- Gubernur DKI Jakarta meresmikan revitalisasi JPO M.H. Thamrin-Sarinah pada Senin (2/3/2026) untuk tingkatkan aksesibilitas.
- JPO bersejarah ini kini didesain tanpa tangga, menyediakan lift dan pelican crossing untuk kemudahan mobilitas disabilitas.
- Pemprov DKI berencana melebarkan trotoar sekitar 2,6 meter dan mempertimbangkan integrasi langsung dengan Mal Sarinah.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, kembali memoles infrastruktur kota dengan meresmikan revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Halte TransJakarta M.H. Thamrin-Sarinah di Jakarta Pusat.
Pembaruan fasilitas umum yang diresmikan pada Senin (2/3/2026) ini difokuskan untuk mengejawantahkan aspek keselamatan sekaligus memperluas aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Bangunan penghubung ikonik sepanjang 39,78 meter tersebut kini sengaja didesain tanpa menggunakan anak tangga demi menjamin kemudahan mobilitas kelompok prioritas.
“JPO ini adalah yang pertama di Jakarta dan diresmikan pada 21 April 1968 oleh Bapak Ali Sadikin. Tentu ini memiliki nilai sejarah. Hari ini kita merevitalisasi agar JPO ini ramah disabilitas dan memberi pilihan bagi masyarakat, baik menggunakan lift maupun pelican crossing yang tetap dioperasikan,” ungkap Pramono.
Untuk menyokong kenyamanan para pejalan kaki, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga berencana melebarkan dimensi trotoar di kawasan pelintasan tersebut.
“Nantinya trotoar akan dilebarkan sekitar 2,6 meter, sehingga kawasan ini semakin ramah bagi pejalan kaki. Mengingat Mal Sarinah merupakan bangunan heritage, kami ingin memastikan akses masyarakat untuk berbelanja atau berkunjung menjadi semakin mudah,” lanjut Pramono.
Terkait wacana perluasan konektivitas, Pemprov DKI saat ini tengah mempertimbangkan opsi integrasi jembatan agar terhubung langsung dengan area sentra belanja Sarinah yang berstatus cagar budaya.
“Saya sudah berdiskusi dengan Asisten Pembangunan untuk menindaklanjuti kemungkinan agar JPO ini dapat terhubung langsung ke Sarinah. Jika terwujud, tentu akan memberi manfaat bagi semua pihak,” kata Pramono.
Sementara itu, Direktur Utama TransJakarta, Welfizon Yuza, memaparkan bahwa anggaran pemugaran fasilitas ini bersumber dari korporasi sebagai wujud kesatuan integrasi simpul transportasi publik.
“Ini tahap pertama. Tahap selanjutnya, setelah reinstatement trotoar oleh MRT Jakarta yang direncanakan sekitar Mei, akan dilakukan pelebaran trotoar kurang lebih 2,6 meter. Untuk lift, sebenarnya sudah masuk dalam paket revitalisasi halte sebelumnya dan kini dilanjutkan pada tahap pemasangan. Pembangunan sempat tertunda karena sejumlah agenda nasional,” jelasnya.