Baca 10 detik
- Azis Subekti menyoroti konflik agraria berakar dari benturan peta negara dengan kehadiran masyarakat yang telah lama mendiami kawasan hutan.
- Penyelesaian konflik kompleks memerlukan kebijakan luas negara, seperti kemitraan, bukan sekadar solusi teknis administrasi sederhana.
- Keberhasilan reforma agraria diukur dari rasa aman dan akses ekonomi petani, bukan hanya dari penerbitan sertifikat tanah.
"Bukan dengan merobohkan seluruh bangunan, melainkan dengan memahami struktur lama, memperbaiki yang rapuh, dan memastikan penghuninya tetap memiliki ruang untuk hidup dengan layak. Negara yang matang tahu bahwa keadilan tidak selalu lahir dari ketegasan semata, tetapi dari keberanian untuk memahami," pungkasnya.