Pilkada lewat DPRD Dapat Lampu Hijau Prabowo, Analis: Jangan Buru-buru

Vania Rossa, Novian Ardiansyah

Senin, 08 Desember 2025 | 14:30 WIB
Pilkada lewat DPRD Dapat Lampu Hijau Prabowo, Analis: Jangan Buru-buru
Ilustrasi Pilkada lewat DPRD. [Ist]
baca 10 detik
  • Wacana Pilkada lewat DPRD yang kembali disuarakan Partai Golkar dan mendapat sinyal positif dari Presiden Prabowo dinilai sebagai langkah mundur demokrasi oleh Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago.
  • Menurutnya, memindahkan pemilihan dari rakyat ke DPRD hanya menggeser masalah ke ruang elite, membuka peluang politik transaksional, dan mengurangi akuntabilitas kepala daerah kepada publik.
  • Arifki menegaskan demokrasi lokal seharusnya diperbaiki melalui penguatan regulasi, pengawasan, dan literasi politik, bukan dengan mencabut hak rakyat untuk memilih langsung.

Suara.com - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago mengatakna usulan memilih kepala daerah melalui DPR merupakan langkah mundur dari capaian demokrasi elektoral Indonesia. Hal ini ia tegaskan menyusul lampu hijau dari Presiden Prabowo Subianto terhadap usulan Partai Golkar.

Sebelumnya, pada peringatan HUT ke-62 Partai Golkar, Ketua Umum Bahlil Lahadalia menyampaikan kembali usulan dari "Beringin" terhadap Pilkada melalui DPRD. Adapun Prabowo memberikan sinyal positif untuk mempertimbangkan.

Arifki mengatakan pelaksanaan Pilkada langsung memang tidak sempurna. Tetapi mengembalikannya ke DPRD bukan jawaban.

"Itu hanya memindahkan persoalan dari ruang publik ke ruang elite dan publik akan membacanya sebagai pengurangan hak memilih," kata Arifki, Senin (8/12/2025).

Narasi efisiensi pemilu, menurutnya, hanya muncul dalam diskusi elite, namun hampir tidak pernah menjadi keluhan utama masyarakat di daerah. Masyarakat justru mengeluhkan buruknya tata kelola kampanye, lemahnya penegakan hukum pemilu, dan minimnya edukasi politik.

“Kalau vas bunga jatuh karena raknya goyang, yang harus diperbaiki itu raknya, bukan menyembunyikan bunganya ke gudang. Demokrasi kita bermasalah bukan karena rakyat memilih langsung, tetapi karena infrastruktur politiknya tidak diperkuat, " kata Arifki. 

Potensi Politik Transaksional

Mengembalikan pemilihan kepala daerah lewat DPRD berpotensi membuka pintu lebar untuk politik transaksional. Arifki berujar mekanisme pemilihan oleh segelintir anggota DPRD membuat akuntabilitas kepala daerah tidak lagi diarahkan kepada rakyat, tapi kepada elite yang memilih.

“Risikonya sederhana: kepala daerah lebih sibuk menjaga suara di ruang tertutup ketimbang bekerja untuk suara publik. Kita pernah hidup dalam model itu dan tidak ada nostalgia yang perlu dirayakan," kata Arifki. 

baca juga

Lebih lanjut, menurut Arif, usulan pemilihan kepala daerah ke DPRD justru memperburuk jarak antara elite dan warga. Terlebih wacana tersebut disamaikan di tengah turunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai dan lembaga legislatif. Secara komunikasi, Arif menilai partai dan pemerintah tidak peka terhadap suasana publik.

“Ini semacam pesan yang tidak sinkron. Ketika publik menuntut transparansi dan partisipasi yang lebih besar, justru muncul wacana yang mengembalikan proses politik ke ruangan tertutup. Secara persepsi, ini langkah yang sangat kontra dengan arus publik," kata Arifki. 

Sebatas Manuver Politik

Usulan Partai Golkar agar Pilkada kembali dilakukan melalui DPRD, kata Arif tampak lebih sebagai manuver politik ketimbang kajian serius. Sebabnya Pilkada lewat DPRD membuat masyarakat tidak lagi mengenal figur. 

Selain itu, usulan tersebut juga akan berdampak terhadap dinamika Undang-Undang Pemilu dan kalkulasi partai melihat potensi pemilu 2029.  

“Kalau wacana sebesar ini muncul hanya sebagai lemparan awal tanpa desain lengkap, itu menunjukkan bahwa ini sekadar diskursus awal UU Pemilu tahun 2026 yang sedang dilakukan 'tes ombak'. Aturan tidak boleh dikelola dengan metode ‘lempar dulu, lalu lihat 'siapa saja yang marah’ dan selanjutnya dibatalkan," kata Arif. 

Menurut Arifki demokrasi lokal tidak perlu dirombak ke belakang, melainkan diperbaiki ke depan.

Ia mengatakan yang dibutuhkan adalah perbaikan regulasi, penguatan pengawasan, literasi politik, dan pembiayaan politik yang transparan. Bukan justru mencabut hak rakyat untuk memilih kepala daerah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Setuju Pilkada Lewat DPRD, Apa Alasan Prabowo Kasih Lampu Hijau Usulan Golkar?

Setuju Pilkada Lewat DPRD, Apa Alasan Prabowo Kasih Lampu Hijau Usulan Golkar?

News | Sabtu, 06 Desember 2025 | 10:40 WIB

Demi Stabilitas Pemerintahan, Bahlil Usulkan Pembentukan Koalisi Permanen: Jangan On Off

Demi Stabilitas Pemerintahan, Bahlil Usulkan Pembentukan Koalisi Permanen: Jangan On Off

News | Sabtu, 06 Desember 2025 | 10:17 WIB

Minta Pilkada Lewat DPRD, Bahlil di Depan Prabowo-Puan: Usul Bahas RUU Politik Hingga Sentil MK

Minta Pilkada Lewat DPRD, Bahlil di Depan Prabowo-Puan: Usul Bahas RUU Politik Hingga Sentil MK

News | Sabtu, 06 Desember 2025 | 09:47 WIB

Terkini

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:25 WIB

Modus Pejabat Desa Jual Kawasan Hutan Rp2 M di Bengkalis, Terungkap dari Karhutla

Modus Pejabat Desa Jual Kawasan Hutan Rp2 M di Bengkalis, Terungkap dari Karhutla

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 10:25 WIB

Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?

Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:23 WIB

Bahas Chemistry Instan, Le Sserafim Comeback dengan Lagu 'Made My Night'

Bahas Chemistry Instan, Le Sserafim Comeback dengan Lagu 'Made My Night'

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 10:15 WIB

7 Cara Menghilangkan Noda Bekas Setrika yang Nempel di Baju dengan Mudah

7 Cara Menghilangkan Noda Bekas Setrika yang Nempel di Baju dengan Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 10:15 WIB

Harga Diri Dipertaruhkan! Wali Kota Bakar Semangat PSM Jelang Lawan Arema FC

Harga Diri Dipertaruhkan! Wali Kota Bakar Semangat PSM Jelang Lawan Arema FC

Sulsel | Minggu, 13 September 2026 | 10:13 WIB

Kualitas Udara Jakarta Tak Sehat Minggu Pagi, Masuk Tiga Besar Terburuk di Dunia

Kualitas Udara Jakarta Tak Sehat Minggu Pagi, Masuk Tiga Besar Terburuk di Dunia

News | Minggu, 13 September 2026 | 10:10 WIB

10 Manfaat Rutin Membersihkan Pori-pori Wajah, Mencegah Penuaan Dini

10 Manfaat Rutin Membersihkan Pori-pori Wajah, Mencegah Penuaan Dini

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 10:10 WIB

Jepang Cetak Sejarah Dunia Bantu Padamkan Kebakaran Hutan Kalimantan

Jepang Cetak Sejarah Dunia Bantu Padamkan Kebakaran Hutan Kalimantan

News | Minggu, 13 September 2026 | 10:05 WIB

Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif

Karhutla 400 Hektare di Kaltim Didominasi Lahan Mineral, BNPB: Sawit Belum Masif

Kaltim | Minggu, 13 September 2026 | 10:05 WIB

×