- Gunung Semeru di Lumajang erupsi Jumat sore, mengeluarkan awan panas guguran mencapai 4 hingga 5 kilometer dari puncak.
- Letusan pukul 15.13 WIB menghasilkan kolom abu tebal setinggi 2.000 meter condong ke utara dan timur laut.
- PVMBG mempertahankan Status Siaga Level III dan melarang aktivitas pada radius 13 kilometer sepanjang Besuk Kobokan.
Suara.com - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali meningkat secara signifikan pada Jumat sore. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini erupsi disertai luncuran awan panas guguran yang menerjang lereng sejauh 4 kilometer dari puncak Mahameru, memicu kewaspadaan tingkat tinggi bagi warga sekitar.
Peristiwa erupsi yang disertai fenomena piroklastik berbahaya ini dikonfirmasi langsung oleh petugas di lapangan. Luncuran material vulkanik panas tersebut menjadi ancaman serius bagi area-area yang berada di jalur alirannya.
"Terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 4.000 meter dan erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulisnya sebagaimana dilansir Antara, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan pemantauan visual melalui kamera CCTV pada pukul 16.01 WIB, petugas mengidentifikasi bahwa jarak luncur awan panas guguran tersebut bahkan sempat mencapai dan berhenti pada jarak 5 kilometer dari puncak.
Erupsi utama sendiri tercatat terjadi pada pukul 15.13 WIB. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik yang membumbung sangat tinggi, diperkirakan mencapai 2.000 meter di atas puncak, atau setara dengan ketinggian 5.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur laut. Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sementara sekitar 19 menit 52 detik," tuturnya.
Getaran erupsi yang kuat dan durasi yang cukup lama menandakan besarnya energi yang dilepaskan dari dalam kawah Jonggring Saloko.
Dengan aktivitas yang terus berfluktuasi dan cenderung meningkat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara tegas mempertahankan status Gunung Semeru pada Level III atau Siaga.
Sejumlah rekomendasi krusial pun dikeluarkan untuk menjamin keselamatan warga dan semua pihak yang beraktivitas di sekitar gunung.
Baca Juga: Aktivitas Erupsi Masih Tinggi, Semeru Alami Puluhan Gempa Letusan dalam Enam Jam
PVMBG melarang keras adanya aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan, dengan radius bahaya yang ditetapkan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi di puncak.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.
Rekomendasi ini mengindikasikan bahwa ancaman tidak hanya datang dari luncuran awan panas primer, tetapi juga dari potensi aliran lahar dingin yang bisa meluas jauh ke hilir jika terjadi hujan di puncak gunung.
Lebih lanjut, Sigit juga menegaskan kembali larangan untuk beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru.
Area ini dinilai sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang bisa terjadi sewaktu-waktu saat erupsi.
Masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap seluruh potensi bahaya turunan dari erupsi Semeru, termasuk awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak.
Area yang perlu diwaspadai secara khusus adalah sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungai dari Besuk Kobokan.