Menag Nasaruddin Umar: NU Pesantren Besar, Kuat karena Akhlak dan Moderasi

Vania Rossa | Adiyoga Priyambodo | Suara.com

Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:14 WIB
Menag Nasaruddin Umar: NU Pesantren Besar, Kuat karena Akhlak dan Moderasi
Menag Nasaruddin Umar di Harlah NU. (Dok. NU)
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri Harlah 1 Abad NU di Jakarta pada Sabtu, 31 Januari 2026.
  • Nasaruddin menyebut NU sebagai representasi pondok pesantren besar yang penuh dinamika akademik kuat.
  • Ia menekankan pentingnya kerja tim solid dan konsistensi NU dalam mengusung moderasi beragama ke depan.

Suara.com - Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menghadiri puncak perayaan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menyampaikan khutbah tentang kematangan organisasi setelah menempuh perjalanan satu milenium.

Nasaruddin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama pada hakikatnya merupakan representasi dari sebuah pondok pesantren dalam skala yang lebih masif.

"100 tahun perjalanan PBNU bukan waktu yang pendek. Tapi di sinilah PBNU menunjukkan kematangannya sebagai sebuah organisasi. Pesantren, saya sering mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama itu sesungguhnya adalah pesantren besar," tuturnya.

Maka sangat lumrah, lanjut Nasarudin, kalau pesantren sebesar NU diwarnai berbagai bentuk dinamika dalam perjalanan mereka.

"Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika. Ada pembahasan-pembahasan tentang madzhab, dan kadang-kadang sangat panas diskusinya. Ini satu bukti bahwa dinamika akademik dan keilmuan di lingkungan pondok pesantren yang tadi saya katakan, bahwa NU ini adalah pesantren besar, itu sangat kuat. Tetapi pada saat yang bersamaan juga, pondok pesantren ini tidak bisa dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama. Karena pondok pesantren itu adalah NU besar," kata dia.

Ia juga menggarisbawahi kekuatan akhlak santri, yang senantiasa menjunjung tinggi kehormatan kiai meskipun terdapat silang pendapat di dalamnya.

"Bagaimana kita lihat tradisi pondok. Santri begitu respek dan begitu hormatnya terhadap kiai-nya. Seorang junior begitu respek dan begitu hormatnya pada kiai-nya. Sungguh pun antara santri dan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai," tutur Nasaruddin.

Tokoh asal Sulawesi Selatan ini menyebut NU sebagai keluarga besar yang mampu merangkul siapa saja hingga menjadi bagian integral di lingkungan organisasi tersebut.

"NU itu seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah. Di dalam NU, tidak ada orang lain. Bahkan orang lain pun menjadi orang dalam dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Karena itu , Insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini," tegas Nasaruddin.

Ia tak lupa mengingatkan warga nahdliyin mengenai tantangan zaman yang bergerak jauh lebih cepat daripada kesiapan manusia untuk menyambut masa depan.

"Ada theological shock, ada cultural shock, ada political shock, ada economical shock, bahkan ada scientific shock," kata Nasaruddin.

Untuk menghadapi berbagai guncangan, ia mengajak organisasi agar mulai mengedepankan kerja tim yang solid, alih-alih hanya bergantung pada kepemimpinan personal.

"Sudah waktunya kita lebih menekankan fitur-fitur manajerial yang senantiasa akan mengedepankan superteam, atau the power of we. Mungkin di masa lampau, kita sudah sangat bersyukur hadir figur-figur leader kita yang sangat kita kenal memiliki kapasitas mirip-mirip dengan Superman, memiliki super power yang sangat tinggi. Tapi ke depan seiring dengan situasi yang berubah dan berbeda, yang kita perlukan adalah kombinasi antara fitur manajer dan fitur leaders," papar Nasaruddin.

Menjelang akhir khutbahnya, ia menekankan pentingnya konsistensi NU dalam mengusung moderasi beragama demi menjaga keutuhan umat.

"Tentu kita juga berharap Nahdlatul Ulama di masa depan tetap konsisten untuk mengusung moderasi umat. Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama. Biarkan yang sama itu sama, dan biarkan yang berbeda itu berbeda," ucap Nasaruddin.

Ia menutup pesan dengan menegaskan bahwa NU harus tetap menjadi penengah yang tidak terjebak dalam arus liberal maupun radikal agar dapat hidup berdampingan dalam bingkai NKRI.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Batal Hadiri Puncak Harlah 1 Abad NU di Istora, Rais Aam Juga Tak Hadir

Prabowo Batal Hadiri Puncak Harlah 1 Abad NU di Istora, Rais Aam Juga Tak Hadir

News | Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:09 WIB

Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya: Semua Kembali Guyub

Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya: Semua Kembali Guyub

News | Jum'at, 30 Januari 2026 | 22:13 WIB

Dugaan Korupsi Haji, Gus Yaqut kembali diperiksa KPK

Dugaan Korupsi Haji, Gus Yaqut kembali diperiksa KPK

Foto | Jum'at, 30 Januari 2026 | 14:40 WIB

Terkini

WNI Tertangkap pada Kasus Jaringan Distributor Konten Asusila Anak di Kapal Pesiar Disney

WNI Tertangkap pada Kasus Jaringan Distributor Konten Asusila Anak di Kapal Pesiar Disney

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:54 WIB

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:53 WIB

Legislator PDIP Soroti Kelangkaan Solar Subsidi: Petani Bisa Gagal Panen

Legislator PDIP Soroti Kelangkaan Solar Subsidi: Petani Bisa Gagal Panen

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:49 WIB

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:42 WIB

Oditur Militer Puji Racikan Air Keras Penyerang Andrie Yunus 'Kreatif'

Oditur Militer Puji Racikan Air Keras Penyerang Andrie Yunus 'Kreatif'

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:35 WIB

'Ini Tidak Bisa Dilepas!', Nadiem Makarim Muncul Pakai Gelang Detektor di Sidang Korupsi Chromebook

'Ini Tidak Bisa Dilepas!', Nadiem Makarim Muncul Pakai Gelang Detektor di Sidang Korupsi Chromebook

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:32 WIB

KPK Duga Dua Ajudan Bantu Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terima Gratifikasi

KPK Duga Dua Ajudan Bantu Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terima Gratifikasi

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:28 WIB

Momen Prabowo Tatap dan Tunjuk Menkeu Purbaya di Depan Gunungan Uang Rp10 Triliun

Momen Prabowo Tatap dan Tunjuk Menkeu Purbaya di Depan Gunungan Uang Rp10 Triliun

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:22 WIB

Viral Isu Prostitusi Anak di Blok M Libatkan WNA Jepang, Polda Metro Jaya Turun Tangan

Viral Isu Prostitusi Anak di Blok M Libatkan WNA Jepang, Polda Metro Jaya Turun Tangan

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:14 WIB

Jokowi Disebut Sudah Pulih 99 Persen, Siap Keliling Indonesia Juni 2026 Sapa Rakyat

Jokowi Disebut Sudah Pulih 99 Persen, Siap Keliling Indonesia Juni 2026 Sapa Rakyat

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:01 WIB