Fakta Penting Stunting dan Upaya Nyata Mengatasinya

Vania Rossa Suara.Com
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:42 WIB
Fakta Penting Stunting dan Upaya Nyata Mengatasinya
Ilustrasi Fakta Penting Tentang Stunting. (dok. WVI)
Baca 10 detik
  • Prevalensi stunting nasional mencapai 19,8% berdasarkan SSGI 2024, berdampak pada kognitif dan produktivitas ekonomi mendatang.
  • Risiko stunting dimulai pada 1.000 HPK, diperkuat Program PASTI melalui dukungan nutrisi bagi ibu dan anak usia bawah dua tahun.
  • Penanganan stunting melibatkan edukasi gizi, perbaikan sanitasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk perubahan perilaku yang konsisten.

Suara.com - Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen atau setara satu dari lima bayi.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, hingga produktivitas ekonomi di masa depan.

Berikut lima fakta utama terkait stunting serta langkah konkret yang dilakukan untuk mengatasinya:

1. Risiko Stunting Dimulai Sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Periode sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fase krusial dalam menentukan tumbuh kembang anak. Kekurangan gizi kronis pada fase ini dapat menyebabkan gagal tumbuh dan hambatan perkembangan otak.

Menjawab tantangan tersebut, Program PASTI, kemitraan antara BKKBN, Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk, diimplementasikan oleh WVI di Kalimantan Barat dan Jawa Timur, menyalurkan dukungan nutrisi bagi ibu dan baduta, menjangkau lebih dari 1.276 anak usia bawah dua tahun serta ribuan keluarga berisiko.

2. Ketidakseimbangan Gizi Masih Meluas

Asupan gizi yang tidak memadai, terutama protein, vitamin, dan mineral, masih menjadi faktor dominan penyebab stunting. Minimnya pemahaman keluarga mengenai pola makan seimbang turut memperburuk situasi. Melalui 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) yang aktif, Program PASTI memperkuat edukasi gizi dan akses pangan bergizi di tingkat desa.

3. Sanitasi Buruk Tingkatkan Risiko Infeksi

Baca Juga: Rahasia ASI Berkualitas untuk Lawan Stunting: Fokus Ternyata Ada di Sini, Jauh Sebelum Hamil!

Kondisi lingkungan yang tidak higienis meningkatkan risiko diare dan infeksi berulang pada anak, yang berdampak pada terganggunya penyerapan gizi. Karena itu, akses air bersih dan jamban sehat menjadi intervensi penting. Program PASTI turut mendukung pembangunan jamban sehat sekaligus mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di desa-desa dampingan.

4. Edukasi Gizi Masih Terbatas

Rendahnya pemahaman tentang pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi masih ditemukan di banyak wilayah. Selain orang tua, kelompok remaja dinilai memiliki peran strategis dalam perubahan perilaku. Melalui Program PASTI, sebanyak 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) telah mendapatkan pelatihan, serta 178 remaja dilibatkan sebagai agen Kampanye Perubahan Perilaku (KPP) yang menjangkau 2.178 remaja usia 15–19 tahun.

5. Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Penanganan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor. Hingga Desember 2025, Program PASTI telah menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), serta mendorong pembentukan 26 Desa Model. 

Program Director Wahana Visi Indonesia, Eben Ezer Sembiring, menegaskan bahwa upaya penurunan stunting memerlukan perubahan perilaku yang konsisten dan sistem yang kuat.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI