah gratis dan mengawal program Dana Abadi Pesantren menjadi bagian dari upayanya meraih simpati dari basis massa yang lebih luas.

Dengan membangun rekam jejak yang positif, Gibran tidak hanya memenuhi tugasnya sebagai wapres, tetapi juga membangun 'tameng' berupa popularitas dan kepuasan publik.

Semakin tinggi tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya, semakin sulit bagi elite politik untuk menggulirkan isu pemakzulan tanpa risiko mendapat perlawanan dari masyarakat.

Dinasti Politik atau Strategi Jangka Panjang?

Melihat rangkaian manuver ini, kita dihadapkan pada dua tafsir.

Kalangan kritis akan melihat ini sebagai upaya pelanggengan dinasti politik, di mana kekuasaan diatur dan diamankan untuk kepentingan keluarga.

Jalur istimewa Gibran ke kursi wapres dan konsolidasi PSI di bawah adiknya menjadi argumen utama dari tafsir ini.

Namun, dari kacamata realpolitik, ini adalah sebuah strategi jangka panjang yang cerdas.

Keluarga Jokowi, sebagai kekuatan politik baru di luar trah-trah lama, perlu membangun fondasi yang kokoh untuk bisa bertahan dalam kerasnya persaingan politik nasional.

Gibran membuktikan kapasitasnya di pemerintahan, sementara Kaesang membangun mesin politiknya.

Ini adalah realitas baru dalam politik Indonesia, di mana popularitas dan kinerja menjadi modal yang tak kalah penting dari sokongan partai politik tradisional.

Masa depan akan menjawab apakah strategi Gibran ini akan berhasil mengamankan posisinya hingga akhir masa jabatan atau justru memicu konsolidasi kekuatan lawan yang lebih besar.

Yang pasti, percaturan ini membuat politik Indonesia jauh dari kata membosankan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terbongkar! Jurus 'Nangis Sekencang-kencangnya' Grace Natalie Depan Jokowi: Simbiosis Mutualisme

Terbongkar! Jurus 'Nangis Sekencang-kencangnya' Grace Natalie Depan Jokowi: Simbiosis Mutualisme

News | Senin, 21 Juli 2025 | 18:47 WIB

NasDem Minta Wapres Gibran Segera Pindah ke IKN, PDIP Ingatkan soal Anggaran dan Aturan Main

NasDem Minta Wapres Gibran Segera Pindah ke IKN, PDIP Ingatkan soal Anggaran dan Aturan Main

News | Senin, 21 Juli 2025 | 17:20 WIB

TPDI: Pemakzulan Gibran Masih Mungkin, Asal Ada Keberanian Politik

TPDI: Pemakzulan Gibran Masih Mungkin, Asal Ada Keberanian Politik

News | Senin, 21 Juli 2025 | 16:24 WIB

Terkini

Polda Tetapkan 33 Tersangka Karhutla Kaltim, Dua di Antaranya Korporasi

Polda Tetapkan 33 Tersangka Karhutla Kaltim, Dua di Antaranya Korporasi

Kaltim | Minggu, 01 November 2026 | 06:51 WIB

Arwin AS Berpulang, Bupati Bengkalis Kenang Jasa Bapak Pembangunan Siak

Arwin AS Berpulang, Bupati Bengkalis Kenang Jasa Bapak Pembangunan Siak

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:38 WIB

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Arwin AS Wafat, Bupati Afni Kenang Pesan Terakhir: Jaga Siak, Jangan Menyerah

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 06:17 WIB

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Berapa Normal Asam Urat pada Wanita 40 Tahun ke Atas? Ini Batas dan Ciri-cirinya

Health | Minggu, 01 November 2026 | 06:10 WIB

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

×