Dari ISPA hingga Trauma: Ancaman Ganda yang Mengincar Anak di Wilayah Bencana

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Selasa, 02 Desember 2025 | 16:27 WIB
Dari ISPA hingga Trauma: Ancaman Ganda yang Mengincar Anak di Wilayah Bencana
Ancaman Ganda yang Mengincar Anak di Wilayah Bencana. (Suara.com)
  • Anak-anak di Sumatra terdampak bencana dengan masalah kesehatan seperti ISPA, ruam, dan diare akibat sanitasi rusak di posko pengungsian.
  • Prioritas penanganan bencana bagi anak harus mencakup kesehatan mental dan dukungan psikososial, mengatasi trauma serta kecemasan yang dialami.
  • Pencegahan jangka panjang memerlukan integrasi pendidikan kesiapsiagaan bencana sejak dini, mencontoh sistem pelatihan rutin seperti di Jepang.

Suara.com - Di tengah puing-puing rumah yang hanyut dan bau lumpur yang tak kunjung hilang, anak-anak di Sumatra melewati hari-hari bencana dengan tubuh rapuh dan napas pendek. Di Padang, empat dari ratusan korban jiwa yang ditemukan termasuk anak-anak, angka yang mungkin terlihat kecil di atas kertas, tapi tak pernah kecil bagi ibu yang kini hanya bisa memeluk bekas pakaian anaknya. 

Sementara itu, ratusan anak lain masih bertahan di posko-posko pengungsian dari Sumatra Barat hingga Aceh dan Sumatra Utara, menunggu layanan kesehatan yang sempat terputus akibat akses terisolasi berhari-hari.

Tim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bagaimana batuk yang tak henti, kulit yang ruam, hingga diare mulai menyerang para korban, terutama anak-anak yang lebih rentan. 

Di Langkat, Sumatra Utara, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menyerang 55 dari 125 anak yang diperiksa. Di Binjai, 37 anak mengeluhkan sesak napas dan 18 lainnya diare akibat sanitasi yang rusak. 

Bahkan di Medan Barat, dari 54 anak yang diperiksa, 43 di antaranya mengalami ISPA. Kondisi itu seolah menandakan betapa udara lembap, kepadatan posko, dan dinginnya malam lebih dulu melukai sebelum trauma sempat mereda.

Gambaran ini sejalan dengan temuan global UNICEF bahwa gangguan layanan kesehatan setelah bencana dapat memperburuk risiko jangka panjang pada anak, dari keterlambatan tumbuh kembang hingga trauma psikologis yang sulit pulih. 

Di Sumatra, semua itu kini terlihat nyata di wajah-wajah kecil yang menunggu keadaan kembali aman.

Data kondisi kesehatan anak di wilayah bencana Sumatra. (Suara.com)
Data kondisi kesehatan anak di wilayah bencana Sumatra. (Suara.com)

Kenapa Anak Harus Jadi Prioritas dalam Penanganan Bencana?

Di balik statistik dan laporan lapangan, ada satu pesan yang terus diulang para dokter anak bahwa anak bukan sekadar bagian dari kelompok rentan, tapi mereka merupakan kelompok yang paling rentan.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa tekanan psikologis pada anak-anak korban bencana sering kali jauh lebih besar dari yang terlihat. 

“Anak-anak bisa mengalami trauma, ketakutan, cemas, bahkan mimpi buruk,” ujarnya. 

Situasi yang serba tidak pasti, kehilangan rumah, hingga menyaksikan orang tua menangis membuat banyak anak memasuki fase diam, gelisah, atau agresif tanpa mereka pahami.

Perubahan lingkungan yang drastis membuat anak-anak sulit beradaptasi. Di posko pengungsian, mereka tidur berdesakan, makan makanan seadanya, dan tanpa ruang untuk bermain, sesuatu yang bagi anak kecil lebih dari sekadar hiburan, tetapi bagian penting dari proses penyembuhan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga nutrisi, air bersih, dan terutama imunisasi, karena campak dan penyakit menular lain dapat menyebar cepat di tempat pengungsian.

Pendekatan yang Bisa Dicontoh: Dari Ruang Aman Anak hingga Pendidikan Kebencanaan

Di beberapa negara, penanganan bencana untuk anak sudah menjadi sistem yang matang. Jepang, misalnya, dikenal dengan kebijakan disaster preparedness di sekolah. Anak-anak dilatih rutin melakukan evakuasi, mengenali jalur aman, bahkan membantu adik kelas atau lansia ketika gempa terjadi.

Pendekatan itu terbukti menyelamatkan banyak nyawa saat tsunami 2011. Di Kota Kamaishi, murid sekolah mampu mengevakuasi diri dengan cepat karena telah berlatih bertahun-tahun, sebuah contoh bahwa edukasi kesiapsiagaan bisa menjadi investasi keselamatan.

Selain edukasi, Jepang juga menggunakan Child-Friendly Space, ruang aman tempat anak bisa bermain, menggambar, dan mendapatkan pendampingan psikososial setelah bencana. Ruang seperti itu terbukti mengurangi kecemasan dan mencegah trauma berkepanjangan.

Model ini sangat relevan untuk Sumatra. Bayangkan jika di setiap posko terdapat tenda kecil berwarna cerah dengan beberapa buku gambar, alat bermain sederhana, dan relawan yang terlatih untuk mendampingi. 

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, mengingatkan bahwa penanganan anak dalam situasi darurat tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik. Menurutnya, kesehatan mental sering kali terabaikan padahal sama pentingnya. 

Membangun Budaya Sadar Bencana Sejak Kecil

Ketika bencana berkali-kali menghantam Sumatra, satu pertanyaan kembali muncul: apa yang sebenarnya kita lewatkan? Profesor bidang mitigasi bencana Universitas Brawijaya, Prof Sukir Maryanto, pernah mengingatkan kalau fondasi kesadaran bencana seharusnya ditanamkan, bukan ketika sirine sudah berbunyi, tetapi jauh sebelum itu.

Sukir menjelaskan bahwa Jepang telah membuktikan bagaimana pendidikan karakter kebencanaan mampu mengubah perilaku generasi mudanya. Program town and school watching yang ia pelajari di sana membuat anak-anak terbiasa memetakan risiko di lingkungan sekitar mereka: dari aliran sungai, jalur evakuasi, hingga titik rawan bangunan. 

Pakar mitigasi bencana UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki standar nasional layanan kemanusiaan dalam bencana. 

Standar itu tidak hanya bicara soal tenda yang nyaman dan ramah anak, tetapi juga prasyarat bantuan pangan, non-pangan, hingga tata kelola hewan peliharaan dan ternak yang sering kali luput dari perhatian. Namun standar itu baru berarti bila diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya menjadi dokumen di rak lembaga.

Ia menekankan bahwa tata ruang pun harus berubah arah, tidak lagi hanya memikirkan perlindungan anak, tetapi perlindungan keluarga secara utuh. Karena keamanan seorang anak bergantung pada ruang yang juga aman bagi orang tua, saudara, dan seluruh ekosistem kehidupan di sekitarnya.

"Ini penting agar kita berkeadilan untuk semua, anak, orang tua dan yang lain," katanya.

Kurikulum kebencanaan, kata Eko, tidak mungkin tumbuh menjadi refleks kalau tidak ditopang budaya. Anak-anak belajar dari pengulangan sederhana, latihan yang terus-menerus, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah.

Pada akhirnya, keselamatan anak-anak bukan hanya soal evakuasi, tetapi memastikan mereka tetap sehat setelah bencana berlalu. Dengan respons cepat, layanan medis yang memadai, dan edukasi yang tepat, risiko penyakit bisa ditekan dan masa depan mereka tetap terlindungi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

'Nyumbang Sambil Dagang', Klarifikasi Richard Lee Pakai Hasil Jualan untuk Donasi Banjir Sumatra

'Nyumbang Sambil Dagang', Klarifikasi Richard Lee Pakai Hasil Jualan untuk Donasi Banjir Sumatra

Entertainment | Selasa, 02 Desember 2025 | 16:24 WIB

Apa Itu Windy? Aplikasi Canggih Prakiraan Cuaca hingga Bencana Alam Real Time

Apa Itu Windy? Aplikasi Canggih Prakiraan Cuaca hingga Bencana Alam Real Time

Lifestyle | Selasa, 02 Desember 2025 | 15:31 WIB

Tragedi Sumatra: 631 Tewas, 472 Hilang, Pemerintah Siapkan Hunian Pasca Bencana

Tragedi Sumatra: 631 Tewas, 472 Hilang, Pemerintah Siapkan Hunian Pasca Bencana

News | Selasa, 02 Desember 2025 | 15:24 WIB

Terkini

Sopir Bajaj Tanah Abang Dipalak, DPRD DKI Dorong Sistem Parkir Cashless

Sopir Bajaj Tanah Abang Dipalak, DPRD DKI Dorong Sistem Parkir Cashless

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:49 WIB

Ustaz Solmed Laporkan Lebih dari 10 Akun Medsos atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Ustaz Solmed Laporkan Lebih dari 10 Akun Medsos atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:45 WIB

Satu Keluarga Tewas Akibat Kebakaran, Wali Kota Jakbar: Teralis Besi Menyulitkan Evakuasi

Satu Keluarga Tewas Akibat Kebakaran, Wali Kota Jakbar: Teralis Besi Menyulitkan Evakuasi

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:34 WIB

Bukan Sekadar Revisi, Pemerintah Sebut Perubahan UU HAM Lebih dari 50 Persen

Bukan Sekadar Revisi, Pemerintah Sebut Perubahan UU HAM Lebih dari 50 Persen

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:28 WIB

Ketua Ombudsman Tersangka Korupsi, DPR Ngaku Tak Tahu Hery Susanto Berkasus Saat Uji Kelayakan

Ketua Ombudsman Tersangka Korupsi, DPR Ngaku Tak Tahu Hery Susanto Berkasus Saat Uji Kelayakan

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:18 WIB

Tekan Konsumsi BBM, Pramono Anung Genjot Penggunaan Solar Panel di Jakarta

Tekan Konsumsi BBM, Pramono Anung Genjot Penggunaan Solar Panel di Jakarta

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:09 WIB

Geledah Rumah Bupati Tulungagung di Surabaya, KPK Temukan Uang Tunai Puluhan Juta

Geledah Rumah Bupati Tulungagung di Surabaya, KPK Temukan Uang Tunai Puluhan Juta

News | Jum'at, 17 April 2026 | 19:03 WIB

Pramono Anung Bakal Pangkas Pajak Warga Jakarta, Ini Bocoran Kebijakan Barunya

Pramono Anung Bakal Pangkas Pajak Warga Jakarta, Ini Bocoran Kebijakan Barunya

News | Jum'at, 17 April 2026 | 18:57 WIB

Apa Tugas Ombudsman? Ketua Hery Susanto Jadi Tersangka Korupsi

Apa Tugas Ombudsman? Ketua Hery Susanto Jadi Tersangka Korupsi

News | Jum'at, 17 April 2026 | 18:51 WIB

Sehari Operasi, Anak Buah Pramono Tangkap 6,98 Ton Ikan Sapu-sapu

Sehari Operasi, Anak Buah Pramono Tangkap 6,98 Ton Ikan Sapu-sapu

News | Jum'at, 17 April 2026 | 18:37 WIB