- Perempuan korban banjir memasak di dapur umum untuk para relawan.
- Yayasan Darah untuk Aceh menginisiasi dapur umum di RSUD Aceh Tamiang.
- Solidaritas menjadi kekuatan utama di tengah pemulihan pascabencana.
“Karena mereka harus kembali lagi istirahat di pengungsian juga.”
Tantangan logistik pun tak main-main. Di tengah semrawutnya kondisi Aceh Tamiang, Nuu harus menempuh perjalanan 46 kilometer bolak-balik ke Kota Langsa setiap hari hanya untuk mendapatkan sembako.
Denyut Nadi Rumah Sakit yang Kembali Berdetak
Pelayanan RSUD Aceh Tamiang sebenarnya sudah mulai berjalan sejak 9 Desember, meski saat itu hanya UGD yang berfungsi. Kehadiran ratusan relawan sangat membantu mempercepat pembersihan.
![Belasan perempuan mendedikasikan diri bekerja di dapur umum darurat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Aceh Tamiang untuk korban berncana dan relawan. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/08/77080-perempuan-di-dapur-umum-darurat-di-aceh-tamiang.jpg)
Menurut Direktur RSUD Aceh Tamiang, Andika Putra, pembersihan rumah sakit kini telah mencapai 70 persen.
"Secara manual tiap-tiap kamar dibersihkan. Itu yang memang butuh waktu,” kata Andika.
Kehadiran dapur umum, menurutnya, sangat membantu percepatan pembersihan karena para relawan tak perlu pusing mencari makan. Kini, ruangan-ruangan yang tadinya penuh lumpur sudah bisa ditempati kembali.
“Pasien rawat inap sudah ada sekitar 30 pasien yang dirawat,” katanya.
Meski begitu, tantangan belum usai. Lumpur yang pekat sulit dibersihkan karena alat berat tidak bisa masuk, dan ketersediaan air bersih masih menjadi perhatian utama.
Di tengah riuh kesibukan itu, Yayasan Darah untuk Aceh berharap uluran tangan para donatur terus mengalir, karena dana mereka hanya cukup hingga awal Januari.
Sebuah Titik Balik Mi Instan Mentah
Bagi Nuu Husein, keputusannya membangun dapur umum lahir dari sebuah momen yang menyentuh hati. Saat pertama kali tiba di lokasi bencana pada 4 Desember, ia terenyuh melihat kondisi warga di Gampong Kota Karang. Ibu-ibu di sana mengaku sudah beberapa hari tidak makan nasi.
“Mereka hanya mengunyah mi instan mentah,” kata Nuu. Momen itulah yang menjadi titik baliknya.
![Belasan perempuan mendedikasikan diri bekerja di dapur umum darurat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Aceh Tamiang untuk korban berncana dan relawan. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/08/98877-perempuan-di-dapur-umum-darurat-di-aceh-tamiang.jpg)
Awalnya, Nuu dan timnya mengantar makanan jadi dari Langsa. Ia juga menyuplai kasur, baju, dan perlengkapan bayi. Di tengah kesibukan itu, ia bertemu seorang anak bernama Aqila yang menangis.
“Saya tanya, kenapa menangis nak?” kenang Nuu. Jawaban anak itu membekas selamanya: “Kia kan tidak kenal kenapa dikasih nasi? Udah lama tidak makan nasi.”
Kursi Roda Pembawa Beras
Kembali ke dapur rumah sakit, pemandangan unik tersaji. Nasi yang telah dibungkus Nisa dimasukkan ke dalam kantong plastik biru.
Sementara itu, rekannya yang lain pergi ke gudang penyimpanan beras. Bukan dengan troli, melainkan dengan kursi roda pasien.
“Kami kalau ada kaum laki-laki ke sini, tidak segan-segan minta bantu langsung,” kata salah seorang dari mereka sambil tertawa.
Secara bergantian, kursi roda itu juga beralih fungsi menjadi pengantar nasi ke kamar-kamar pasien. Sore itu, saat saya beranjak pergi, lumpur masih melekat di halaman rumah sakit.
Para relawan mulai membersihkan diri, beristirahat sejenak, sebelum kembali mengulang perjuangan yang sama esok hari. Di dapur itu, setiap bungkus nasi adalah wujud kepedulian, sebuah ruang harapan di mana mereka yang sama-sama terluka saling menguatkan.
_________________
Reporter: Iskandar