- Super Flu adalah mutasi Influenza A H3N2 subclade K, bukan virus baru, dengan penularan lebih cepat dan gejala demam ekstrem hingga 41 derajat Celsius.
- Penyebaran awal fenomena ini dipicu cuaca ekstrem awal tahun dengan kelembapan tinggi yang memudahkan virus bertahan lama di udara.
- Data Kemenkes menunjukkan 13 provinsi terjangkit, mayoritas kasus dialami perempuan dan anak-anak, namun tren kasus menunjukkan penurunan signifikan.
Suara.com - Istilah “Super Flu” belakangan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia menyusul laporan gejala infeksi yang dinilai jauh lebih agresif dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Meski terdengar mengkhawatirkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh virus baru, melainkan mutasi dari varian yang sudah ada, yakni Influenza A H3N2 subclade K.
Untuk memahami lebih dalam mengenai karakteristik, penyebaran, hingga cara menyikapi fenomena ini agar tidak terjebak dalam kepanikan, berikut tujuh fakta penting mengenai Super Flu di Indonesia.
1. Bukan Virus Baru, Melainkan Varian “Subclade K”
Super Flu bukanlah virus baru. Secara medis, virus ini merupakan Influenza A subvarian H3N2 dengan subclade K. Virus tersebut merupakan mutasi dari flu musiman yang rutin beredar setiap tahun, namun memiliki karakteristik penularan yang lebih cepat.
Dikenal secara ilmiah sebagai Influenza A H3N2 subclade K, varian ini lebih populer disebut super flu di masyarakat karena sifatnya yang jauh lebih agresif dibandingkan influenza biasa.
Daya infeksi yang tinggi dipicu oleh mutasi genetik yang mempercepat penyebaran di tengah masyarakat. Dampak seriusnya telah dirasakan di Amerika Serikat, di mana lonjakan infeksi menyebabkan puluhan ribu pasien memenuhi rumah sakit dalam waktu singkat. Di Indonesia, masyarakat juga mulai merasakan dampaknya.
2. Penyebab Munculnya Super Flu di Awal 2026
Kondisi cuaca ekstrem di awal tahun sering kali menjadi pemicu penyebaran penyakit menular di Indonesia, termasuk super flu. Awal tahun merupakan puncak musim penghujan dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi.
Tingginya kelembapan memungkinkan partikel virus influenza melayang dan bertahan lebih lama di udara, sehingga memperbesar peluang transmisi antarmanusia.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya paparan sinar ultraviolet (UV) akibat cuaca mendung berkepanjangan. Padahal, sinar matahari berperan penting dalam membantu tubuh memproduksi vitamin D yang memperkuat sistem imun. Tanpa paparan tersebut, daya tahan tubuh masyarakat cenderung menurun saat virus berada dalam kondisi paling stabil.
Baca Juga: Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
3. Demam Sangat Tinggi Mencapai 41 Derajat Celsius
Salah satu indikator utama yang membedakan super flu dengan influenza musiman adalah lonjakan suhu tubuh yang ekstrem. Pada flu biasa, demam umumnya berada di kisaran 37 hingga 38,5 derajat Celsius.
Sementara itu, penderita Influenza A H3N2 subclade K kerap mengalami demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 39 hingga bahkan 41 derajat Celsius.
Demam tinggi ini biasanya disertai fase menggigil hebat, di mana tubuh bergetar tak terkendali sebagai respons sistem imun yang bekerja keras melawan infeksi virus yang agresif.
4. Nyeri Otot Luar Biasa
Selain demam tinggi, penderita super flu sering melaporkan nyeri otot dan sendi yang jauh lebih parah dibandingkan flu biasa. Rasa sakit ini kerap digambarkan sangat ekstrem, seolah merasuk hingga ke tulang dengan sensasi linu yang menyiksa.
Kondisi tersebut memicu fase lethargy atau lemas luar biasa, di mana tubuh seakan kehilangan tenaga. Akibatnya, penderita sering kesulitan melakukan aktivitas ringan, bahkan sekadar bangun dari tempat tidur terasa sangat berat.
5. Kelompok Paling Rentan: Anak-anak dan Perempuan
Data karakteristik dari Kemenkes menunjukkan kerentanan masyarakat Indonesia terhadap super flu. Sebanyak 64 persen kasus terkonfirmasi dialami oleh perempuan, menjadikan kelompok ini sebagai mayoritas penderita.