- Serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 memicu konflik setelah negosiasi nuklir gagal total.
- Serangan awal tersebut mengakibatkan sedikitnya 70 pelajar tewas di Minab, Iran, memicu pembalasan besar dari Teheran.
- Iran meluncurkan serangan balasan besar ke berbagai aset militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan negara Teluk lainnya.
Aset militer AS di Yordania, tepatnya Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti, serta pangkalan di wilayah Kurdistan, Irak, juga tidak luput dari serangan balasan Iran.
Katanya Aliansi, Rusia dan China di Mana dan Sedang Apa?
Melihat eskalasi yang begitu cepat, dua kekuatan besar dunia, Rusia dan China, langsung bereaksi.
Menurut Al Jazeera, Rusia melalui Wakil Ketua Dewan Keamanan, Dmitry Medvedev, menuding AS telah menggunakan perundingan nuklir hanya sebagai kedok atau "cover-up" untuk mempersiapkan operasi militer ini.
Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak penilaian objektif atas tindakan AS yang dianggap tidak bertanggung jawab dan membahayakan stabilitas kawasan.
Sementara itu, China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan aksi militer dan kembali ke meja perundingan.
Beijing menekankan bahwa kedaulatan dan integritas wilayah Iran harus dihormati. Selain faktor keamanan, China berkepentingan besar karena mereka adalah pembeli utama minyak Iran, di mana gangguan di Selat Hormuz akibat perang ini bisa mengancam pasokan energi mereka secara global.