- Revolusi AI mengancam 65 juta pekerjaan perempuan, dua kali lipat lebih rentan karena dominasi sektor administratif berisiko tinggi.
- Bias algoritmik mereplikasi stereotip gender karena pelatihan data yang tidak seimbang, terlihat dalam penempatan profesi oleh AI.
- Representasi perempuan dalam STEM dan akses digital perlu ditingkatkan untuk mencegah ketertinggalan ekonomi digital global.
Suara.com - Revolusi kecerdasan buatan (AI) berpotensi mengubah pasar kerja secara signifikan, dan penelitian menunjukkan perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap otomatisasi.
Data The Gender Snapshot 2025 memperkirakan 65 juta pekerjaan perempuan berada pada risiko tinggi otomatisasi, dibandingkan 51 juta pekerjaan laki-laki.
“Perempuan hampir dua kali lebih mungkin bekerja di sektor yang berisiko otomatisasi tinggi,” kata peneliti dikutip dari 360info.org, Selasa (10/3).
Sektor administrasi dan perkantoran yang banyak dikuasai perempuan diprediksi akan menghadapi gangguan paling besar akibat AI, yang dapat mengubah jalur karier dan stabilitas ekonomi mereka.
Bias algoritmik juga menjadi perhatian. AI yang dikembangkan sebagian besar oleh laki-laki cenderung mereplikasi stereotip gender.

Laporan PBB 2024 menunjukkan ketika diminta menulis cerita tentang dokter dan perawat, AI otomatis menempatkan dokter sebagai laki-laki dan perawat sebagai perempuan.
“AI tidak netral. Jika sistem dilatih dengan data yang mengaitkan perempuan dengan pekerjaan tertentu, hasilnya akan memperkuat bias tersebut,” jelas pakar AI.
Contoh lain muncul dalam iklan pekerjaan di bidang science, teknologi, engineering dan matematik atau STEM, yang menurut studi 2018, lebih sering ditampilkan kepada laki-laki meski tujuannya untuk kesetaraan.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, representasi perempuan dalam penelitian dan pengembangan teknologi menjadi kunci.
Baca Juga: Bukan Nuklir, Senjata Paling Mematikan Perang AS-Iran Ini Bisa Bikin Dunia Hancur
World Economic Forum 2025 mencatat perempuan hanya 28 persen dari tenaga kerja STEM global dan 22 persen profesional AI.
Selain itu, kesenjangan digital memperparah situasi, terutama di negara berkembang.
Di India, hanya 20 persen perempuan yang memiliki akses internet, sehingga kesempatan berpartisipasi dalam ekonomi AI sangat terbatas.
“Tanpa akses teknologi yang adil dan pelatihan profesional, perempuan akan tertinggal dalam revolusi digital,” kata peneliti.
Upaya membangun tempat kerja inklusif harus mencakup pendidikan, akses, dan desain AI yang bebas bias, agar perempuan tidak tersingkir dari masa depan ekonomi digital.
“Memberdayakan perempuan melalui kepemimpinan, pendidikan, dan akses yang setara akan memperkuat ketahanan tenaga kerja di dunia yang semakin otomatis,” tutup laporan itu.