Uni Eropa mengalami kerugian biaya impor energi sebesar 25 miliar euro akibat konflik.
Kenaikan harga bahan bakar tidak dibarengi dengan penambahan volume pasokan energi ke kawasan.
Gangguan distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak global.
Suara.com - Perang konflik bersenjata Amerika Serikat vs Iran memaksa Uni Eropa merogoh kocek lebih dalam hingga 25 miliar euro untuk biaya energi.
Anggaran setara Rp505 triliun tersebut terbuang hanya untuk menutupi kenaikan harga tanpa ada tambahan volume energi sedikit pun.
Dikutip dari Sputnik, kondisi ini menempatkan stabilitas ekonomi kawasan dalam tekanan besar akibat ketergantungan pada pasokan bahan bakar fosil luar negeri.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Para pemimpin Benua Biru kini mulai menyusun strategi ketahanan untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika krisis meluas.
Pertemuan di Siprus menjadi momentum penting bagi negara anggota untuk mengevaluasi kerangka keuangan jangka panjang mereka.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa beban finansial ini adalah konsekuensi langsung dari instabilitas geopolitik.

"Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan kita untuk impor bahan bakar fosil telah melonjak lebih dari 25 miliar euro tanpa adanya tambahan energi sedikit pun," kata von der Leyen.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa rapuhnya rantai pasok energi global saat jalur perdagangan utama terganggu.
Selain masalah biaya, Uni Eropa saat ini sedang menggodok langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya kelangkaan listrik massal.
Otoritas terkait berusaha tetap tenang dengan menyatakan bahwa situasi saat ini belum masuk kategori bencana besar.
Krisis ini semakin memanas setelah adanya aksi militer gabungan yang menargetkan infrastruktur di wilayah Iran.
Serangan yang terjadi pada akhir Februari lalu memicu gelombang balasan terhadap fasilitas militer di kawasan strategis tersebut.
Meskipun sempat ada pengumuman gencatan senjata singkat, kecemasan pasar terhadap keamanan distribusi energi tetap tinggi.
Fokus utama kekhawatiran terletak pada kelancaran lalu lintas kapal tanker yang melewati wilayah Selat Hormuz.
Hambatan di jalur vital ini secara otomatis mendongkrak harga komoditas minyak dan gas bumi di pasar internasional.