- Ketegangan Timur Tengah meningkat setelah serangan balasan Iran menyasar aset maritim vital di Selat Hormuz.
- Stok rudal pencegat Amerika Serikat menipis drastis akibat fokus militer terbagi di berbagai konflik global.
- IRGC Iran mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker di Teluk Persia setelah kerusakan radar mahal AS di Bahrain.
Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan bagi stabilitas global. Setelah gelombang serangan balasan Iran menghantam berbagai pangkalan militer, kini perhatian tertuju pada Selat Hormuz.
Jalur perdagangan energi paling vital di dunia ini menjadi saksi bisu kemarahan Teheran yang mulai menyasar aset maritim.
Situasi ini diperparah dengan laporan yang menyebutkan bahwa stok rudal pencegat milik Amerika Serikat (AS) mulai menipis drastis.
Krisis amunisi ini menjadi ganjalan besar bagi Washington. Berdasarkan analisis intelijen dan laporan pasar, persediaan rudal pencegat AS diprediksi bisa habis hanya dalam hitungan hari jika Iran terus melancarkan serangan udara secara intens.
Masalah utamanya adalah kebijakan luar negeri AS yang dinilai terlalu memaksakan diri di banyak titik konflik secara bersamaan.
Saat ini, militer AS terbagi fokusnya mulai dari urusan di Amerika Latin, perang proksi di Ukraina, ketegangan di Yaman, hingga persiapan konfrontasi dengan China di Asia-Pasifik.
Akibatnya, mereka tidak memiliki cukup stok amunisi untuk meladeni perang berkepanjangan dengan Iran.
"Sulit untuk mengatakan berapa lama persediaan AS dan Israel akan bertahan pada tingkat penggunaan saat ini (2-3 pencegat per rudal), namun persediaan tersebut sudah 'habis secara signifikan' bahkan sebelum putaran agresi terakhir dimulai," kata Brian Berletic, dikutip dari Sputnik Globe.
Beban biaya pertahanan ini pun sangat fantastis. Salah satu kerugian terbesar AS dalam serangan baru-baru ini adalah rusaknya kubah radar canggih di markas Armada ke-5 di Bahrain.
Baca Juga: Israel Tingkatkan Serangan ke Lebanon Buntut Roket dan Drone Hizbullah
Aset ini merupakan komponen terpenting dan termahal dalam sistem pertahanan rudal AS yang ditaksir memiliki nilai lebih dari Rp 16,76 triliun.
Kehilangan radar senilai belasan triliun rupiah ini bukan hanya soal uang, tapi juga melumpuhkan kemampuan deteksi jarak jauh yang selama ini melindungi kepentingan Israel di kawasan tersebut.
Kapal perang jauh dari kata aman

Di lautan, situasi tidak kalah mencekam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menyerang tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Kapal-kapal tersebut dilaporkan terbakar hebat setelah dihantam rudal. Iran menegaskan bahwa setelah agresi AS dan Israel, semua aset serta kepentingan mereka di Timur Tengah telah menjadi target sah tanpa ada lagi batasan "garis merah".
Para ahli militer, termasuk mantan Kapten Angkatan Laut Rusia Vasily Dandykin, menilai bahwa setelah sukses menghantam pangkalan darat, langkah logis Iran selanjutnya adalah membidik kapal perang AS secara langsung.