- Iran mengejek AS setelah Menteri Energi Chris Wright menghapus postingan yang mengklaim Angkatan Laut AS mengawal tanker di Selat Hormuz.
- Gedung Putih dan militer AS membantah klaim tersebut, sementara Iran menuduh Washington menyebar berita palsu untuk memanipulasi pasar.
- Insiden ini terjadi di tengah terhentinya lalu lintas di Hormuz, meroketnya harga minyak, dan penolakan publik AS terhadap perang.
Suara.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf secara terbuka mengejek Amerika Serikat (AS) setelah salah satu pejabat tinggi mereka membuat klaim yang kemudian dihapus.
Ejekan tersebut merupakan buntut dari blunder Menteri Energi AS Chris Wright yang mengunggah lalu menghapus klaim bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Gedung Putih dengan cepat menyangkal pernyataan tersebut dan menyebutnya tidak akurat, sementara para pejabat Iran menuding Washington menyebarkan misinformasi untuk memanipulasi pasar minyak global.
Kontroversi ini bermula ketika Wright mengunggah sebuah postingan di media sosial pada pukul 13.02 waktu setempat.
Dalam unggahannya, ia mengklaim bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah tanker minyak melewati jalur perairan strategis tersebut.
![Donald Trump (tengah) [White House]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/11/93032-donald-trump.jpg)
Ia bahkan memuji pemerintahan Presiden Donald Trump karena telah "menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran."
Namun, unggahan tersebut dihapus dalam waktu kurang dari 30 menit tanpa ada penjelasan lebih lanjut.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mengklarifikasi bahwa tidak ada pengawalan semacam itu yang pernah terjadi.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS tidak mengawal sebuah tanker atau kapal apa pun saat ini," kata Karoline Leavitt dikutip dari Tasnim News.
Dia menambahkan bahwa meskipun pengawalan militer tetap menjadi salah satu opsi, belum ada operasi yang dilakukan hingga hari Selasa.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menolak postingan yang dihapus oleh Wright tersebut dan menyebutnya sebagai misinformasi yang disengaja.
"Pejabat AS mengunggah berita palsu untuk memanipulasi pasar," kata Abbas Araqchi
"Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika."
Araqchi lebih lanjut memperingatkan bahwa pasar minyak global menghadapi "kekurangan terbesar dalam sejarah," yang dampaknya melampaui gabungan Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait.
Jenderal Dan Caine, kepala Kepala Staf Gabungan AS, turut membantah klaim Wright pada hari Selasa.
Ia mengonfirmasi bahwa belum ada operasi militer untuk melindungi tanker minyak di selat tersebut yang dimulai.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim krusial yang menangani lebih dari 20% pasokan minyak dunia.
Namun, sejak AS dan Israel melancarkan agresi militer terhadap Iran pada 28 Februari, lalu lintas komersial melalui selat tersebut terhenti karena kekhawatiran akan adanya serangan balasan dari Iran.
Gangguan di Hormuz telah membuat harga minyak meroket, dengan Asosiasi Otomotif Amerika melaporkan lonjakan harga bensin sebesar 43 sen di AS selama seminggu terakhir.
Penolakan publik terhadap perang dengan Iran tetap tinggi di AS, di mana sebuah jajak pendapat menunjukkan 53% pemilih sangat menentang tindakan militer terhadap Iran.