-
Iran bersiap meratakan kota Israel menggunakan rudal dengan hulu ledak minimal satu ton.
-
Garda Revolusi Iran menolak negosiasi dan menegaskan kendali penuh atas akhir masa peperangan.
-
Rudal hipersonik Iran terbukti mampu menembus sistem pertahanan Iron Dome dan THAAD milik AS.
Setelah berhasil menembus pertahanan, proyektil-proyektil tersebut menghujam titik-titik vital di daratan Israel dengan presisi tinggi.
Kini, fokus utama Teheran adalah mengerahkan seluruh kekuatan rudal berat untuk meratakan infrastruktur militer lawan.
Aksi serangan yang semakin gencar ini merupakan bentuk nyata dari janji setia Garda Revolusi Iran.
IRGC menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan celah sedikit pun untuk melakukan proses diplomasi atau negosiasi.
Sikap keras ini sekaligus menjadi respons langsung terhadap pernyataan politik yang dikeluarkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa konflik bersenjata di wilayah Iran sedang menuju babak penyelesaian akhir.
Ia juga menyatakan bahwa durasi peperangan sangat bergantung pada kesepakatan antara dirinya dan Benjamin Netanyahu.
Namun, pihak IRGC dengan cepat membantah narasi tersebut dengan menegaskan otoritas penuh mereka di lapangan.
Pihak Iran menyatakan secara terbuka bahwa keputusan untuk menghentikan kontak senjata mutlak berada di tangan mereka.
Baca Juga: Kelakuan Zionis! Diam-diam Israel Tebang Ratusan Pohon Zaitun, Kenapa Gak Pohon Gharqad?
"Kamilah yang akan menentukan akhir perang," demikian pernyataan IRGC pada Selasa (10/3), seperti dikutip AFP.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran tidak merasa terikat dengan tekanan politik dari pihak Barat maupun sekutunya.
Mereka merasa memiliki supremasi militer yang cukup untuk mendikte jalannya konflik di masa yang akan datang.
Klaim ini mempertegas posisi tawar Iran yang semakin kuat di tengah dinamika keamanan global yang tidak menentu.
Kini dunia menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak yang terus bersitegang di jalur militer.
Kesiapan penggunaan hulu ledak satu ton menjadi sinyal bahwa eskalasi besar mungkin saja terjadi sewaktu-waktu.