Gelombang Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Baru Bagi Pekerja Dunia, Apa yang Mesti Dilakukan?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Desember 2025 | 13:40 WIB
Gelombang Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Baru Bagi Pekerja Dunia, Apa yang Mesti Dilakukan?
Seorang nelayan mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]
baca 10 detik
  • Pekerja jadi kelompok paling rentan dampak panas ekstrem.
  • Gelombang panas memicu kematian, protes, dan kebijakan darurat.
  • Sektor fisik terbanyak terpukul, risiko mental ikut meningkat.
  •  

Suara.com - Para pekerja di seluruh dunia kini menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan suhu ekstrem yang semakin masif dan sulit diprediksi telah menyeret mereka ke kondisi berbahaya.

Paparan panas intens di lingkungan kerja mengindikasikan tingkat ancaman yang semakin mendesak bagi sektor ketenagakerjaan dunia. Para ahli menilai bahwa tempat kerja mereka telah menjadi medan krisis iklim berikutnya setelah bencana alam dan kelangkaan pangan.

Fenomena gelombang panas dahsyat pada musim panas tahun ini memang menjadi salah satu contoh paling dramatis.

Gambar udara menunjukan seorang nelayan sedang mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]
Gambar udara menunjukan seorang nelayan sedang mengumpulkan ikan mati dari waduk di provinsi Dong Nai, Vietnam, Selasa (30/4/2-24). [AFP]

Suhu ekstrem yang memecahkan rekor memicu kebakaran hutan dan kekeringan mencekik pasokan air, meningkatkan kematian akibat panas hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Para ilmuwan memperkirakan setidaknya ada 16.500 kematian tambahan terjadi akibat paparan panas ekstrem di sepanjang periode tersebut.

Contohnya bisa dilihat dari tragedi yang menimpa pekerja kebersihan jalan di Barcelona. Montse Aguilar, 51 tahun, tumbang saat menjalankan tugas di tengah suhu mencapai 35°C ketika kota berada dalam status siaga tinggi. 

Dari peristiwa sontak memicu kemarahan publik dan demonstrasi ratusan para pekerja untuk menyerukan bahwa panas ekstrem sekarang merupakan bentuk kekerasan baru yang dihadapi para pekerja di lapangan.

publik memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan darurat yang mewajibkan perusahaan menyediakan perangkat perlindungan panas, termasuk pakaian kerja berteknologi breathable, topi, tabir surya, serta kewajiban jam istirahat khusus untuk hidrasi. Selain itu, penyapuan jalan dihentikan sepenuhnya saat suhu mencapai 40°C.

Dalam laporan International SOS terbaru pun menyebut bahwa panas ekstrem kini masuk ke jajaran risiko utama keselamatan kerja global. 

baca juga

“Di era saat ini, perusahaan tidak bisa lagi menjadikan angka suhu udara sebagai satu-satunya rujukan pengaturan kerja. Industri diingatkan untuk segera membangun sistem perlindungan komprehensif terkait panas ekstrem karena regulasi global diprediksi akan semakin ketat ke depan,” tambahan laporan tersebut

Sektor yang paling terpukul adalah pertanian, konstruksi, industri manufaktur, dan transportasi. Negara-negara berpendapatan rendah juga diperkirakan akan mengalami kerugian paling besar karena minimnya fasilitas adaptasi dan perlindungan tenaga kerja.

Para peneliti memperingatkan adanya dampak jangka panjang berupa kehilangan pasokan tenaga kerja dan potensi perlambatan ekonomi yang menghantam rantai perdagangan global.

Dampak perubahan iklim juga menciptakan tekanan mental besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Occupational Medicine mengungkap bahwa perubahan iklim dapat memicu konflik di lingkungan kerja, lonjakan niat berhenti kerja, serta meningkatnya permusuhan antar pekerja.

Tekanan psikologis ini yang memperburuk kapasitas pekerja dalam mengambil keputusan krusial dan memicu keterikatan kerja secara berlebihan di sektor yang berhubungan langsung dengan iklim, seperti kehutanan, energi, dan pertambangan.

Penulis: Muhammad Ryan Sabiti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suhu di Jakarta Sempat Sentuh 35 Derajat, Pramono Anung: Yang Penting Hatinya Nggak Panas

Suhu di Jakarta Sempat Sentuh 35 Derajat, Pramono Anung: Yang Penting Hatinya Nggak Panas

News | Rabu, 15 Oktober 2025 | 18:46 WIB

Cuaca Panas Mendidih Pagi-Malam Akhir-akhir Ini Bukan Gelombang Panas, Ini Kata BMKG

Cuaca Panas Mendidih Pagi-Malam Akhir-akhir Ini Bukan Gelombang Panas, Ini Kata BMKG

Tekno | Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:09 WIB

Gelombang Panas Laut Melemahkan Kemampuan Laut Menyerap Karbon: Apa yang Bisa Dilakukan?

Gelombang Panas Laut Melemahkan Kemampuan Laut Menyerap Karbon: Apa yang Bisa Dilakukan?

News | Kamis, 09 Oktober 2025 | 17:03 WIB

Terkini

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:50 WIB

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:25 WIB

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:25 WIB

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:23 WIB

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:55 WIB

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:50 WIB

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:39 WIB

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:32 WIB

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:24 WIB

×