- BPI Danantara mencatatkan peningkatan ROA lebih dari 300 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
- Presiden Prabowo menyatakan kinerja ini membuktikan kebijakan konsolidasi pengelolaan perusahaan negara melalui Danantara tepat.
- Prabowo menekankan target minimal ROA 10 persen untuk perusahaan sehat guna memaksimalkan kontribusi negara.
Suara.com - Tingkat pengembalian aset atau return on asset (ROA) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) meningkat lebih dari 300 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Capaian tersebut membuat Presiden Prabowo Subianto bangga dengan kinerja Danantara, terutama setelah menerima laporan peningkatan kinerja aset yang signifikan dalam satu tahun terakhir.
“Saya dapat laporan, saya cukup gembira. Return on asset satu tahun, 2025 dibandingkan tahun sebelumnya sudah naik lebih dari 300 persen. Ini cukup baik,” kata Prabowo dalam acara syukuran satu tahun berdirinya Danantara di Wisma Danantara Indonesia, Rabu (11/3/2026).
Prabowo menilai peningkatan tersebut membuktikan bahwa kebijakan pemerintah membentuk Danantara untuk mengonsolidasikan pengelolaan perusahaan negara berada di jalur yang tepat.
Menurut Prabowo, manajemen yang terpusat menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja perusahaan milik negara yang sebelumnya tersebar dalam banyak entitas.
“Ini membuktikan premis kita mendirikan Danantara ini, bahwa tidak mungkin satu manajemen yang baik kalau tidak berada dalam satu kendali, satu tangan, dan satu manajemen,” kata Prabowo.
Prabowo mengungkapkan sebelumnya ia mengira jumlah perusahaan negara yang harus dikelola sekitar 250 entitas. Tetapi setelah ditelusuri, jumlahnya mencapai lebih dari seribu perusahaan jika termasuk anak, cucu, hingga cicit perusahaan.
“Tidak mungkin kita mengelola 250 perusahaan. Bahkan ternyata saya baru tahu bukan 250, tetapi lebih dari seribu perusahaan. Tidak ada pelajaran manajemen di mana pun di dunia bahwa satu manajemen bisa mengelola seribu entitas,” kata Prabowo.
Prabowo turut menyoroti sejarah pembentukan perusahaan negara sejak awal kemerdekaan yang bertujuan membangun industri strategis nasional, mulai dari industri tekstil, kertas, hingga farmasi.
Baca Juga: Kapolri Ungkap Pesan Prabowo: TNI-Polri Harus Bersatu, Jangan Sampai Terpecah
Namun seiring waktu, banyak BUMN berkembang dengan membentuk berbagai anak perusahaan yang jumlahnya semakin besar.
Ia mencontohkan PT Pertamina (Persero) yang disebut memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan. Prabowo menilai konsolidasi manajemen melalui Danantara diperlukan agar pengelolaan aset negara lebih efisien dan transparan.
“Anehnya lagi, ada peraturan yang lebih aneh: kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya cucu perusahaan tidak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?” kata Presiden.
Dengan kondisi tersebut, kepala negara semakin yakin bahwa pendirian Danantara merupakan langkah yang tepat, terutama untuk mengamankan aset-aset negara yang sangat besar dan tersebar di berbagai BUMN.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan bahwa capaian saat ini masih jauh dari target ideal yang ingin dicapai pemerintah. Menurutnya, perusahaan yang sehat seharusnya memiliki tingkat pengembalian aset minimal 10 persen.
“Perusahaan yang baik, return on asset-nya harus minimal 10 persen. Kalau yang bagus 12 persen, yang hebat 15 persen. Kita harus memiliki target yang bagus, yaitu 10 persen,” kata Prabowo.