Militer AS Gunakan AI Claude Serang Iran, Padahal Trump Sudah Putus Hubungan dengan Pemiliknya

Vania Rossa

Senin, 02 Maret 2026 | 14:19 WIB
Militer AS Gunakan AI Claude Serang Iran, Padahal Trump Sudah Putus Hubungan dengan Pemiliknya
Ilustrasi AS Gunakan AI Claude Serang Iran (Gemini)
  • Militer AS tetap menggunakan AI Claude Anthropic pada operasi serangan Iran meskipun ada perintah pemutusan hubungan oleh Trump.
  • Konflik Trump dengan Anthropic dipicu penolakan Anthropic atas penggunaan AI untuk kekerasan dan pengawasan militer.
  • OpenAI mencapai kesepakatan baru dengan Pentagon, menerapkan batasan ketat pada pengawasan dan sistem senjata otonom.

Suara.com - Militer Amerika Serikat dilaporkan tetap menggunakan model kecerdasan buatan (AI) Claude milik Anthropic dalam serangan besar-besaran terhadap Iran. Penggunaan ini terjadi meski Presiden Donald Trump baru saja mengumumkan pemutusan hubungan total dengan perusahaan tersebut hanya beberapa jam sebelum operasi dimulai.

Laporan dari The Guardian, Wall Street Journal, dan Axios menyebutkan bahwa komando militer AS menggunakan Claude untuk keperluan intelijen, pemilihan target, hingga simulasi medan perang dalam operasi gabungan AS-Israel tersebut. Fakta ini menunjukkan betapa dalamnya teknologi AI telah terintegrasi dalam sistem operasional militer, sehingga sulit untuk dihentikan secara mendadak.

Perseteruan Trump dan Anthropic Memanas

Ketegangan antara pemerintah AS dan Anthropic memuncak pada Jumat, ketika Presiden Trump memerintahkan seluruh lembaga federal untuk segera berhenti menggunakan Claude.

Melalui platform Truth Social, Trump mengecam Anthropic sebagai perusahaan AI sayap kiri radikal.

"Perusahaan AI sayap kiri radikal yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak tahu apa itu dunia nyata," tulisnya melalui platform Truth Social, dikutip pada Senin (3/2/2026).

Konflik ini dipicu oleh keberatan Anthropic atas penggunaan Claude dalam penggerebekan untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari lalu. Anthropic menegaskan bahwa ketentuan layanan mereka melarang penggunaan AI untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan (surveillance).

Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut melontarkan kritik tajam. Ia menuduh Anthropic melakukan “arogansi dan pengkhianatan” serta menegaskan bahwa militer AS tidak akan disandera oleh kepentingan ideologis perusahaan teknologi.

"Para prajurit Amerika tidak akan pernah disandera oleh keinginan ideologis perusahaan teknologi besar,” tulisnya dalam unggahan di X pada Jumat (28/2/2026).

Meski demikian, Hegseth juga mengakui adanya kesulitan teknis untuk melepaskan sistem militer dari alat AI secara cepat. Ia menyebut Anthropic menyediakan layanan masa transisi selama enam bulan agar militer dapat beralih ke layanan yang ia sebut “lebih patriotik”.

Sejak saat itu, hubungan antara Trump, Pentagon, dan Anthropic terus memburuk.

OpenAI Masuk dengan Kesepakatan Baru bersama Pentagon

Di tengah keretakan hubungan dengan Anthropic, OpenAI — pengembang ChatGPT — resmi melangkah maju.

CEO OpenAI, Sam Altman, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Departemen Perang (Pentagon) untuk mengerahkan sistem AI tingkat lanjut di jaringan klasifikasi militer.

Dalam pernyataan resminya, OpenAI menekankan bahwa kerja sama ini memiliki “pagar pembatas” (guardrails) yang lebih ketat dibandingkan kesepakatan sebelumnya. OpenAI menetapkan tiga “garis merah” (red lines) yang tidak boleh dilanggar oleh Pentagon:

  • Tidak untuk pengawasan domestik massal.
  • Tidak untuk mengarahkan sistem senjata otonom.
  • Tidak untuk pengambilan keputusan otomatis berisiko tinggi, seperti sistem “social credit”.

Berbeda dengan pendekatan sejumlah laboratorium AI lain yang mungkin melonggarkan keamanan teknis demi kepentingan nasional, OpenAI menyatakan akan tetap mempertahankan kendali penuh atas tumpukan keamanan (safety stack) mereka.

Perbedaan Teknis dan Komitmen Keamanan

OpenAI menjelaskan bahwa model mereka hanya akan dikerahkan melalui sistem cloud, bukan di perangkat edge atau perangkat lapangan langsung. Langkah ini bertujuan untuk mencegah penggunaan AI dalam senjata mematikan yang beroperasi tanpa kendali manusia.

Kebijakan tersebut disebut selaras dengan Petunjuk DoD 3000.09 yang mensyaratkan verifikasi ketat terhadap sistem senjata otonom.

"Kami yakin militer AS membutuhkan model AI terkuat untuk menghadapi ancaman lawan, namun kami tidak bersedia menghapus pengamanan teknis utama," tulis OpenAI dalam pernyataan resminya, dikutip Senin (2/3/2026).

OpenAI juga meminta pemerintah tetap berupaya menyelesaikan perselisihan dengan Anthropic. Perusahaan itu menyatakan bahwa mereka telah memperjelas posisi dan Anthropic tidak seharusnya ditetapkan sebagai “supply chain risk”.

Kesepakatan ini juga mencakup penempatan insinyur serta peneliti keamanan OpenAI yang memiliki izin keamanan (cleared personnel) untuk mendampingi pemerintah secara langsung. Langkah tersebut diklaim untuk memastikan penggunaan teknologi AI tetap selaras dengan nilai-nilai demokrasi dan hukum yang berlaku di Amerika Serikat.

Integrasi AI dalam operasi militer AS kini memasuki babak baru. Di tengah konflik geopolitik dan ketegangan politik domestik, pertarungan bukan hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dalam perebutan kendali teknologi kecerdasan buatan.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Analis: Stok Pencegat Rudal AS Menipis, Kapal Perang dan Tanker di Selat Hormuz Jadi Incaran

Analis: Stok Pencegat Rudal AS Menipis, Kapal Perang dan Tanker di Selat Hormuz Jadi Incaran

News | Senin, 02 Maret 2026 | 14:11 WIB

Ketua MPR Harap Indonesia Tak Kena Dampak Perang ASIsrael dengan Iran

Ketua MPR Harap Indonesia Tak Kena Dampak Perang ASIsrael dengan Iran

News | Senin, 02 Maret 2026 | 14:11 WIB

Nasib Tim Melli Terancam Pasca Donald Trump Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Nasib Tim Melli Terancam Pasca Donald Trump Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Bola | Senin, 02 Maret 2026 | 14:05 WIB

Terkini

Hari Lahir Pancasila, Bobby Nasution Tegaskan Pancasila Jadi Jawaban Tantangan Global

Hari Lahir Pancasila, Bobby Nasution Tegaskan Pancasila Jadi Jawaban Tantangan Global

News | Senin, 01 Juni 2026 | 13:04 WIB

Prabowo dan Megawati Akrab di Gedung Pancasila: Saling Persilakan Jalan Berujung Gandengan dan Tawa

Prabowo dan Megawati Akrab di Gedung Pancasila: Saling Persilakan Jalan Berujung Gandengan dan Tawa

News | Senin, 01 Juni 2026 | 12:57 WIB

Blackout Sumatra Dinilai Ungkap Kelemahan Sistemik Kelistrikan, PLN Didesak Audit Menyeluruh

Blackout Sumatra Dinilai Ungkap Kelemahan Sistemik Kelistrikan, PLN Didesak Audit Menyeluruh

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:28 WIB

Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo Ajak Megawati Jalan Berdampingan

Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo Ajak Megawati Jalan Berdampingan

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:21 WIB

Penghormatan Terakhir Presiden Prabowo untuk Mantan Menhan Ryamizard

Penghormatan Terakhir Presiden Prabowo untuk Mantan Menhan Ryamizard

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:06 WIB

Invasi Jauh ke Lebanon Selatan, Israel Klaim Rebut Benteng Beaufort

Invasi Jauh ke Lebanon Selatan, Israel Klaim Rebut Benteng Beaufort

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:49 WIB

Yasinta Moiwend: Perempuan Adat Papua Konsisten Suarakan Lingkungan, Hingga Polemik Pesta Babi

Yasinta Moiwend: Perempuan Adat Papua Konsisten Suarakan Lingkungan, Hingga Polemik Pesta Babi

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:38 WIB

TPS Tambora Uji Coba Eco Lindi untuk Atasi Bau Sampah dan Gas Metana

TPS Tambora Uji Coba Eco Lindi untuk Atasi Bau Sampah dan Gas Metana

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:23 WIB

Ledakan Bubuk Mesiu Hancurkan Desa di Myanmar, 55 Orang Tewas

Ledakan Bubuk Mesiu Hancurkan Desa di Myanmar, 55 Orang Tewas

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:16 WIB

Disambut Menhan Sjafrie, Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Jenderal Ryamizard di Kemhan

Disambut Menhan Sjafrie, Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Jenderal Ryamizard di Kemhan

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:02 WIB