Dubes WHO Yohei Sasakawa Sorot Fakta Pahit Kusta: Diskriminasi Lebih Menyakitkan dari Penyakitnya

Bangun Santoso

Kamis, 15 Januari 2026 | 17:34 WIB
Dubes WHO Yohei Sasakawa Sorot Fakta Pahit Kusta: Diskriminasi Lebih Menyakitkan dari Penyakitnya
Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa (tengah). (Ist)
baca 10 detik
  • Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus kusta terbanyak; diskriminasi penderita dianggap masalah serius.
  • Yohei Sasakawa menekankan bahwa mengatasi stigma dan misinformasi sama pentingnya dengan pengobatan medis.
  • Menkes Budi menegaskan kusta tidak menular setelah pengobatan antibiotik kurang dari seminggu; perlu kolaborasi.

Suara.com - Di tengah kemajuan zaman, diskriminasi terhadap penderita kusta ternyata masih menjadi borok yang lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri. Ironisnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan penderita kusta terbanyak di dunia.

Kenyataan ini diungkapkan oleh Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa.

Pria berusia 87 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk isu ini, berkomitmen penuh melalui Sasakawa Health Foundation (SHF) untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga memerangi stigma yang melumpuhkan para penderitanya.

Menurut Sasakawa, perang melawan kusta tidak akan pernah berhasil jika hanya mengandalkan pendekatan medis.

Pertarungan sesungguhnya adalah melawan misinformasi dan anggapan kuno bahwa kusta adalah penyakit kutukan yang harus dijauhi.

Ia menekankan bahwa simpati dan penerimaan sosial adalah obat yang sama pentingnya dengan antibiotik.

"Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi dan memberi mereka simpati. Saya juga berharap kita bersama-sama dalam melakukan pendekatan demi menghilangkan kusta dengan baik," kata Yohei Sasakawa dalam acara Media Briefing di Wisma Habibie-Ainun, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Perhatian mendalam Sasakawa terhadap Indonesia sangat beralasan. Tingginya angka penderita diperparah oleh minimnya edukasi di tengah masyarakat.

Banyak yang tidak tahu bahwa kusta bisa disembuhkan total dan bukan penyakit yang mudah menular. Akibatnya, penderita tidak hanya menanggung sakit fisik, tetapi juga beban psikologis akibat dikucilkan.

baca juga

"Sebagaimana kita tahu kusta memiliki tanda-tanda medis dan juga mendapat masalah stigma karena banyak diskomunikasi yang harus diatasi," ujar Sasakawa.

Seruan ini disambut baik oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Menkes Budi secara lugas menyebut bahwa tindakan mengisolasi atau bahkan membuang anggota keluarga yang terkena kusta adalah buah dari disinformasi yang tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali. Ia pun membeberkan fakta medis yang seharusnya diketahui seluruh masyarakat.

"Jadi kalau teman teman itu mengisolasikan membuang saudaranya kalau kena lepra itu disinformasi itu. Gak ada scientifi evidencenya. Dan scinetfic evidencenya begitu kita kena bakteri lepra, kita meminum itu antibiotik kurang dari seminggu dia berhenti menular," jelas Menkes Budi.

Gerakan bersama untuk memerangi kusta dan stigmanya juga mendapat dukungan dari kalangan masyarakat sipil.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Sasakawa Foundation dan Kemenkes RI.

Menurutnya, isu ini bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga cerminan kualitas demokrasi dan hak asasi manusia.

"Habibi Center itu semuanya mengenai demokrasi. Jadi demokrasi itu tentu ada banyak faktornya. Pertama tentunya sistem politik, tapi selain dari itu juga bagaimana dengan kualitas hidup kita di Indonesia. Kualitas hidup, ada kebebasan, ada kesejahteraan, ada kesehatan, ada keadilan. Banyak sekali aspek-aspek yang menjadi perhatian daripada semua orang yang ada perhatian terhadap demokrasi. Dan tentu, seperti yang saya sebutkan, kesehatan merupakan salah satunya," ujar putra Presiden ke-3 RI tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Penyakit Keturunan atau Kutukan, Ini Fakta Tentang Kusta

Bukan Penyakit Keturunan atau Kutukan, Ini Fakta Tentang Kusta

Health | Selasa, 04 Maret 2025 | 17:53 WIB

Bangkit dari Stigma Diri

Bangkit dari Stigma Diri

Your Say | Senin, 23 Desember 2024 | 16:54 WIB

Kisah OYPMK: Dijauhi, Diasingkan, Dikucilkan, dan Bangkit Kembali

Kisah OYPMK: Dijauhi, Diasingkan, Dikucilkan, dan Bangkit Kembali

Your Say | Senin, 23 Desember 2024 | 16:39 WIB

Empat Bersaudara Melawan Stigma Kusta

Empat Bersaudara Melawan Stigma Kusta

Your Say | Senin, 23 Desember 2024 | 16:32 WIB

Fichrin dan Keinginan Sembuh dari Kusta

Fichrin dan Keinginan Sembuh dari Kusta

Your Say | Jum'at, 20 Desember 2024 | 15:00 WIB

Suardi: Melawan Stigma Kusta dengan Berdagang

Suardi: Melawan Stigma Kusta dengan Berdagang

Your Say | Jum'at, 20 Desember 2024 | 14:10 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×