- Pada Jumat, Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat terendam banjir hingga satu meter.
- Petugas Gulkarmat Jakarta Barat mengevakuasi kelompok rentan seperti Nisa menggunakan perahu karet.
- Warga seperti Nisa terpaksa mengungsi menghindari bahaya akibat tingginya air banjir dan krisis fasilitas.
Suara.com - Di tengah kepungan air cokelat pekat yang merendam Jalan Pulo Indah Raya, Kelurahan Duri Kosambi, sebuah payung merah muda tampak mencolok. Di bawahnya, Nisa (30) duduk tegang di atas perahu karet, mendekap erat buah hatinya yang masih balita.
Jumat ini, kawasan di Cengkareng, Jakarta Barat tersebut berubah menjadi sungai dadakan dengan kedalaman mencapai satu meter.
Nisa adalah satu dari sekian banyak kelompok rentan—lansia, ibu hamil, dan anak-anak—yang harus dievakuasi petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat.
Pemandangan di lokasi terasa mencekam. Wajah Nisa tampak cemas. Pandangannya tak lepas, bergantian menatap wajah sang bayi dan titik daratan kering di kejauhan. Tangan kanannya mencengkeram kuat sisi perahu karet yang bergoyang pelan diterjang arus.
Di sekelilingnya, tiga petugas pemadam kebakaran dari Pos Taman Palem berjibaku. Mereka mengerahkan seluruh tenaga, mendorong dan menarik perahu melawan arus air yang sudah setinggi pinggang orang dewasa.
Nisa mengaku tak punya pilihan selain meninggalkan rumahnya demi keselamatan sang anak.
"Tadinya mau di rumah saja dulu. Tapi airnya naik terus dari pagi. Takutnya nanti malah makin dalam dan susah keluar, kasihan anak," ujar Nisa.
Rencananya, ia akan mengungsi ke rumah sang kakak di kawasan Semanan yang lebih aman. Bayang-bayang pemadaman listrik dan krisis air bersih menjadi alasan kuat mengapa bertahan di rumah bukanlah pilihan bijak.
"Mau mengungsi ke Semanan, enggak banjir. Kalau sayanya sih aman, tapi anak sayanya kasihan," kata dia.
Baca Juga: Bukan Hujan Biasa: Menakar Kesiapsiagaan Menghadapi Risiko Hidrometeorologi
Sebelum bantuan datang, Nisa sempat berpikir nekat menerobos banjir dengan berjalan kaki bersama suaminya. Namun, melihat tingginya air, nyalinya menciut demi keamanan sang buah hati.
"Ngeri kalau jalan kaki. Airnya sudah sepinggang, menunggu saja, ternyata benar ada Damkar bawa perahu," ungkapnya lega.
Sambil memanggul ransel berisi pakaian ganti dan perlengkapan bayi seadanya, Nisa hanya bisa berharap nestapa tahunan ini segera berakhir. Ia tak ingin melihat anak-anak kecil terus menjadi korban setiap kali hujan deras mengguyur ibu kota.
"Ya semoga cepat surut, enggak banjir-banjir lagi lah. Kasihan yang anak-anak kecil," tutur Nisa. (Antara)