Saut Situmorang: Demokrasi Mahal Jadi Akar Korupsi, OTT KPK Hanya Puncak Gunung Es

Bangun Santoso | Suara.com

Senin, 26 Januari 2026 | 14:33 WIB
Saut Situmorang: Demokrasi Mahal Jadi Akar Korupsi, OTT KPK Hanya Puncak Gunung Es
Mantan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dan Mantan Ketua KPK Abraham Samad di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/8/2025). [Suara.com/Yasir]
  • Thony Saut Situmorang menilai OTT KPK menunjukkan korupsi sistemik di Indonesia yang semakin marak terjadi saat ini.
  • Akar persoalan korupsi utama disebabkan oleh tingginya biaya politik dalam pilkada akibat praktik *money politics*.
  • Lemahnya pengawasan internal, seperti inspektorat daerah, menyebabkan praktik korupsi terus berulang tanpa ada teguran.

Suara.com - Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Thony Saut Situmorang menilai operasi tangkap tangan (OTT) terbaru yang dilakukan KPK menjadi bukti bahwa praktik korupsi di Indonesia masih marak dan bahkan semakin meningkat.

Dalam podcast Speak Up, Saut menilai maraknya operasi tangkap tangan (OTT) KPK hanya mencerminkan sebagian kecil dari persoalan korupsi yang bersifat sistemik di Indonesia.

Ia menyebut kasus-kasus tersebut sebagai gambaran “gunung es” akibat tata kelola politik yang bermasalah, terutama tingginya biaya politik dalam pilkada.

Demokrasi Mahal dan Money Politics

Saut menegaskan akar persoalan korupsi ada pada sistem pemilu yang berbiaya tinggi. Ia menyebut biaya politik untuk menjadi kepala daerah bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah, terutama karena praktik money politics.

Menurut Saut, demokrasi sejatinya tidak mahal, namun menjadi berbiaya tinggi karena praktik money politics, konflik kepentingan, serta proses politik yang tidak transparan, tidak akuntabel, dan tidak fair.

Kondisi itu melahirkan pilkada yang mahal dan berdampak hingga praktik pemerasan berjenjang dari kepala daerah sampai ke level desa.

“Untuk menjadi kepala daerah itu kan bisa menjadi dari puluhan sampai ratusan M. Jadi high cost, biaya politik mahal. Dan itu kecenderungannya karena memang sebenarnya murah, cuma karena ada money politic jadi high cost, jadi mahal,” ujar Saut, dikutip Senin, (26/1/2026).

Pengawasan Lemah

Saut juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan internal seperti inspektorat daerah. Menurutnya, banyak inspektorat tidak berani menegur kepala daerah, sehingga praktik korupsi terus berulang. Ia mencontohkan bagaimana kepala desa ikut diperas oleh kepala daerah.

“Sekdes gajinya berapa, Bro? Terus antum minta dia 150 juta, dari mana dia ngambil? Akhirnya dia nyuri juga. Itu by definition begitu,” tegasnya.

Ia menambahkan, struktur pengawasan yang ada saat ini tidak cukup kuat untuk menahan praktik korupsi. Karena itu, Saut mengusulkan agar inspektorat di tingkat daerah langsung berada di bawah Kementerian Dalam Negeri atau provinsi, sehingga memiliki kewenangan lebih besar untuk menegur kepala daerah.

Ia menegaskan fenomena operasi tangkap tangan (OTT) bukan sekadar peringatan bagi KPK atau aparat penegak hukum, melainkan menjadi peringatan bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar merancang Pemilu 2029 yang lebih bersih, transparan, dan adil.

"KPU, Anda harus mendesain Pemilu 2029 betul-betul jauh dari hal-hal yang tadi kita sebut tidak transparan, tidak akuntabel, syarat konflik kepentingan, kemudian tidak fair,” ujar Saut. (Dinda Pramesti K)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bikin Heboh di Sidang Tipikor, Eks Wamenaker Noel Minta Hukuman Mati

Bikin Heboh di Sidang Tipikor, Eks Wamenaker Noel Minta Hukuman Mati

News | Senin, 26 Januari 2026 | 13:56 WIB

Eks Direktur SMA Akui Dapat Uang Terima Kasih 7 Ribu Dollar AS dari Penyedia Chromebook

Eks Direktur SMA Akui Dapat Uang Terima Kasih 7 Ribu Dollar AS dari Penyedia Chromebook

News | Senin, 26 Januari 2026 | 13:12 WIB

Bantah Kena OTT KPK, Eks Wamenaker Noel: Operasi Tipu-tipu

Bantah Kena OTT KPK, Eks Wamenaker Noel: Operasi Tipu-tipu

News | Senin, 26 Januari 2026 | 12:34 WIB

LMKN Dilaporkan ke KPK, Piyu Padi: Bukti Keresahan Musisi Sudah Memuncak

LMKN Dilaporkan ke KPK, Piyu Padi: Bukti Keresahan Musisi Sudah Memuncak

Entertainment | Senin, 26 Januari 2026 | 12:24 WIB

Tim Hukum Nadiem Laporkan Saksi ke KPK, Curiga Ada Tekanan di Balik Persidangan

Tim Hukum Nadiem Laporkan Saksi ke KPK, Curiga Ada Tekanan di Balik Persidangan

News | Senin, 26 Januari 2026 | 12:06 WIB

Pemilik Maktour Datangi KPK dan Buka Fakta Soal Kasus Kuota Haji

Pemilik Maktour Datangi KPK dan Buka Fakta Soal Kasus Kuota Haji

News | Senin, 26 Januari 2026 | 11:47 WIB

KPK Panggil Bos Maktour dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

KPK Panggil Bos Maktour dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

News | Senin, 26 Januari 2026 | 10:58 WIB

Pengamat Nilai Pengacara Nadiem Tak Siap Hadapi Jaksa, Apa Alasannya?

Pengamat Nilai Pengacara Nadiem Tak Siap Hadapi Jaksa, Apa Alasannya?

News | Minggu, 25 Januari 2026 | 18:58 WIB

Terkini

Pasokan Terancam di Selat Hormuz, Tren Kenaikan Harga Minyak Belum Reda

Pasokan Terancam di Selat Hormuz, Tren Kenaikan Harga Minyak Belum Reda

News | Senin, 27 April 2026 | 13:56 WIB

Bos Perusahaan Rokok PT Gading Gadja Mada Dipanggil KPK untuk Kasus Bea Cukai

Bos Perusahaan Rokok PT Gading Gadja Mada Dipanggil KPK untuk Kasus Bea Cukai

News | Senin, 27 April 2026 | 13:54 WIB

Isu Reshuffle Sore Ini, Bahlil: Ya Nanti Kita Lihat

Isu Reshuffle Sore Ini, Bahlil: Ya Nanti Kita Lihat

News | Senin, 27 April 2026 | 13:48 WIB

Soal Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu, Hensa: Harus Tegas dan Bisa Ditegakkan

Soal Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu, Hensa: Harus Tegas dan Bisa Ditegakkan

News | Senin, 27 April 2026 | 13:44 WIB

Fakta Miris Daycare di Indonesia: 44 Persen Ilegal dan Mayoritas Pengasuh Tak Tersertifikasi

Fakta Miris Daycare di Indonesia: 44 Persen Ilegal dan Mayoritas Pengasuh Tak Tersertifikasi

News | Senin, 27 April 2026 | 13:41 WIB

Lagi, KPK Periksa Dua Bos Travel Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji

Lagi, KPK Periksa Dua Bos Travel Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji

News | Senin, 27 April 2026 | 13:40 WIB

Pemerintah Klaim Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu UMKM

Pemerintah Klaim Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu UMKM

News | Senin, 27 April 2026 | 13:37 WIB

Buntut Kekerasan di Yogyakarta, DPR Desak Evaluasi Total Daycare: Harus Ada Screening Digital

Buntut Kekerasan di Yogyakarta, DPR Desak Evaluasi Total Daycare: Harus Ada Screening Digital

News | Senin, 27 April 2026 | 13:29 WIB

Kementerian HAM Kecam Keras Kasus Daycare Yogya: Masuk Kategori Pelanggaran Berat

Kementerian HAM Kecam Keras Kasus Daycare Yogya: Masuk Kategori Pelanggaran Berat

News | Senin, 27 April 2026 | 13:27 WIB

Isu Reshuffle Menguat, Qodari: Sepenuhnya Hak Presiden Prabowo

Isu Reshuffle Menguat, Qodari: Sepenuhnya Hak Presiden Prabowo

News | Senin, 27 April 2026 | 13:26 WIB