Ancaman Mata Kering SePeLe di Balik Layar Laptop Mengintai Pekerja Remote, INSTO Dry Eyes Solusinya

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:45 WIB
Ancaman Mata Kering SePeLe di Balik Layar Laptop Mengintai Pekerja Remote, INSTO Dry Eyes Solusinya
Salah satu remote worker di Yogyakarta sedang bekerja dari cafe (Suara.com/Chyntia Sami)
Baca 10 detik

.

Suara.com - Di balik gaji tinggi dan fleksibilitas yang ditawarkan pekerjaan remote, ancaman mata kering SePeLe hingga kebutaan mengintai para pekerjanya. Obat tetes mata INSTO Dry Eyes jadi pertolongan pertama menyelamatkan mata para pekerja remote.

"Klik... Klik... Klik". Suara mouse memecah keheningan malam di sebuah kamar kos di Yogyakarta. Waktu hampir tengah malam, namun tangan kanan Amelia Prisilia masih bergerak lincah menggeser mouse hitamnya kekiri dan kekanan. Kedua matanya fokus menatap layar laptop yang dipenuhi barisan tulisan menunggu untuk disunting satu per satu.

Tangan kiri Amelia sesekali memijat keningnya perlahan, kedua matanya terpejam beberapa detik menahan perih. Selama enam bulan terakhir, rutinitas menjadi remote worker atau pekerja jarak jauh itu menjadi bagian dari hidupnya.

Kepada Suara.com pada Selasa (6/1/2026), Amelia bercerita pekerjaannya di sebuah perusahaan medical tourism yang berbasis di Amerika Serikat itu memaksanya bekerja mengikuti ritme negeri Paman Sam. Ketika sebagian besar karyawan kantor membuka laptop pukul sembilan pagi, ia justru baru memulai jam kerjanya pada pukul tiga sore dan baru benar-benar berhenti setelah lewat tengah malam.

Tiga pekan pertama sebagai pekerja remote menjadi masa paling menantang bagi Amelia. Ia memaksa tubuhnya beradaptasi begadang tiap hari dan menjaga fokus tinggi selama delapan jam. Rutinitas menatap layar monitor dalam intensitas tinggi membuat matanya terasa kering dan panas.

“Awalnya saya kira cuma mata kering karena kelelahan biasa,” kata Amelia.

Namun gejala itu tak kunjung hilang. Gejala mata sepet, perih, dan lelah (SePeLe) semakin progresif. Puncaknya, rasa sakit tidak hanya dirasakan di kedua matanya, melainkan telah menjalar sampai ke kepala. Amelia sempat merasakan sakit kepala cukup hebat yang mengganggu aktivitas.

“Rasanya sakit banget sampai ke kepala, pernah sampai minum parasetamol untuk meredakan nyeri,” ujarnya.

Tak ada pilihan lain yang dapat diambil Amelia. Setahun terakhir ia menjalani dua kali operasi akibat De Quervain syndrome, peradangan pada selubung tendon di pangkal ibu jari dan pergelangan tangan yang dideritanya. Jari-jarinya sering terasa kaku, sulit digerakkan, dan membuatnya tidak mungkin kembali ke rutinitas menulis intensif di kantor seperti sebelumnya. Ia harus menjalani fisioterapi tiga kali seminggu untuk memulihkan fungsi tangannya.

Di tengah situasi yang serba terbatas itu, pekerjaan remote memberikan win win solution untuknya. Ia bisa bekerja dari mana saja, tidak perlu izin ke kantor setiap kali harus fisioterapi, dan gaji dolar yang ditawarkan cukup besar untuk menopang biaya hidupnya.

“Ya ada plus minus sih. Kerja remote bisa fleksibel jadi jadwal terapi nggak terganggu, tapi minusnya mata kering,” ujar Amelia.

Fenomena pekerja remote seperti Amelia kini bukan hal yang langka. Data Global Workplace Analytics menunjukkan bahwa kerja jarak jauh tumbuh 216 persen sepanjang 2015–2019 dan melonjak tajam selama pandemi. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari Jobstreet by SEEK bersama Boston Consulting Group juga mencatat peningkatan signifikan remote worker Indonesia, dari 55 persen di 2022 menjadi 71 persen pada 2023.

Di balik fleksibilitas dan kebebasannya, ancaman kesehatan mata seperti yang dialami Amelia juga mengintai banyak pekerja remote lainnya. Sebuah studi yang diterbitkan di PubMed pada 2021 berjudul The Relationship Between Dry Eye Disease and Digital Screen Use mengungkapkan, penggunaan layar digital jangka panjang merupakan salah satu faktor risiko utama dry eye disease (DED) atau mata kering. Semakin lama durasi menatap layar, semakin tinggi risiko mata kering.

Infografis ancaman mata kering di balik layar laptop (Suara.com)
Infografis ancaman mata kering di balik layar laptop (Suara.com)

Mengapa Menatap Layar Membuat Mata Kering?

Banyak orang percaya mata kering terjadi karena sinar radiasi dari layar digital menembus mata. Anggapan ini sudah terlanjur populer, tetapi faktanya keliru. Dokter mata subspesialis infeksi dan imunologi mata di JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Anna Nur Utami, SpM menjelaskan, penyebab utama mata kering bukanlah radiasi, melainkan menurunnya frekuensi kedipan mata ketika seseorang menatap layar terlalu lama.

Dalam kondisi normal, seseorang berkedip 10–15 kali per menit. Kedipan ini berfungsi menghasilkan air mata untuk menjaga kelembapan mata. Saat fokus pada layar digital, refleks kedipan otomatis menurun menjadi hanya 5–7 kali per menit. Ketika kedipan berkurang, produksi air mata menurun dan penguapan air mata meningkat. Kombinasi inilah yang memicu timbulnya sensasi mata kering, panas atau berpasir.

“Mata yang dipaksa fokus dan konsentrasi tinggi dalam waktu lama menyebabkan penguapan air mata menjadi lebih tinggi,” kata dokter Anna saat dihubungi Suara.com, Kamis (9/1/2026).

Kondisi semakin buruk ketika aktivitas menatap layar dilakukan pada malam hari dengan pencahayaan redup. Kontras yang tajam antara cahaya layar dengan lingkungan sekitar memaksa mata bekerja lebih keras. Paparan AC dalam ruangan juga ikut mempercepat penguapan air mata.

"Semua faktor ini otomatis menyebabkan risiko mata kering lebih tinggi," tambahnya.

Menurut dokter Anna, gejala mata kering memiliki spektrum yang cukup luas. Pada tahap ringan, keluhannya bisa berupa mata terasa kering, berair, atau mengganjal. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka pada kornea yang mengganggu aktivitas harian.

"Kalau luka kornea sudah besar bisa menyebabkan penglihatan buram, infeksi mata sampai kebutaan," ujarnya.

Bagaimana Cara Mencegah Mata Kering?

Mata kering sebenarnya dapat dicegah dengan perubahan kecil dalam gaya hidup. Salah satu langkah sederhana adalah menjaga kelembapan udara di sekitar meja kerja dengan menggunakan humidifier. Penggunaan humidifier dapat membantu menstabilkan kelembapan ruangan, sebab udara yang terlalu kering atau lembap sama-sama bisa memicu iritasi dan membuat permukaan mata lebih cepat kehilangan cairan.

Selain memperhatikan lingkungan, dokter Anna juga menekankan pentingnya memberi jeda pada mata. Ia merekomendasikan teknik 20-20-20, yaitu mengistirahatkan mata setiap 20 menit dengan cara melihat objek berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Teknik sederhana ini membantu mengendurkan otot mata yang terus bekerja dan mengembalikan pola kedipan ke ritme normal.

Jika gejala SePeLe mulai muncul, dokter Anna menyarankan penggunaan obat tetes mata atau artificial tears yang dapat dibeli bebas di apotek. Obat tetes ini aman digunakan 4–6 kali sehari secara rutin untuk melembapkan permukaan mata. Jika dalam waktu tiga hari tidak ada perbaikan keluhan, dokter Anna menyarankan segera memeriksakan diri ke dokter.

Dokter Anna mengingatkan agar tidak keliru membeli obat tetes mata. Ia manyak menangani pasien dengan infeksi mata karena salah memilih atau salah menggunakan obat tetes mata.

“Beli yang tidak berwarna. Obat tetes berwarna, misalnya merah, biasanya mengandung antibiotik atau antiradang dan harus dengan resep dokter, tidak boleh digunakan sembarangan,” ujar dokter Anna.

Pemeriksaan mata menggunakan keratograph untuk mengevaluasi tingkat keparahan mata kering (Dok. JEC Eye Hostpitals and Clinics)
Pemeriksaan mata menggunakan keratograph untuk mengevaluasi tingkat keparahan mata kering (Dok. JEC Eye Hostpitals and Clinics)

Obat Tetes Mata Jadi Pertolongan Pertama

Penggunaan obat tetes mata dapat menjadi solusi cepat bagi mereka yang sudah mulai merasakan gejala mata SePeLe. Namun, tidak banyak orang yang menyadari fungsi utama obat tetes mata untuk meredakan gejala mata kering.

Merujuk hasil survey mata kering yang dilakukan INSTO, sebanyak 41 persen orang berusia 15 tahun ke atas di Jabodetabek dan Bandung mengalami mata kering, 20 persen di antaranya tidak sadar mengalami mata kering. Bahkan, mereka yang sadar mengalami mata kering pun tidak mengetahui penggunaan obat tetes mata dapat membantu meredakan gejala mata SePeLe.

GM Eye Care Combiphar Farah Feddia mengatakan, temuan tersebut mendorong INSTO, merek obat tetes mata dari Combiphar, meluncurkan kampanye Bebas Mata SePeLe untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gejala mata kering sebelum kondisinya semakin parah.

"Melalui kampanye ini INSTO hadir untuk meningkatkan kesadaran masyarakat," kata Farah Feddia dalam siaran pers.

INSTO menghadirkan varian INSTO Dry Eyes dengan kandungan Hydroxypropyl Methylcellulose, bahan aktif yang berfungsi sebagai pelumas dan membantu mempertahankan kelembapan permukaan mata.

Menurut dokumen pedoman yang diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HPMC termasuk zat yang direkomendasikan sebagai guideline terapi untuk mengatasi gejala mata kering pada anak, karena strukturnya menyerupai air mata alami dan dapat mengurangi iritasi akibat produksi air mata yang menurun.

Obat tetes mata INSTO Dry Eyes inilah yang kini selalu menemani aktivitas kerja remote yang dulakukan Amelia. Ukurannya 7,5 ml membuatnya mudah masuk dalam saku sehingga bisa dibawa kemana saja.

Ia rutin meneteskan obat tetes mata ini setiap hari untuk mengurangi keluhan mata kering yang kerap ia rasakan.Selain menggunakan obat tetes mata, Amelia juga rajin mengompres matanya menggunakan air hangat untuk merelaksasi mata.

“Sekarang jauh lebih baik. Gejala sudah berkurang, kerja bisa lebih fokus lagi,” kata Amelia.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI