Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Waka Komisi XIII DPR Singgung Pelanggaran HAM Orde Baru

Dwi Bowo Raharjo, Bagaskara Isdiansyah

Senin, 10 November 2025 | 13:33 WIB
Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Waka Komisi XIII DPR Singgung Pelanggaran HAM Orde Baru
Para aktivis dari sejumlah organisasi masyarakat sipil saat mengikuti Aksi Kamisan ke-883 di depan Istana Merdeka, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Andreas secara khusus menyinggung catatan pelanggaran HAM yang terjadi selama masa pemerintahan Orde Baru.
  • Ia juga mengingatkan Pemerintah untuk memastikan prosesnya terbuka dan akuntabel agar tidak menimbulkan tafsir politis.
  • Politikus PDIP itu mengatakan masyarakat tidak boleh lupa bahwa Soeharto punya jejak sejarah kelam.

Suara.com - Keputusan Pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 ini menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira.

Andreas secara khusus menyinggung catatan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi selama masa pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Politikus PDIP menegaskan bahwa pemberian gelar Pahlawan Nasional merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan sejarah dan membangun kebanggaan nasional. Namun, ia menekankan perlunya objektivitas dalam keputusan tersebut.

“Oleh karena itu, keputusan yang menyangkut figur publik dengan catatan sejarah pelanggaran HAM seperti Soeharto harus ditempatkan dalam kerangka objektivitas moral dan etik bernegara demi menjaga harkat dan martabat pendidikan kebangsaan,” kata Andreas kepada wartawan, Senin (10/11/2025).

Terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto, Andreas menekankan pentingnya proses penetapan yang transparan, inklusif, dan berbasis kriteria objektif.

“Masyarakat berhak mengetahui bagaimana sebuah nama diajukan, apa kontribusi yang menjadi dasar pengakuan, dan sejauh mana peran tersebut memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan Pemerintah untuk memastikan prosesnya terbuka dan akuntabel agar tidak menimbulkan tafsir politis.

“Jangan sampai pemberian gelar Pahlawan Nasional hanya demi kepentingan politik atau kepentingan kelompok tertentu karena akan mencederai rasa keadilan bagi rakyat Indonesia,” sebut Andreas.

Pimpinan Komisi HAM DPR ini turut mengingatkan semua pihak untuk memperhatikan jejak sejarah Soeharto, yang menurutnya sarat dengan tudingan pelanggaran HAM dan praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).

baca juga

“Pahlawan Nasional bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi cermin nilai dan arah moral bangsa. Karena itu, setiap keputusan negara dalam memberikan penghargaan ini harus mempertimbangkan semangat persatuan, rekonsiliasi, dan pembelajaran bagi generasi muda,” tuturnya.

“Kita tidak boleh lupa bahwa Soeharto punya jejak sejarah kelam, yang sudah menjadi pengetahuan umum, khususnya dalam hal pelanggaran HAM dan praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) selama ia memimpin negeri ini," sambungnya.

Andreas kemudian mengutip sejumlah kasus pelanggaran HAM yang ditudingkan kepada Soeharto berdasarkan laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Andreas Hugo Pareira mendesak Menteri Luar Negeri untuk segera membentuk tim investigasi independen terkait kematian diplomat Arya Daru Pangayunan. Hal ini disampaikan Andreas bersama keluarga almarhum Arya Daru di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/9/2025). [Suara.com/Bagaskara]
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Andreas Hugo Pareira. [Suara.com/Bagaskara]

Kasus-kasus tersebut antara lain:

  • Tindakan kejahatan kemanusiaan di Pulau Buru (1965-1966), saat Soeharto menjabat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkoops Pemulihan Kamtub), yang menyebabkan ribuan orang menjadi korban pembunuhan, penangkapan, penahanan massal, dan pembuangan.
  • Dugaan kebijakan penembakan misterius (1981-1985), yang menyebabkan sekitar 5.000 korban jiwa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bandung.
  • Peristiwa Tanjung Priok (1984-1987), yang menyebabkan lebih dari 24 orang meninggal, 36 terluka berat, dan 19 luka ringan.
  • Peristiwa Talangsari (1984-1987), sebagai kebijakan represif terhadap kelompok Islam, yang mengakibatkan 130 orang meninggal, serta berbagai bentuk pengusiran, perampasan kemerdekaan, penyiksaan, dan penganiayaan.
  • Pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh (1989-1998) dan DOM Papua (1963-2003), yang menyebabkan banyak korban berjatuhan, termasuk insiden Teminabun (1966-1967), Kebar (1965), serta Operasi Tumpas di Jayawijaya dan Wamena Barat (1970-1985) yang menewaskan banyak orang di 17 desa.
  • Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli), yang merupakan serangan terhadap kantor pusat PDI di Jakarta, menyebabkan 11 orang meninggal, 149 luka-luka, 23 orang hilang, dan 124 orang ditahan.
  • Penculikan dan Penghilangan Secara Paksa (1997–1998) yang melibatkan Tim Mawar.
  • Peristiwa Trisakti (1998), yang menyebabkan 4 mahasiswa tewas tertembak.
  • Kerusuhan 13–15 Mei 1998, yang merupakan rangkaian kekerasan setelah Peristiwa Trisakti, penculikan, dan penghilangan paksa, menyebabkan pembunuhan, penganiayaan, perusakan, pembakaran, penjarahan, penghilangan paksa, perkosaan, serta penyerangan terhadap etnis tertentu.

Dengan berbagai rentetan kasus pelanggaran HAM tersebut, Andreas menilai Soeharto tidak sepatutnya mendapat gelar kehormatan Pahlawan Nasional.

“Ini baru sedikit laporan dari Kontras. Kita belum berbicara soal kasus-kasus hukum lainnya, termasuk mengguritanya praktik KKN di era Orde Baru,” ujarnya.

“Belum lagi kita bicara soal rezim diktator yang menumpas kebebasan berekspresi dan menyebabkan banyak rakyat Indonesia mengalami penderitaan panjang," katanya menambahkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Bambang dan Tutut: Terima Kasih Pak Prabowo

Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Bambang dan Tutut: Terima Kasih Pak Prabowo

Video | Senin, 10 November 2025 | 13:26 WIB

Profil Marsinah, Aktivis Buruh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan oleh Presiden Prabowo

Profil Marsinah, Aktivis Buruh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan oleh Presiden Prabowo

News | Senin, 10 November 2025 | 13:21 WIB

Peluk Hangat Anak-anak Soeharto di Istana Usai Terima Gelar Pahlawan Nasional, Titiek Tersenyum

Peluk Hangat Anak-anak Soeharto di Istana Usai Terima Gelar Pahlawan Nasional, Titiek Tersenyum

News | Senin, 10 November 2025 | 13:12 WIB

Akhirnya Pahlawan! Ini Sederet Fakta di Balik Gelar Nasional Soeharto

Akhirnya Pahlawan! Ini Sederet Fakta di Balik Gelar Nasional Soeharto

News | Senin, 10 November 2025 | 12:54 WIB

Dunia Sorot Soeharto Jadi Pahlawan: 'Diktator' Disematkan Gelar Kehormatan oleh Menantunya

Dunia Sorot Soeharto Jadi Pahlawan: 'Diktator' Disematkan Gelar Kehormatan oleh Menantunya

News | Senin, 10 November 2025 | 12:43 WIB

Terkini

Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!

Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 05:58 WIB

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 00:01 WIB

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

News | Sabtu, 26 September 2026 | 23:28 WIB

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 23:20 WIB

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:44 WIB

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:34 WIB

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:20 WIB

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 22:14 WIB

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 21:59 WIB

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 21:25 WIB

×